AS Mulai Bombardir Pulau Minyak Kharg Iran Jelang Deadline Trump

CNN Indonesia
Selasa, 07 Apr 2026 19:45 WIB
Sejumlah ledakan mulai terdengar di pulau minyak Kharg Iran menjelang batas waktu ultimatum Trump.
AS mulai serang target militer di Pulau Kharg Iran jelang batas akhir ultimatum Trump. Foto: European Space Agency/AFP
Jakarta, CNN Indonesia --

Militer Amerika Serikat dilaporkan mulai meluncurkan serangan ke sejumlah target militer di Pulau Kharg Iran pada Selasa (7/4).

Media Iran, seperti diberitakan AFP, menyebut serangan tersebut menghantam terminal ekspor minyak utama Iran di Pulau Kharg. Meski demikian serangan itu disebut tak berdampak pada infrastruktur minyak.

"Musuh Amerika-Zionis (Israel) telah meluncurkan beberapa serangan di pulau Kharg, dan beberapa ledakan telah terdengar di sana," demikian laporan kantor berita Iran, Mehr.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut unggahan jurnalis Barak Ravid dari situs berita Axios, mengutip seorang pejabat AS, mengungkap bahwa AS melakukan "serangan terhadap target militer" di pulau yang terletak di lepas pantai barat Iran tersebut.

Sementara itu laporan media Wall Street Journal mengatakan serangan terbaru AS itu menghantam sebanyak 50 target militer di Pulau Kharg.

Serangan ini terjadi beberapa jam sebelum batas waktu ultimatum Presiden AS Donald Trump, yang disebut akan "meratakan" Iran dan membuat negara itu "bak neraka" jika tak membuka Selat Hormuz.

Pulau Kharg adalah daratan karang yang luasnya sekitar sepertiga Manhattan, AS, dan terletak sekitar 25 kilometer dari pantai Iran di Teluk Persia. Warga mengenal Pulau Kharg sebagai "Pulau Terlarang" karena pengawasan militer yang ketat.

Sejak lama, Pulau Kharg menjadi tulang punggung ekonomi Iran. Dokumen CIA pada 1984 menyebut fasilitas di sana sebagai yang paling vital dalam sistem minyak Iran dan operasionalnya sangat penting bagi kesejahteraan ekonomi negara.

Iran sendiri tak menunjukkan tanda-tanda menyetujui ultimatum Trump untuk membuka Selat Hormuz paling lambat pada Selasa (7/4) malam waktu AS.

Jelang tenggat waktu itu, serangan terhadap Iran juga meningkat sepanjang hari, menghantam jembatan kereta api, jalan raya, bandara, dan pabrik petrokimia, serta merusak saluran listrik.

Sebuah sumber senior mengatakan Iran telah menolak proposal gencatan senjata selama 45 hari yang disampaikan oleh para mediator.

Iran menegaskan pembicaraan tentang perdamaian hanya dapat dimulai setelah AS dan Israel mengakhiri serangan mereka, memberikan jaminan bahwa mereka tidak akan melanjutkan serangan, dan menawarkan kompensasi atas kerusakan.

Sebelumnya Trump memberi tenggat waktu Selasa (7/4) malam untuk mengakhiri blokade minyak di Teluk. Trump mengancam jika Selat Hormuz tidak dibuka, dia bakal menghancurkan setiap jembatan dan pembangkit listrik di Iran dalam waktu empat jam.

(dna) Add as a preferred
source on Google