Konflik Iran Picu Gelombang Anti-AS di Pakistan

CNN Indonesia
Minggu, 12 Apr 2026 05:15 WIB
Gelombang protes anti-AS disebut meluas di Pakistan usai dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel ke Iran.
Pengamanan lokasi tempat delegasi AS dan Iran bertemu di Islamabad, Pakistan. Foto: REUTERS/Waseem Khan
Jakarta, CNN Indonesia --

Gelombang protes anti-Amerika meluas di Pakistan setelah dimulainya operasi militer Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada 28 Februari 2026. Eskalasi tersebut memicu kekerasan di berbagai kota dan meningkatkan risiko keamanan bagi kepentingan AS di negara itu.

Dalam hitungan jam setelah serangan yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei, demonstrasi mulai muncul di depan fasilitas diplomatik Amerika di Pakistan. Pada 1 Maret, protes meluas dan berubah menjadi bentrokan yang mematikan.

Protes dilaporkan terjadi di sejumlah kota, termasuk Karachi, Islamabad, Lahore, Peshawar, serta wilayah utara seperti Skardu dan Gilgit. Mayoritas demonstran berasal dari komunitas Syiah yang menyuarakan solidaritas terhadap Iran dan mengecam serangan tersebut.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di Karachi, setidaknya 10 orang tewas dan puluhan lainnya luka-luka setelah massa mencoba memasuki kompleks Konsulat AS. Sementara di Islamabad, aparat keamanan menggunakan gas air mata dan peluru tajam ketika ribuan demonstran mencoba menuju kawasan diplomatik, mengakibatkan korban jiwa dan luka.

Menteri Dalam Negeri Pakistan Mohsin Naqvi meminta massa tetap tenang. Ia menyatakan, "kami berdiri bersama Anda," seraya menambahkan bahwa masyarakat Pakistan turut berduka atas peristiwa tersebut. Namun, pernyataan ini dinilai tidak meredakan situasi di lapangan.

Pemerintah kemudian mengerahkan pasukan tambahan dan memberlakukan jam malam selama tiga hari di wilayah Gilgit dan Skardu setelah bentrokan menewaskan sejumlah orang. Di Skardu, demonstran dilaporkan menyerang kantor United Nations Military Observer Group, sementara di Gilgit terjadi pembakaran fasilitas publik, termasuk kantor polisi dan bangunan lainnya.

Upaya pembakaran juga dilaporkan terjadi di sekitar Konsulat AS di Lahore. Secara keseluruhan, sedikitnya 24 orang tewas dan puluhan lainnya luka dalam rangkaian bentrokan di berbagai wilayah.

Pemerintah Pakistan mengutuk serangan terhadap Iran namun berupaya menjaga keseimbangan diplomatik. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menteri Luar Negeri Ishaq Dar menyatakan Pakistan "mengutuk keras serangan yang tidak beralasan terhadap Iran" dan menyerukan penghentian eskalasi melalui jalur diplomasi.

Perdana Menteri Shehbaz Sharif juga menyampaikan belasungkawa atas kematian Khamenei, dengan menyebut bahwa pemimpin negara seharusnya tidak menjadi target serangan.

Sikap AS terhadap Pakistan

Di sisi lain, Amerika Serikat merespons situasi keamanan yang memburuk dengan mengurangi aktivitas diplomatiknya di Pakistan. Konsulat AS di Karachi membatasi pergerakan staf, sementara konsulat di Peshawar menghentikan operasional sementara.

Departemen Luar Negeri AS juga memerintahkan evakuasi sebagian staf non-esensial dari Lahore dan Karachi, dengan alasan risiko keamanan. Status peringatan perjalanan untuk Pakistan tetap berada pada Level 3, atau "pertimbangkan kembali perjalanan," dengan sejumlah wilayah memiliki risiko lebih tinggi.

Protes anti-Amerika dilaporkan terus berlanjut beberapa hari setelah kejadian awal. Pakistan, yang memiliki populasi Syiah terbesar kedua di dunia setelah Iran, disebut mengalami peningkatan sentimen anti-AS di tengah konflik tersebut.

"Perkembangan ini menciptakan tantangan baru bagi pemerintah Pakistan dalam menjaga hubungan dengan Washington tanpa memicu tekanan domestik," ucap akademisi Dr Sakariya Kareem.

"Pemimpin Pakistan kini berada dalam posisi sulit untuk menyeimbangkan hubungan dengan AS tanpa memicu reaksi publik," sambungnya.

Di tengah situasi ini, China dinilai berpotensi memperoleh keuntungan strategis. Dengan berkurangnya kehadiran diplomatik AS dan meningkatnya sentimen anti-Amerika, posisi Beijing di Pakistan disebut semakin menguat.

Kareem menilai dinamika tersebut dapat berdampak pada proyek China-Pakistan Economic Corridor (CPEC), yang kembali mendapat perhatian dalam hubungan bilateral kedua negara.

Gesekan diplomatis

Ia juga mencatat bahwa rangkaian peristiwa, mulai dari penyerangan fasilitas diplomatik hingga evakuasi staf asing, mencerminkan perubahan signifikan dalam lingkungan keamanan di Pakistan.

"Ini bukan lagi sekadar ketegangan diplomatik, tetapi menunjukkan bahwa kehadiran Amerika telah menjadi target," tuturnya.

Apa yang terjadi di Pakistan sejak dimulainya konflik militer AS-Iran, kata Kareem, bukanlah hal yang kebetulan. Konsulat AS diserbu, staf dievakuasi, peringatan perjalanan ditingkatkan, layanan visa ditangguhkan, dan setidaknya 24 orang tewas dalam satu hari protes.

Menurut Kareem, ini bukanlah indikator gesekan diplomatik yang terkendali antara Washington dan Islamabad.

"Ini adalah penanda lingkungan di mana kehadiran Amerika telah menjadi beban dan target di Pakistan. Ini adalah gelombang baru sentimen anti-AS di Pakistan, yang tidak akan mereda dalam waktu dekat," sebut Kareem.

"Baik perwakilan sipil maupun militer Pakistan perlu menangani masalah ini dengan sangat hati-hati, tanpa memicu sentimen lokal, atau situasinya dapat memburuk dalam beberapa minggu mendatang," pungkasnya.

(dna) Add as a preferred
source on Google