Sempat Ultimatum, Trump Melunak dan Tunda Serangan ke Iran

CNN Indonesia
Selasa, 24 Mar 2026 11:10 WIB
Trump menyatakan keputusan itu diambil setelah adanya komunikasi yang ia sebut 'baik dan produktif' antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir. (FOTO:REUTERS/Kenny Holston/The New York Times)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana serangan militer terhadap fasilitas energi Iran selama lima hari, setelah sebelumnya melontarkan ultimatum keras terkait pembukaan Selat Hormuz.

Melansir dari Al Jazeera, Trump menyatakan keputusan itu diambil setelah adanya komunikasi yang ia sebut 'baik dan produktif' antara Washington dan Teheran dalam beberapa hari terakhir.

"Saya telah menginstruksikan Departemen Pertahanan untuk menunda semua serangan terhadap pembangkit listrik dan infrastruktur energi Iran selama lima hari," tulis Trump melalui platform Truth Social.

Ia mengklaim kedua pihak memiliki titik kesepakatan besar dan membuka peluang tercapainya kesepakatan untuk meredakan konflik di Timur Tengah.

Trump juga menyebut Iran ingin mencapai kesepakatan dan pembicaraan masih terus berlangsung, meski belum ada jaminan hasil akhir.

Dalam pernyataan sebelumnya, Trump memberi waktu 48 jam kepada Iran untuk membuka Selat Hormuz. Ia bahkan mengancam akan menghancurkan pembangkit listrik Iran jika tuntutan itu tidak dipenuhi.

Penutupan Selat Hormuz sendiri berdampak besar terhadap pasokan energi global. Jalur tersebut dilalui sekitar 20 persen distribusi minyak dan gas dunia.

Meski Trump mengklaim adanya kemajuan diplomatik, pejabat Iran justru membantah adanya pembicaraan langsung dengan AS.

Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf menegaskan tidak ada negosiasi yang dilakukan, dan menuduh Trump berupaya memanipulasi pasar energi global.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran Esmaeil Baghaei juga menyatakan posisi Teheran tidak berubah, termasuk terkait Selat Hormuz dan syarat penghentian perang. Namun, ia mengakui Iran menerima pesan dari sejumlah negara yang menjadi perantara komunikasi.

Perang AS-Israel dengan Iran yang berlangsung sejak akhir Februari telah memicu serangan balasan di kawasan Timur Tengah, termasuk terhadap infrastruktur energi dan negara-negara Teluk.

Situasi ini mendorong lonjakan harga minyak global dan meningkatkan kekhawatiran krisis energi dunia.

Trump sendiri menyatakan Selat Hormuz berpotensi kembali dibuka jika kesepakatan tercapai.

[Gambas:Video CNN]

(anm/ins)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK