Presiden Pezeshkian Tegaskan Iran Pilih Negosiasi, Bukan Perang

CNN Indonesia
Kamis, 16 Apr 2026 05:00 WIB
Presiden Iran Pezeshkian menegaskan negaranya tidak menginginkan perang, melainkan jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian tegaskan Iran lebih pilih negosiasi daripada perang. (AFP/ATTA KENARE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Iran Masoud Pezeshkian menegaskan negaranya tidak menginginkan perang dengan Amerika Serikat, melainkan jalur negosiasi untuk mengakhiri konflik di Timur Tengah.

"Iran tidak menginginkan perang atau ketidakstabilan dan selalu mendorong dialog serta kerja sama konstruktif dengan negara lain," kata Pezeshkian di Telegram, dikutip Tass.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Namun, setiap upaya untuk memaksakan kehendak Iran dan membuatnya menyerah pasti akan gagal. Rakyat Iran tidak akan pernah menerima pendekatan seperti itu," tambahnya.

Pezeshkian juga mempertanyakan legitimasi serangan terhadap warga sipil dalam konflik yang berlangsung.

"Apa pembenaran yang ada dalam menargetkan warga sipil, elite, anak-anak, dan menghancurkan pusat-pusat vital, termasuk sekolah dan rumah sakit, dalam kerangka hukum internasional dan prinsip-prinsip kemanusiaan?" ujar Pezeshkian, dikutip Al Jazeera.

Negosiasi antara AS dan Iran di Islamabad pada Sabtu (11/4) gagal mencapai kesepakatan untuk mengakhiri konflik yang berlangsung.

Pembicaraan itu berlangsung hingga dini hari, dengan kedua negara tidak menemukan titik terang dalam beberapa pembahasan isu krusial.

"Berita buruknya adalah kami belum mencapai kesepakatan dan saya pikir itu berita buruk bagi Iran jauh lebih daripada bagi AS," kata Wakil Presiden JD Vance, kepala delegasi AS, kepada wartawan sesaat sebelum ia meninggalkan Islamabad.

"Jadi kami kembali ke AS tanpa mencapai kesepakatan. Kami telah menjelaskan dengan sangat jelas apa batasan kami," tambahnya, dikutip dari Reuters.

Namun, kebuntuan dalam negosiasi kedua negara mendorong pertimbangan putaran baru sebelum masa gencatan senjata dua pekan berakhir pada 21 April, atau untuk memperpanjangnya.

"Belum ada tanggal yang ditetapkan secara pasti, namun delegasi dari kedua pihak mengosongkan jadwal antara Jumat hingga Minggu," ujar seorang sumber senior dari Iran, dikutip Reuters.

(rnp/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]