Sebulan Perang, AS Klaim Sepertiga Rudal Iran Berhasil Dihancurkan

CNN Indonesia
Sabtu, 28 Mar 2026 19:05 WIB
Ilustrasi. AS klaim menghancurkan sepertiga persenjataan rudal Iran, namun sisa rudal masih menjadi ancaman. Serangan berlanjut untuk melemahkan militer Iran. (Foto: Majid Asgaripour/WANA (West Asia News Agency) via REUTERS)
Jakarta, CNN Indonesia --

Amerika Serikat memastikan sepertiga persenjataan rudal Iran yang sangat besar berhasil dihancurkan, setelah perang antara selama satu bulan.

Sementara, status sekitar sepertiga persenjataan rudal lainnya belum jelas. Namun, serangan udara AS diyakini sudah merusak, menghancurkan, atau memaksa rudal-rudal itu disembunyikan di terowongan bawah tanah dan bunker.

Melansir Reuters pada Sabtu (28/3), informasi ini disampaikan oleh beberapa sumber intelijen AS yang enggan disebutkan namanya karena sifatnya sensitif.

Salah satu sumber intelijen mengatakan kemampuan drone juga dipantau, dengan kepastian bahwa sekitar sepertiganya sudah berhasil dihancurkan.

Penilaian ini, yang belum pernah dipublikasikan sebelumnya, menunjukkan bahwa meski banyak rudal Iran rusak atau tak bisa digunakan, Teheran masih memiliki persediaan besar. Bahkan, beberapa rudal yang terkubur atau rusak kemungkinan bisa dipulihkan kembali usai perang berakhir.

Informasi ini berbeda dengan pernyataan Presiden AS Donald Trump. Sebelumnya, Trump menyebut Iran hanya memiliki sedikit roket tersisa.

Sementara itu, sumber intelijen menilai sisa rudal dan drone Iran tetap menjadi ancaman bagi operasi AS di masa depan, terutama untuk melindungi jalur vital Selat Hormuz.

Melansir laporan Reuters, Amerika Serikat sedang mempertimbangkan mengerahkan pasukan ke perairan Iran di sekitar Selat Hormuz. Namun, langkah ini diprediksi bisa memperparah konflik.

Seorang pejabat Pentagon menambahkan bahwa serangan rudal dan drone Iran sudah berkurang sekitar 90% sejak perang dimulai. Ia juga menyebut pasukan AS telah merusak atau menghancurkan lebih dari dua pertiga fasilitas produksi rudal, drone, dan angkatan laut Iran.

Pemerintahan Trump menyatakan bahwa tujuan utamanya adalah melemahkan militer Iran dengan menenggelamkan armada laut, menghancurkan rudal dan drone, serta memastikan Iran tak pernah memiliki senjata nuklir.

Komando Pusat AS menyebut operasi "Epic Fury" berjalan sesuai jadwal, bahkan lebih cepat dari rencana awal sejak serangan AS dan Israel dimulai pada 28 Februari.

Hingga Rabu, serangan AS telah menghantam lebih dari 10.000 sasaran militer Iran. Komando Pusat mengatakan 92 persen kapal besar angkatan laut Iran sudah ditenggelamkan.

Militer AS juga merilis foto serangan terhadap pabrik-pabrik senjata, menegaskan bahwa target mereka bukan hanya persediaan rudal dan drone, tetapi juga industri yang memproduksinya.

Komando Pusat AS tidak mengungkap secara pasti berapa banyak rudal atau drone Iran yang sudah dihancurkan. Salah satu sumber mengatakan, kendalanya adalah sulit menentukan jumlah rudal yang disimpan Iran di bunker bawah tanah sebelum perang dimulai.

AS juga belum pernah mengungkapkan perkiraan stok rudal Iran sebelum konflik.

Pejabat militer Israel memperkirakan Iran memiliki sekitar 2.500 rudal balistik yang bisa mencapai Israel sebelum perang. Mereka menyebut lebih dari 335 peluncur rudal sudah "dinetralkan", atau sekitar 70 persen dari kapasitas peluncuran Iran.

Namun, Israel belum secara terbuka menyebut berapa banyak rudal yang masih dimiliki Iran. Secara internal, mereka mengakui bahwa menghancurkan sisa 30 persen kapasitas Iran akan jauh lebih sulit.

Meski terus digempur AS dan Israel, Iran menunjukkan bahwa persediaan senjata mereka masih jauh dari habis. Pada Kamis, Iran buktinya mampu menembakkan 15 rudal balistik dan 11 drone ke Uni Emirat Arab.

Iran juga memperlihatkan kemampuan baru. Pekan lalu, pasukan mereka untuk pertama kalinya meluncurkan rudal jarak jauh yang menargetkan pangkalan militer AS-Inggris di Diego Garcia, Samudra Hindia.

Seorang pejabat senior AS meragukan kemampuan Amerika untuk menilai secara akurat jumlah rudal Iran. Salah satu alasannya, tidak jelas berapa banyak rudal yang disimpan di bunker bawah tanah dan bisa diakses.

Menteri Pertahanan Pete Hegseth juga menyoroti tantangan dari jaringan terowongan Iran.

"Iran adalah negara yang luas. Sama seperti Hamas di Gaza, mereka mengalirkan bantuan dan pembangunan ke dalam terowongan dan roket," kata Hegseth.

"Namun kami memburu mereka secara sistematis, tanpa ampun, dengan kekuatan luar biasa-seperti yang tidak bisa dilakukan militer lain di dunia. Hasilnya sudah terlihat," lanjut dia.

(dmi/dmi)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK