Trump Ancam Rebut Uranium Iran Secara 'Paksa' jika Negosiasi Mentok

CNN Indonesia
Sabtu, 18 Apr 2026 18:15 WIB
Presiden Amerika Donald Trump. Foto: REUTERS/Elizabeth Frantz
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump memperingatkan bahwa Amerika Serikat akan mengambil kembali "debu nuklir" atau uranium Iran secara paksa, jika kesepakatan tidak tercapai.

Trump juga menolak wacana yang menyebut Iran bakal memberlakukan tarif bagi kapal-kapal yang melintasi Selat Hormuz.

"Kita akan masuk bersama Iran, dan kita akan mengambilnya (uranium) bersama-sama, dan kita akan membawanya kembali ke AS," kata Trump kepada wartawan, seperti dikutip Anadolu Agency.

"Jika kita tidak melakukan itu, kita akan mendapatkannya dalam bentuk yang berbeda, bentuk yang jauh lebih tidak ramah," imbuh Trump.

Trump bahkan sesumbar bakal mengambil uranium Iran menggunakan banyak ekskavator.

Saat ditanya apakah dia bakal memperpanjang gencatan senjata atau memulai kembali serangan ke Iran jika tak ada kesepakatan, Trump malah membuka kemungkinan untuk serangan baru.

"Mungkin, saya tidak akan memperpanjangnya, namun blokade akan tetap ada. Tetapi mungkin saya tidak akan memperpanjangnya, jadi Anda memiliki blokade, dan sayangnya, kita harus mulai menjatuhkan bom lagi," kata dia.

Soal pungutan tarif melintas Selat Hormuz, Trump menegaskan hal itu tidak mungkin akan terjadi.

"Pembatasannya adalah Anda tidak dapat memberlakukan pungutan tol. Tidak akan ada pungutan tol," imbuhnya.

Pernyataan Trump ini muncul saat Iran memutuskan untuk membuka Selat Hormuz selama gencatan senjata.

Gencatan senjata AS dan Iran akan berakhir pada Rabu pekan depan, sementara Israel dan Lebanon baru menyepakati gencatan senjata 10 hari yang dimulai sejak Kamis (16/4) lalu.

Sementara itu menanggapi pernyataan Trump, Kementerian Luar Negeri Iran menegaskan uranium Teheran tidak akan ditransfer ke mana pun, termasuk ke AS.

"Uraniaum yang diperkaya Iran tidak akan ditransfer ke mana pun. Mentransfer uranium ke AS bukanlah pilihan bagi kami," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK