Balas Serangan ke Lebanon, Hizbullah Serang Pangkalan AL Israel

CNN Indonesia
Sabtu, 11 Apr 2026 04:30 WIB
Hizbullah serang pangkalan angkatan laut Israel di Ashdod sebagai balasan atas serangan udara Israel yang menewaskan ratusan orang di Lebanon selatan.
Ilustrasi. Rudal Iron Dome mencoba menghalau serangan roket di Ashdod, Israel. (AFP/AHMAD GHARABLI)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kelompok milisi Hizbullah melancarkan serangan rudal ke pangkalan angkatan laut Israel di Ashdod, Jumat (10/4).

Serangan itu terjadi dua hari setelah Israel menggempur Beirut melalui serangan udara yang menewaskan lebih dari 300 orang. Selain itu, pada Jumat ini Israel kembali menggempur sejumlah kota di Lebanon selatan--daerah yang menjadi basis Hizbullah.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Sebagai respons atas pelanggaran gencatan senjata oleh musuh serta serangan berulang mereka ke Beirut, dan meski [kelompok pejuang] Perlawanan telah mematuhi kesepakatan, sementara musuh [Israel] tidak, para pejuang Perlawanan Islam menargetkan... pangkalan angkatan laut di pelabuhan Ashdod dengan rudal," kata kelompok itu seperti dikutip dari AFP.

Selain itu, Hizbullah sebelumnya mengklaim telah menargetkan infrastruktur militer Israel di kota Haifa pada Kamis (9/4) malam. 

Sementara itu, mengutip dari Reuters, militer Israel menyatakan serangan Hizbullah memicu sirene peringatan serangan udara di sejumlah wilayah pendudukan, termasuk Tel Aviv.

Menurut laporan The Times of Israel, rudal yang diluncurkan berhasil dicegat sistem pertahanan Israel.

Militer Israel mengklaim telah menyerang sekitar 10 peluncur roket milik Hizbullah yang digunakan untuk menyerang wilayah utara Israel pada malam hari.

Serangan balasan berlangsung setelah pemboman besar-besaran Israel di Lebanon pada Rabu yang menewaskan lebih dari 300 orang.

Kemudian dalam serangan terbaru Israel pada Kamis malam dan Jumat pagi, mengutip dari Aljazeera, serangan roket dan jet-jet tempur Zionis menyasar target-target di sejumlah kota di Lebanon selatan.

Melansir dari kantor berita Lebanon, Aljazeera memberitakan jet-jet tempur Isarel menghantam sejumlah target di kota al-Majadel di distrik Tyre, Lebanon selatan. Selain itu laporan reporter Aljazeera di lapangan, militer Israel meledakkan sejumlah rumah di kota Haneen yang juga di Lebanon selatan.

Kemudian Israel juga dilaporkan melakukan serangan udara sejak dini hari tadi di kota Sarafand, Lebanon selatan.

Serangan Israel yang dibalas Hizbullah itu berlangsung kala Amerika Serikat dan Iran, sekutu milisi Hizbullah di Lebanon, sepakat gencatan senjata selama dua pekan.

Israel dan AS menyatakan Lebanon tidak termasuk dalam gencatan senjata dua minggu tersebut, yang dimaksudkan untuk membuka jalan negosiasi mengakhiri perang lima pekan antara AS-Israel melawan Iran.

Sebaliknya, Iran dan mediator Pakistan menyebut Lebanon termasuk dalam cakupan gencatan senjata, dan sejumlah pemimpin internasional juga menyerukan hal serupa.

Beberapa jam sebelum membuka peluang negosiasi, Netanyahu menegaskan Israel akan terus menyerang Hezbollah "dengan kekuatan, presisi, dan determinasi".

Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya 303 orang tewas dan lebih dari 1.000 lainnya luka-luka akibat serangan Israel pada Rabu. Serangan mematikan Israel ini juga mendorong Lebanon menetapkan Kamis sebagai hari berkabung nasional.

Presiden Lebanon Joseph Aoun mengatakan pihaknya tengah menempuh jalur diplomatik yang mulai mendapat respons positif dari komunitas internasional.

Kabinet Lebanon juga menginstruksikan aparat keamanan untuk membatasi kepemilikan senjata di Beirut hanya pada institusi negara, sebagai peringatan kepada Hezbollah.

"Angkatan bersenjata dan aparat keamanan diminta segera memperkuat penerapan penuh otoritas negara di wilayah Beirut dan memastikan monopoli senjata berada di tangan otoritas yang sah," ujar Perdana Menteri Nawaf Salam usai rapat kabinet seperti dikutip AFP.

Aoun selaku Presiden Lebanon kemudian menegaskan bahwa satu-satunya solusi bagi situasi yang berlangsung adalah tercapainya gencatan senjata.

"Saya telah mengatakan dan menegaskan kembali: saya tidak akan membiarkan konflik internal terjadi, dan semua pihak harus percaya pada negara dan kekuatan sahnya, karena tidak ada keselamatan tanpa itu," ujar mantan panglima militer Lebanon itu.

(rnp/kid) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]