Presiden Iran Langsung Telepon Putin usai Negosiasi dengan AS Mandek

CNN Indonesia
Senin, 13 Apr 2026 06:35 WIB
Pertemuan Presiden Rusia Vladimir Putin (kiri) dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian (kanan) pada Januari 2025. Foto: via REUTERS/Vyacheslav Prokofyev
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Rusia Vladimir Putin mengatakan siap membantu menengahi upaya untuk mencapai perdamaian di Timur Tengah.

Hal ini disampaikan Putin saat berbicara melalui telepon dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian, usai negosiasi damai Iran dan Amerika Serikat di Pakistan berakhir mandek.

"Vladimir Putin menekankan kesiapannya untuk lebih memfasilitasi pencarian penyelesaian politik dan diplomatik atas konflik tersebut, dan untuk menengahi upaya mencapai perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah," demikian pernyataan kantor kepresidenan Rusia Kremlin, seperti dikutip Moscow Times.

Sementara itu, Presiden Pezeshkian dalam kesempatan itu juga menyampaikan terima kasih kepada Rusia atas bantuan kemanusiaan yang telah diberikan.

Menurut pernyataan Kremlin, Presiden Iran menyampaikan rasa terima kasih atas posisi prinsip Rusia termasuk di platform internasional, yang bertujuan untuk meredakan situasi.

"Untuk tujuan ini, Rusia akan terus melakukan kontak aktif dengan semua mitra di kawasan ini," lanjut pernyataan itu.

Panggilan telepon Pezeshkian dan Putin terjadi usai negosiasi AS-Iran pada Sabtu (11/4) kemarin gagal mencapai kesepakatan.

Wakil Presiden JD Vance yang memimpin delegasi AS langsung meninggalkan Pakistan setelah pembicaraan tersebut, dan memperingatkan bahwa Washington telah memberikan "tawaran terakhir dan terbaik" untuk Teheran.

"Kami pergi dari sini dengan proposal yang sangat sederhana. Kita akan lihat apakah Iran akan menerimanya," ujar Vance.

Sementara itu delegasi Iran yang dipimpin Ketua Parlemen Mohammad Bagher Ghalibaf mengatakan timnya telah mengajukan inisiatif yang konstruktif, namun pada akhirnya "pihak lain" tidak mampu mendapatkan kepercayaan delegasi Iran.

Laporan menyebut kedua pihak tidak dapat menyepakati siapa yang akan mengendalikan jalur pelayaran Selat Hormuz dan masalah pengayaan uranium.

Mandeknya pembicaraan ini memicu kekhawatiran berlanjutnya pertempuran, yang mendorong harga sektor energi dunia melambung tinggi, serta semakin merusak jalur pelayaran dan fasilitas minyak dan gas di Teluk.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK