Beda Laporan Badan Intel AS Ungkap Trump Kecele 'Senjata Palsu' Iran

CNN Indonesia
Selasa, 07 Apr 2026 11:15 WIB
Badan intelijen AS meragukan klaim capaian perang di Iran yang kerap digembar-gemborkan Presiden Donald Trump, mengungkap AS justru terkecoh taktik Teheran.
Badan intelijen AS meragukan klaim capaian perang di Iran yang kerap digembar-gemborkan Presiden Donald Trump, mengungkap AS justru terkecoh taktik Teheran. (Foto: REUTERS/Kevin Lamarque)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump kekeh menekankan 'prestasi' Amerika Serikat selama berperang dengan Iran sejak akhir Februari lalu.

Pentagon dan Gedung Putih mengeklaim telah mencapai kemajuan signifikan dalam perang melawan Iran. Dalam sebuah konferensi pers, Pentagon bahkan menyatakan AS berhasil menyerang 11.000 target di Iran selama lima pekan berperang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun, alih-alih menyerah dan manut terhadap permintaan AS, Iran masih kokoh menolak negosiasi dengan Negeri Paman Sam.

Teheran bahkan masih getol melancarkan serangan rudal dan drone ke Israel dan negara-negara di Timur Tengah lainnya, hingga menutup Selat Hormuz terlepas dari ultimatum Trump akan menjadikan Iran 'neraka'.

Meski begitu, intensitas serangan Iran memang jauh berkurang jika dibandingkan di awal masa perang pecah pada 28 Februari lalu.

Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio yang juga menjabat sebagai penasihat keamanan nasional AS menyebut "penurunan drastis" kemampuan peluncuran rudal Iran ini sebagai salah satu tujuan utama perang Amerika.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Pete Hegseth berulang kali menyoroti kerusakan yang ditimbulkan serangan AS dan Israel terhadap Iran setiap ditanya apa yang berhasil dicapai Amerika selama perang.

[Gambas:Video CNN]

"Ya, mereka masih akan menembakkan beberapa rudal, tetapi kami akan mencegatnya," kata Hegseth pada Senin.

"Tapi, yang patut dicatat, dalam 24 jam terakhir jumlah rudal dan drone musuh yang diluncurkan Iran adalah yang paling rendah. Mereka akan bersembunyi di bawah tanah, tetapi kami akan menemukannya," paparnya menambahkan seperti dikutip The New York Times.

Juru bicara Gedung Putih, Anna Kelly, juga membela capaian perang AS di Iran tersebut dengan mengeklaim jumlah serangan rudal Iran menurun 90 persen dari masa awal perang.

"Faktanya: serangan rudal balistik dan drone Iran turun 90 persen, angkatan laut mereka hancur, dua pertiga fasilitas produksi mereka rusak atau hancur, dan Amerika Serikat serta Israel memiliki dominasi udara yang luar biasa atas Iran," kata Kelly dalam sebuah pernyataan.

Namun, sejumlah badan intelijen AS meragukan jumlah penurunan intensitas serangan udara Iran dapat dianggap sebagai penapaian perang Washington.

Meski belum memiliki estimasi pasti mengenai jumlah peluncur yang tersisa, sejumlah badan intelijen AS menyatakan Iran masih mampu menggunakan sisa arsenal rudal balistik dan peluncurnya untuk menyerang Israel serta negara-negara lain di kawasan.

Badan intelijen AS juga meyakini Iran kini masih menyembunyikan lebih banyak peluncur di bunker dan gua untuk melindunginya dari serangan.

Para operator Iran juga dilaporkan menggali kembali bunker dan silo rudal bawah tanah yang sebelumnya telah dihantam bom AS dan Israel dan berhasil mengoperasikannya kembali hanya dalam hitungan jam setelah serangan.

Laporan badan intelijen AS tersebut juga menyebut Iran masih mempertahankan sejumlah besar rudal dan peluncur bergeraknya terlepas dari gempuran habis-habisan AS-Israel selama ini.

Iran disebut berupaya mempertahankan sebanyak mungkin kapasitas peluncuran rudalnya agar tetap bisa memberi tekanan jika perang masih berlangsung berlarut-larut, atau sebagai alat ancaman terhadap kawasan setelah konflik berakhir.

Penyebab AS terkecoh taktik Iran

Jumlah serangan rudal Iran yang menurun juga disebut imbas ada perpecahan di internal Iran, terutama angkatan bersenjata soal strategi perang.

Mantan pejabat AS yang mengetahui situasi ini menyebut perpecahan di dalam pemerintahan Iran turut menghambat sistem komando dan kendali, sehingga menyulitkan peluncuran rudal dalam jumlah besar secara bersamaan.

Hal ini disebut menyebabkan AS makin sulit mengkalkulasi secara akurat perkiraan kekuatan rudal Iran saat ini.

Penilaian akurat terhadap kemampuan Iran saat ini juga terhambat oleh penggunaan umpan (decoy) dalam jumlah besar, sehingga AS tidak dapat memastikan berapa banyak peluncur yang benar-benar telah dihancurkan.

Meski AS memiliki estimasi jumlah peluncur sebelum perang, angka tersebut tidak sepenuhnya presisi.

Selain itu, sulit untuk memastikan berapa banyak peluncur yang berada di bunker atau gua yang telah diserang.

Bahkan ketika bunker, gua, atau silo bawah tanah tampak rusak, pada kenyataannya Iran mampu dengan cepat menggali kembali peluncur tersebut dan menggunakannya lagi.

CNN sebelumnya melaporkan bahwa Iran masih memiliki sekitar setengah dari total peluncur rudalnya. Para pejabat mengatakan angka tersebut berada dalam kisaran laporan intelijen, meski tidak memberikan jumlah pasti.

(rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]