Macron Serukan Jangan Jadi Kacung Amerika-China, Hegemoni AS Melemah?
Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak negara-negara di seluruh dunia agar tidak menjadi 'bawahan' atau kacung dua kekuatan dunia, Amerika Serikat dan China.
Desakan tersebut disampaikan Macron selama kunjungannya ke Korea Selatan pada Jumat (3/4) ketika perang AS-Israel lawan Iran belum mereda.
"Saya pikir tujuan kita bukanlah menjadi bawahan dari dua kekuatan hegemonik [AS dan China]. Kita tidak ingin bergantung pada dominasi, katakanlah, China. Kita juga tidak ingin terlalu terpapar pada ketidakpastian AS," ujar Macron saat bertemu dengan mahasiswa di Yonsei University, Seoul, melansir TASS.
Hegemoni AS melemah?
Pernyataan itu dikeluarkan salah satu pemimpin negara Eropa, yang saat perang sedang berlangsung tak mau ikut ajakan Presiden AS Donald Trump.
Trump pernah mengajak para pemimpin Eropa untuk bersama-sama gempur Iran. Namun tak ada satu pun yang memberikan respons, termasuk ajakan membuka Selat Hormuz.
Carlo Norrlof penulis di laman project.synducate.org mengatakan jaringan keamanan global yang selama ini membedakan kekuatan AS membutuhkan waktu beberapa generasi untuk dibangun.
"Tetapi sekarang sedang runtuh di bawah kepemimpinan Donald Trump. Dengan mitra tradisional yang memilih untuk menarik diri dari perang melawan Iran, kita mungkin akan menyaksikan berakhirnya supremasi global yang selama ini selalu dianggap sebagai hal yang wajar oleh sebagian besar warga Amerika yang hidup saat ini," kata Norrlof.
Krisis yang kacau di Selat Hormuz telah memperjelas bagaimana kekuasaan bekerja di abad ke-21 dan AS tampak tak bisa berbuat banyak.
"Hegemoni global" dapat didefinisikan sebagai situasi di mana satu negara-bangsa memainkan peran dominan dalam mengatur, mengendalikan, dan menstabilkan ekonomi politik dunia.
Penggunaan kekuatan bersenjata selalu menjadi bagian yang tak terpisahkan dari hegemoni, tetapi kekuatan militer bergantung pada sumber daya ekonomi yang dimiliki negara.
Kekuatan militer tidak dapat digunakan untuk menjawab setiap ancaman terhadap kepentingan geopolitik dan ekonomi, dan hal itu menimbulkan bahaya kesewenang-wenangan.
(imf/bac)