Sejumlah Kapal Mulai Berhasil Lintasi Selat Hormuz
Sejumlah kapal mulai kembali melintasi Selat Hormuz di tengah pembatasan akses akibat perang Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Perusahaan intelijen maritim, Windward, mencatat jumlah kapal yang melintas menunjukkan tren peningkatan.
Windward mencatat sebanyak 16 kapal melintas pada Rabu (1/4). Ini menandai kenaikan jumlah kapal yang melintas selama tiga hari berturut-turut.
Seluruh kapal tersebut diketahui menggunakan jalur melalui Pulau Larak. Windward menilai, tren ini menunjukkan semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mendapatkan akses melintas.
"Hal ini menunjukkan semakin banyak negara yang bernegosiasi dengan Iran untuk mendapatkan akses, serta mengindikasikan jumlah transit berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan," demikian laporan Windward melansir Al Jazeera.
Teranyar, data pelacakan maritim dari Marine Traffic menyebutkan kapal dari Prancis, Jepang, dan Oman berhasil melintasi selat Hormuz pada Kamis (2/4).
Mengutip AFP, kapal Kribi berbendera Malta milik grup transportasi maritim Prancis, CMA GGM, melintasi perairan tersebut untuk meninggalkan Teluk Persia pada Kamis sore.
Data navigasi memperlihatkan kapal tersebut melintasi Selat Hormuz melalui rute yang disetujui Iran.
Tiga kapal tanker milik Oman dan Jepang juga melintasi Selat Hormuz pada hari yang sama. Ketiga kapal mengambil rute alternatif jalur selatan.
Ada juga kapal Sohar LNG yang dimiliki oleh perusahaan pelayaran Jepang, Mitsui O.S.K. Ia menjadi kapal Jepang pertama yang keluar dari wilayah Teluk sejak awal perang.
Kapal New Vision yang berbendera Hong Kong juga diperkirakan akan berlabuh di Le Havre, Prancis, Sabtu (4/4). Kapal ini melintasi Selat Hormuz pada 1 Maret lalu, tepat setelah perang dimulai.
Meski demikian, volume lalu lintas masih jauh di bawah kondisi normal. Tercatat, ada 221 kapal komoditas yang telah melintasi Selat Hormuz sejak 1 Maret. Sementara sebelum perang, jalur ini menangani sekitar 120 kapal per harinya.
Negara yang telah mendapatkan izin Iran
Di tengah kondisi tersebut, Iran diketahui membuka akses terbatas bagi sejumlah negara untuk tetap melintasi jalur strategis tersebut.
Kebijakan ini memungkinkan kapal dari negara tertentu tetap beroperasi di jalur yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas dunia, meski Iran sebelumnya membatasi akses sebagai respons atas serangan militer.
Windward menyebut langkah Iran menunjukkan adanya 'blokade selektif' yang memberi ruang bagi negara sekutu atau mitra untuk tetap melintas.
"Rute baru ini menunjukkan bagaimana blokade selektif Iran memungkinkan sekutu dan pendukungnya melakukan transit," tulis laporan tersebut.
Sejumlah negara yang kapalnya telah diizinkan melintasi Selat Hormuz antara lain:
1. Pakistan (dilaporkan berhasil melintas)
2. India (dilaporkan berhasil melintas)
3. Prancis (dilaporkan berhasil melintas)
4. Jepang (dilaporkan berhasil melintas)
5. Oman (dilaporkan berhasil melintas)
6. Turki (telah mendapat izin)
7. China (telah mendapat izin)
8. Spanyol (telah mendapat izin)
9. Rusia (telah mendapat izin)
10. Irak (telah mendapat izin)
11. Bangladesh (telah mendapat izin)
12. Malaysia (telah mendapatkan izin)
13. Indonesia (telah mendapatkan izin)
Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Vahd Nabyl menyebut, ada respons positif dari Iran terkait perlintasan kapal milik Pertamina.
"Terdapat pertimbangan positif Pemerintah Iran atas keamanan perlintasan kapal milik Pertamina Group di Selat Hormuz," ujarnya.
Namun, Iran menegaskan kapal dari Amerika Serikat, Israel, dan negara yang dianggap sebagai musuh tidak diperbolehkan melintas.
(dhz/asr)