Trump Tak Terima Dikritik Paus Leo soal Iran: Dia Orang Liberal
Presiden Amerika Serikat (AS) menyemprot pemimpin Gereja Katolik sedunia, Paus Leo XIV, tak terima dikritik atas kebijakannya terhadap Iran hingga Venezuela.
Dalam unggahan di media sosialnya pada Minggu (12/4), Trump blak-blakan mengatakan tak butuh seorang Paus yang berpikir bahwa AS telah melakukan hal sangat buruk dengan menyerang Venezuela dan Iran.
"Saya tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa tidak apa-apa bagi Iran untuk memiliki Senjata Nuklir. Saya (juga) tidak menginginkan seorang Paus yang berpikir bahwa sangat buruk bahwa Amerika menyerang Venezuela, sebuah negara yang mengirimkan sejumlah besar Narkoba ke Amerika Serikat dan, yang lebih buruk lagi, mengosongkan penjara mereka, termasuk para pembunuh, pengedar narkoba, dan penjahat, ke negara kami," tulis Trump di Truth Social, Minggu (12/4) malam.
Trump melanjutkan ia juga tak butuh Paus yang mengkritik Presiden Amerika Serikat karena melakukan "persis apa yang menjadi tujuan terpilih saya, yakni menetapkan angka kejahatan terendah sepanjang sejarah."
"Leo seharusnya bersyukur karena, seperti yang semua orang tahu, dia adalah kejutan yang mengejutkan. Dia tidak ada dalam daftar calon Paus, dan hanya ditempatkan di sana oleh Gereja karena dia orang Amerika, dan mereka berpikir itu akan menjadi cara terbaik untuk menghadapi Presiden Donald J. Trump," tulisnya.
Dalam kritikan panjang tersebut, Trump juga menyampaikan bahwa Paus Leo tak akan ada di Vatikan jika bukan karena ia menjabat di Gedung Putih.
Trump kemudian mengolok-olok lagi Paus Leo yang menurutnya "lemah dalam menangani kejahatan, lemah dalam menangani senjata nuklir" dan bertemu dengan simpatisan eks Presiden Barack Obama, David Axelrod, yang menurutnya merupakan sayap kiri radikal yang ingin jemaat gereja dan pendeta ditangkap.
"Leo harus memperbaiki perilakunya sebagai Paus, menggunakan akal sehat, berhenti melayani sayap kiri radikal, dan fokus menjadi Paus yang hebat, bukan malah menjadi politisi," tulisnya.
Trump lantas menekankan bahwa sikap sang Bapa Suci belakangan justru sangat menyakiti dirinya sendiri serta Gereja Katolik.
Dalam unggahan yang sama pula, Trump menyinggung kembali peristiwa ketika pandemi Covid-19 di mana para imam, pendeta, dan orang-orang lainnya ditangkap karena mengadakan Kebaktian Gereja. Peristiwa itu memicu "ketakutan" di kalangan jemaat padahal mereka sudah menerapkan protokol kesehatan yang berlaku.
"Saya lebih menyukai saudaranya, Louis, daripada dia, karena Louis sepenuhnya pendukung MAGA. Dia mengerti, dan Leo tidak!" tulis Trump.
Paus Leo merupakan paus pertama kelahiran AS. Ia belakangan vokal mengkritik kebijakan Trump, khususnya mengenai perang di Iran.
Dalam pidato pada Minggu Palma bulan lalu di Lapangan Santo Petrus Vatikan, Paus mengatakan Tuhan menolak doa para pemimpin yang memulai perang dan memiliki "tangan penuh dengan darah". Ia juga terang-terangan menyatakan konflik di Iran adalah peristiwa "mengerikan".
Selain mengenai Iran, Paus Leo juga mengkritik Trump atas kebijakan imigrasinya di AS.
"Seseorang yang mengatakan bahwa saya menentang aborsi tetapi setuju dengan perlakuan tidak manusiawi terhadap imigran di Amerika Serikat, saya tidak tahu apakah itu pro-kehidupan," kata Paus pada September lalu.
Dalam pernyataan kepada wartawan pada Minggu, Trump menegaskan bahwa ia "bukan penggemar berat" Paus Leo. Ia kemudian menuduh sang Bapa Suci merupakan tokoh liberal yang tak percaya pada upaya penghentian kejahatan.
"Dia orang yang sangat liberal dan dia adalah orang yang tidak percaya pada upaya untuk menghentikan kejahatan," kata Trump, seperti dikutip Reuters.
(blq/dna)