Hungaria Mulai Pemilu Penentuan Nasib 16 Tahun Rezim Viktor Orban

CNN Indonesia
Minggu, 12 Apr 2026 14:10 WIB
Warga Hungaria mulai memberikan suara pada Minggu (12/4) dalam pemilihan umum yang berpeluang mengakhiri kekuasaan PM Viktor Orban selama 16 tahun terakhir.
Warga Hungaria mulai memberikan suara pada Minggu (12/4) dalam pemilihan umum yang berpeluang mengakhiri kekuasaan PM Viktor Orban selama 16 tahun terakhir. (AFP/ATTILA KISBENEDEK)
Jakarta, CNN Indonesia --

Warga Hungaria mulai memberikan suara pada Minggu (12/4) dalam pemilihan umum yang berpeluang mengakhiri kekuasaan Perdana Menteri Viktor Orban selama 16 tahun terakhir.

Bukan hanya itu, hasil pemilihan umum kali ini juga dinilai bisa mengguncang Rusia, dan mengirimkan gelombang kejutan ke kalangan sayap kanan di seluruh Barat, termasuk Gedung Putih juga Presiden AS Donald Trump.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Orban yang merupakan nasionalis euroskeptis dipandang sudah menciptakan model "demokrasi illiberal" dan dinilai sebagai cetak biru gerakan Make America Great Again (MAGA) Trump dan para pengagumnya di Eropa.

Meski begitu, pamor pria 62 tahun tersebut makin tenggelam di kalangan masyarakat Hungaria setelah tiga tahun stagnasi ekonomi dan melonjaknya biaya hidup, serta laporan tentang oligarki yang dekat dengan pemerintah yang mengumpulkan lebih banyak kekayaan.

Jajak pendapat menunjukkan partai Fidesz pimpinan Orban tertinggal dari partai oposisi tengah-kanan baru pimpinan Peter Magyar, Tisza, dengan selisih 7-9 persen, dengan Tisza memperoleh sekitar 38-41%.

Pemilu Hungaria ini sudah dimulai pukul 6 pagi waktu setempat, atau pukul 11.00 WIB, dan dijadwalkan berakhir pada pukul 19.00 waktu setempat atau tepat pada Minggu (12/4) tengah malam waktu Indonesia Barat.

"Saya pikir kita membutuhkan perubahan di negara ini," kata Mihaly Bacsi setelah memberikan suara untuk Tisza di sebuah tempat pemungutan suara di Budapest.

"Kita membutuhkan peningkatan suasana hati masyarakat, kita penuh dengan ketegangan di banyak bidang dan pemerintah saat ini hanya memicu sentimen ini," lanjut pemuda 27 tahun itu.

Ballot papers are placed on a Hungarian flag at a polling station in Budapest at the start of a general election in Hungary, on April 12, 2026. The vote could end Hungarian Prime Minister Viktor Orban's 16-year stint in power as the EU's longest serving current leader and a self-decribed Pemilu Hungaria ini sudah dimulai pukul 6 pagi waktu setempat, atau pukul 11.00 WIB, dan dijadwalkan berakhir pada pukul 19.00 waktu setempat atau tepat pada Minggu (12/4) tengah malam waktu Indonesia Barat. (AFP/FERENC ISZA)

Para peneliti jajak pendapat mengatakan pemilihan ini dapat menghasilkan rekor jumlah pemilih.

Pemungutan suara ini dipantau ketat di Brussels, dengan banyak negara anggota Uni Eropa mengkritik Orban, teman Presiden Rusia Vladimir Putin dan sekutu dekat Trump, atas apa yang mereka sebut sebagai erosi pemerintahan demokratis Hungaria, kebebasan media, dan hak-hak minoritas.

Sementara itu, bagi Ukraina yang merupakan tetangga timur Hongaria, kekalahan Orban dapat berarti pencairan pinjaman Uni Eropa senilai 90 miliar euro yang sangat penting untuk upaya perang Kyiv. Hal itu juga akan menghilangkan sekutu terdekat Rusia di Uni Eropa.

Orban menggambarkan pemilihan ini sebagai pilihan antara "perang dan perdamaian".

"Saya menantikan pemilihan hari Minggu dengan harapan terbaik," kata Orban kepada para pendukungnya di kota kelahirannya, Szekesfehervar.

"Jika kita mengenal diri kita sendiri dengan baik, jika kita mengenal negara kita dengan baik, dan jika kita mengenal rakyat kita dengan baik, maka saya harus mengatakan bahwa rakyat Hungaria akan memilih keamanan pada hari Minggu," tambahnya.

Peter Magyar (C), leader of the pro-European conservative TISZA party, prepares to cast his ballot at a polling station set up in a kindergarten in Budapest during a general election in Hungary, on April 12, 2026. The vote could end Hungarian Prime Minister Viktor Orban's 16-year stint in power as the EU's longest serving current leader and a self-decribed Dalam jajak pendapat sebelum pemilu, partai oposisi tengah-kanan baru pimpinan Peter Magyar, Tisza, unggul dengan selisih 7-9 persen, dengan Tisza memperoleh sekitar 38-41%. (AFP/FERENC ISZA)

Selama kampanye, pemerintah memasang umbul-umbul di seluruh negeri yang memperingatkan bahwa pemimpin Tisza, Magyar, akan menyeret Hungaria ke dalam perang Rusia dengan Ukraina. Tisza membantah keras tuduhan itu.

Untuk mengatasi peringkat popularitas yang hanya 8% di kalangan usia di bawah 30 tahun, Orban telah menghapus pajak penghasilan untuk pekerja termuda dan meluncurkan skema hipotek bersubsidi.

Skema itu diluncurkan untuk membantu pembeli rumah pertama kali memasuki pasar perumahan di tengah kenaikan harga rumah paling tajam di Uni Eropa di bawah pemerintahannya.

Namun, tawaran perubahan dari Magyar tampaknya lebih beresonansi dengan masyarakat yang menginginkan perubahan Hungaria.

"Ini akan menjadi referendum... tentang tempat negara kita dan masa depan negara kita," kata Magyar dalam kampanye terakhirnya di kota Miskolc di bagian timur pada Jumat (10/4).

Jika Tisza menang, membatalkan perubahan hukum dan kelembagaan yang telah dilakukan Orban mungkin akan menjadi tugas yang berat bagi pemerintahan baru jika mereka memiliki mayoritas sederhana di parlemen.

(reuters/end) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]