6 Kapal BBM ke Australia Tertunda Imbas Konflik Timur Tengah
Pemerintah Australia mengungkapkan ada enam kapal tanker bahan bakar (BBM) yang dijadwalkan tiba dalam waktu dekat, namun mengalami pembatalan atau penundaan pengiriman imbas konflik di Timur Tengah.
Menteri Energi Australia Chris Bowen mengatakan enam kapal tersebut merupakan bagian dari sekitar 81 pengiriman yang dijadwalkan tiba antara pertengahan April hingga pertengahan Mei.
Meski demikian, Bowen menegaskan sebagian pasokan yang tertunda telah digantikan oleh sumber lain.
"Beberapa di antaranya sudah digantikan oleh importir dan kilang dengan sumber alternatif," kata Bowen, seperti dikutip dari ABC.
Ia mengakui pasokan energi global saat ini berada dalam kondisi menantang, terutama karena aliran minyak ke kilang di Asia melambat, yang turut berdampak ke Australia.
Namun, pemerintah memastikan pasokan bahan bakar domestik masih relatif stabil dalam jangka pendek.
"Kami masih memiliki dua kilang yang beroperasi penuh, kapal-kapal juga terus datang, dan importir bekerja sama dengan pemerintah untuk menggantikan pengiriman yang tertunda," ujarnya.
Dampak Blokade Selat Hormuz
Gangguan pasokan ini tak lepas dari langkah Iran untuk memblokade Selat Hormuz, jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dunia.
Penutupan jalur tersebut turut memukul pasokan ke kilang Asia yang selama ini menjadi pemasok utama Australia.
Sejumlah negara seperti China dan Thailand bahkan dilaporkan mulai membatasi ekspor bahan bakar untuk menjaga kebutuhan domestik.
Di sisi lain, perusahaan energi global seperti ExxonMobil, BP, dan Vitol disebut meningkatkan pengiriman minyak ke Australia untuk menutup kekurangan pasokan dari Asia.
Namun, jalur alternatif ini dinilai lebih mahal karena kapal tanker harus menempuh rute lebih jauh, termasuk dari Teluk Meksiko.
Terganggunya pasokan ini juga mendorong lonjakan harga minyak global, yang berdampak langsung pada kenaikan harga bensin dan solar di Australia.
Kenaikan harga energi juga dinilai berpotensi memperburuk tekanan inflasi. Pemerintah Australia bahkan memperkirakan harga energi tidak akan kembali ke level sebelum konflik dalam waktu dekat.
Bendahara Negara Australia, Jim Chalmers sebelumnya menyebut harga kemungkinan tetap tinggi sepanjang tahun ini, bahkan bisa bertahan hingga tiga tahun jika konflik berlarut-larut.
Meski ada gangguan pasokan, Bowen menegaskan Australia masih jauh dari kondisi krisis yang memerlukan pembatasan bahan bakar.
"Kami masih sangat jauh dari itu," kata Bowen.
Ia menjelaskan sebagian besar pengiriman tetap berjalan, sehingga gangguan yang terjadi kemungkinan hanya bersifat sementara.
"Saya memahami jika ada kekhawatiran semua kapal akan berhenti sekaligus, tapi itu sangat kecil kemungkinannya. Yang lebih mungkin adalah adanya gangguan pasokan secara bertahap," pungkasnya.
Saat ini, cadangan bahan bakar Australia diperkirakan cukup untuk sekitar 38 hari untuk bensin, serta masing-masing 30 hari untuk diesel dan bahan bakar jet.
Pemerintah Australia pun mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan pembelian berlebihan, karena lonjakan permintaan justru dapat memperparah gangguan distribusi di sejumlah wilayah.
(anm/ins)