KOLOM

Trump Menang Pertempuran Atas Iran, Tapi Kalah Perang

Riva Dessthania | CNN Indonesia
Senin, 20 Apr 2026 07:45 WIB
Donald Trump memang bawa AS menang telak atas Iran dalam pertempuran, tapi kalah perang. (IMAGN IMAGES via Reuters Connect/Sam Navarro)
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Donald Trump boleh saja sesumbar Amerika Serikat keluar sebagai pemenang dalam perang melawan Iran yang pecah sejak 28 Februari lalu.

Sebulan setelah melancarkan serangan bersama Israel, Trump mengklaim Washington telah mencapai "seluruh tujuan objektifnya" secara militer. Dalam pidato resminya pada 1 April, ia memuji Operation Epic Fury sebagai "kemenangan cepat, tegas, dan luar biasa di medan perang."

Trump bahkan menyatakan angkatan laut Iran telah lumpuh, angkatan udaranya hancur, para pemimpin rezim tewas, sistem komando Garda Revolusi porak-poranda, dan kemampuan rudal Iran menyusut drastis.

Retorika semacam ini bukan hal baru. Dalam sejarah perang modern, hampir semua pemimpin yang memulai perang selalu ingin tampil sebagai pemenang sejak hari pertama.

Apalagi ini Donald Trump. Kita tahu seperti apa gaya koboi Trump memimpin AS selama ini.

Seenaknya mengeluarkan AS dari berbagai perjanjian internasional, ancaman tarif dagang, terang-terangan mau mencaplok wilayah negara lain seperti Greenland, sampai menangkap pemimpin negara lain di negaranya sendiri (tengok Venezuela).

Dengan gaya diplomasi yang konfrontatif, Trump selalu berpolitik lewat demonstrasi kekuasaan.

Di akun Truth Social miliknya, ia bahkan menulis:

 

 

 

"I'm winning a War, BY A LOT..."@RealDonaldTrump

Masalahnya, perang tidak dimenangkan lewat konferensi pers apalagi kicauan di media sosial yang berapi-api.

Perang dimenangkan ketika tujuan politik tercapai, musuh benar-benar kehilangan kemampuan melawan bahkan menyerah, biaya perang tidak menghancurkan ekonomi sendiri, dan hasil akhirnya bertahan lama.

Dengan ukuran itu, klaim kemenangan Trump atas Iran tampak terlalu cepat atau bahkan bisa jadi keliru.

Ada setidaknya lima alasan mengapa Trump mungkin menang secara militer, tetapi kalah dalam pertarungan strategis yang lebih besar.

Menang secara taktis belum tentu menang secara strategis

Tidak diragukan, Amerika Serikat dan Israel unggul jauh secara teknologi dan kekuatan tempur.

Serangan udara keduanya berhasil menghantam fasilitas nuklir Iran, pangkalan militer, peluncur rudal, gudang senjata, dan menewaskan sejumlah tokoh penting Iran termasuk pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei.

Laporan berbagai media Barat juga menyebut kemampuan serangan rudal Iran menurun tajam pada minggu-minggu awal perang. Namun kemenangan taktis berbeda dengan kemenangan strategis.

Jika Iran tetap berdiri sebagai negara, rezimnya tidak runtuh, jaringan militernya masih mampu beroperasi, dan Teheran masih bisa menyerang aset Amerika maupun sekutunya di kawasan, maka Iran belum benar-benar kalah.

Apalagi muncul laporan bahwa AS sebenarnya membakar banyak uang dan alutsista canggih saat melancarkan serangan ke Iran.

Dalam laporan Politico, politikus Partai Republik di Kongres mendengar kalau Trump menghabiskan hingga US$2 miliar (sekitar Rp33 triliun) per hari selama memerangi Iran.

Jumlah pengeluaran yang fantastis ini, menurut Forbes, sebagian besar berasal dari biaya amunisi yang dipakai AS selama menyerang Iran. Center for Strategic & International Studies (CSIS) juga memperkirakan amunisi yang dihabiskan AS selama perang melawan iran ini bisa mencapai US$758 juta dolar atau Rp12,7 triliun per harinya.

Sementara itu, Iran tidak perlu mengalahkan Amerika secara konvensional untuk membuat Negeri Paman Trump ini terlihat kalah secara politik dan ekonomi.

Teheran cukup bertahan, membuat AS kelimpungan dengan biaya perang yang besar, dan menggagalkan jalan keluar dari perang yang mulus bagi Washington untuk menjegal klaim Trump bahwa "kemenangan AS yang cepat, tegas, dan luar biasa di medan perang".

Di sinilah letak ketimpangannya. Amerika membutuhkan taktik yang cepat dan jelas untuk merampungkan perang. Sementara itu, Iran hanya perlu bertahan dari gempuran AS untuk menunjukkan bahwa negara itu tidak selemah itu dalam menghadapi negara dengan militer paling kuat dan canggih di dunia.

Selama Iran masih mampu mengancam, mengganggu, dan bertahan dari gempuran AS, maka Trump belum bisa mengeklaim kemenangan besar yang ia idam-idamkan.

Jika terlalu berlebihan menilai Iran yang memenangkan perang ini, Teheran setidaknya cukup membuat AS dan Israel kerepotan dengan perang yang semulai diprediksi Trump akan beres dalam waktu cepat (4-6) minggu tapi ternyata molor cukup panjang.

AS dan Israel juga sudah jor-joran menggunakan sistem rudal seperti irone dome dan sejenisnya untuk menangkis serangan Iran dengan nilai fantastis, mengerahkan sejumlah kapal induk dan armadanya ke Timur Tengah untuk melancarkan serangan ke Teheran.

Namun, Iran masih bisa bertahan dan disebut hanya berbekal drone murah bernama Shahed-136 bisa melumpuhkan pertahanan udara lawan dan menciptakan kekacauan tak hanya bagi AS, Israel, tapi hingga negara-negara Arab lainnya di Timur Tengah yang menampung aset militer Negeri Paman Sam.

Drone Shahed digunakan Iran untuk membombardir kedutaan besar AS di Timur Tengah, sistem radar, bandara, hingga gedung-gedung tinggi terkait AS dan Israel di kawasan Timur Tengah. Kondisi ini tentunya mengejutkan bagi AS dan Israel, yang hanya fokus pada ancaman rudal konvensional.

Ongkos perang bisa buat Trump kalah secara politik

Perang modern tidak hanya diukur di medan tempur, tapi juga beban finansial yang mengiringinya.

Perang AS-Iran membuat Selat Hormuz, salah satu jalur penting perdagangan minyak dunia, terganggu hingga mengguncang pasar global. Harga minyak naik, biaya logistik melonjak, inflasi berisiko kembali menghantam.

Hal ini dirasakan bahkan sampai ke penjuru dunia termasuk kawasan Asia hingga Indonesia, tak terkecuali warga AS sendiri.

Trump mungkin tak merasakan dampak perangnya ke Iran, atau belum. Tapi warga AS sudah waswas akan terkena dampaknya, mungkin tidak langsung, tapi dalam jangka panjang dan pelan-pelan.

Ekonom sekaligus pakar kebijakan publik Harvard Kennedy School, Linda Bilmes memperingatkan perang AS ke Iran dapat membebani Amerika hingga US$1 triliun (Rp17.155 triliun) dalam jangka panjang. Bilmes juga pernah meneliti biaya perang AS di Irak dan Afghanistan.

Besaran beban finansial itu belum termasuk bunga utang yang harus dibayar warga AS pembayar pajak di generasi berikutnya.

Ia memperingatkan lonjakan itu akan membebani defisit fiskal AS. Sebagai perbandingan, perang Irak sekitar US$2 triliun (sekitar Rp34.306 triliun) terjadi saat utang AS masih di bawah US$4 triliun (sekitar Rp68.612 triliun).

Menurut Bilmes, saat ini, utang AS melampaui US$31 triliun (sekitar Rp531.743 triliun), yang sebagian besar merupakan dampak dari perang sebelumnya di Irak dan Afghanistan.

"Kita meminjam untuk membiayai perang ini dengan suku bunga yang lebih tinggi dan basis utang yang jauh lebih besar," ujarnya.

"Akibatnya, biaya bunga saja akan bertambah miliaran dolar pada total biaya perang ini. Dan tidak seperti biaya di muka, ini adalah biaya yang kita bebankan kepada generasi berikutnya."

Trump bisa saja menjual perang ini sebagai kemenangan. Tetapi rakyat Amerika akan menilai lebih sederhana: apa yang kami dapatkan? apakah harga bensin naik? apakah pajak naik? apakah layanan kesehatan jadi terjangkau bahkan gratis? atau utang malah membengkak dan layanan publik tetap buruk sementara miliaran dolar terus dibakar untuk membombardir Iran?

"Trump menjerumuskan Amerika pada konflik tanpa akhir di Timur Tengah lainnya, menghabiskan miliaran dolar mengebom Iran. Tapi mereka tidak bisa menyediakan layanan yang terjangkau jika warga Amerika harus pergi berobat ke dokter. Tidak bisa membantu mempermudah warga Amerika membeli rumah pertama mereka, dan mereka tidak bisa mencari cara menurunkan harga sembako buat warga Amerika," kata pemimpin minoritas Kongres, Hakeem Jeffries di Capitol Hill awal Maret lalu.

Jika warga Amerika harus membayar lebih mahal untuk bensin dan kebutuhan sehari-hari, klaim kemenangan Trump bisa berubah menjadi beban politik.

Serangkaian demonstrasi dan penolakan perang AS di Iran juga muncul, hingga oposisi Trump terutama para Demokrat kembali mengupayakan memakzulkan sang presiden untuk kesekian kalinya.

Trump terjebak 'mission creep'

Ada istilah lama dalam studi perang: mission creep.

Dalam pertempuran, mission creep berarti perang yang awalnya dijanjikan singkat dan terbatas perlahan meluas menjadi konflik yang lebih besar, lebih mahal, dan lebih sulit dihentikan.

Trump sejak awal mengatakan perang ini bisa selesai dalam empat hingga enam pekan. Namun kenyataan di lapangan menunjukkan sebaliknya.

Jurnalis senior Al Jazeera, Awad Joumaa, pernah menulis soal 'US-Israel war on Iran: A brief history of mission creep and false promises' awal Maret lalu.

Dalam artikel itu, ia menulis: "wars rarely begin as 'forever wars'."

Menurutnya, para penguasa biasanya "menjual" janji bahwa perang sebagai operasi singkat, terkendali, dan memiliki sasaran yang jelas. Namun, sejarah berulang kali menunjukkan hal sebaliknya: sebuah misi yang awalnya tampak terkendali namun kerap berubah menjadi konflik terbuka tanpa ujung.

Serangan balasan, tekanan politik domestik, tuntutan sekutu, dan guncangan ekonomi menyeret negara-negara pelaku perang semakin dalam ke jurang yang sulit mereka tinggalkan. Pola itu pun kembali terlihat dalam perang AS vs Iran kali ini.

Yang terjadi saat ini adalah: perang meluas hingga negara-negara Arab sekutu AS lainnya di kawasan ikut menjadi target serangan balasan Iran, blokade Selat Hormuz membuat banyak negara lain ikut terjerumus dampak perang dengan kenaikan harga minyak, perang meluas ke negara lain seperti Lebanon.

Amerika sudah berkali-kali jatuh ke lubang yang sama. Vietnam dimulai sebagai keterlibatan terbatas. Irak dijual sebagai operasi cepat. Afghanistan disebut misi antiteror singkat.

Semua berubah menjadi perang panjang yang menguras uang, tentara, dan legitimasi politik.
Trump tampaknya sedang mengulang pola lama itu.

Menjauh atau/dan dijauhi sekutu

Kemenangan sejati dalam perang bukan hanya menghancurkan musuh, tetapi juga menjaga koalisi sendiri tetap solid.

Di titik ini, Trump menghadapi masalah serius.

Banyak negara Eropa sejak awal tidak antusias terhadap perang Iran. Beberapa menolak keterlibatan langsung, membatasi dukungan logistik, dan khawatir akan dampak energi baru setelah krisis Rusia-Ukraina.

Mereka melihat kebijakan Trump sebagai keputusan sepihak yang membebani sekutu.

Tak lama setelah melancarkan serangan ke Iran, Trump seolah memaksa sekutu terutama di Eropa termasuk NATO untuk membantu AS menghadapi serangan balasan Teheran.

Namun, sayangnya, negara-negara di Eropa malah menjaga jarak sampai memicu ketegangan baru antara AS dan NATO.

Sejumlah negara termasuk Inggris, Prancis, hingga Jerman bahkan blak-blakan ogah terlibat perang dengan melarang pesawat-pesawat tempur AS yang hendak melancarkan operasi ke Iran terbang di wilayah mereka.

Trump sampai mengancam lagi akan menarik AS keluar NATO karena menganggap aliansi pertahanan negara Atlantik Utara itu hanya macan kertas, yang terdengar garang dan berkuasa tapi ternyata lemah.

"Mereka tidak menjadi teman saat kami membutuhkan," ujar Trump.

Negara-negara Arab juga menghadapi dilema serupa.

Mereka menjadi sasaran serangan Iran karena menampung pangkalan militer Amerika, padahal banyak dari mereka tidak menginginkan perang terbuka.

Bandara, kilang minyak, dan fasilitas strategis di kawasan ikut terkena dampak.

Bagi banyak negara, perang ini memberi pelajaran mahal: kedekatan militer dengan Washington tidak selalu membawa keamanan. Kalaupun aman, tetap akan ada konsekuensi yang dihadapi.

Ironi diplomatik

Jika setelah pengeboman, sanksi, ancaman, dan eskalasi militer, Amerika akhirnya tetap kembali ke meja perundingan untuk membahas nuklir Iran, keamanan pelayaran, dan stabilitas kawasan, maka apa sebenarnya yang dimenangkan?

Jika perang berakhir di meja perundingan, maka perang ke Iran bisa jadi hanya jalan memutar dengan ongkos yang mahal bagi AS.

Setelah puas beretorika dengan mengultimatum Iran, Trump mendadak mengumumkan gencatan senjata selama dua pekan pada 8 April lalu.

Keputusan Trump cukup bikin kaget lantaran berlangsung beberapa jam setelah melontarkan rentetan ancaman bahwa AS akan menyerang Iran lagi habis-habisan.

Gencatan senjata pun berbuah perundingan putaran pertama antara AS-Iran di Islamabad, Pakistan. Namun, pertemuan itu berakhir tanpa mufakat antara Teheran dan Washington.

Sejak itu, Trump seperti kehabisan cara membuat Iran manut demi mengakhiri perang dengan cepat. Meski Trump terus koar-koar ke media bahwa perundingan akan berjalan sesuai rencana, Iran nyatanya tak juga mau hadir dalam putaran kedua perundingan yang seharusnya berlangsung sebelum Rabu (22/4) saat masa gencatan senjata berakhir.

Dalam wawancara dengan Al Jazeera, pakar kebijakan luar negeri Iran dari Quincy Institute, Trita Parsi, menyebut Trump dihadapkan tanpa pilihan selain menerima gencatan senjata.

Sebab, perang yang lebih luas antara AS-Israel melawan Iran ini dapat "menghancurkan kepemimpinan Trump."

Trump sudah mendapat tekanan besar dari banyak negara, PBB, dan sekutu-sekutunya di Eropa sejak melancarkan perang ke Iran bersama Israel pada 28 Februari lalu.

Tak ada satu pun negara sekutu yang mendukung bahkan membantu AS menghadapi serangan balasan Iran di Timur Tengah.

"Ia sebelumnya melontarkan ancaman eskalasi, tetapi semua pihak di kawasan tahu bahwa jika Anda menyerang sumber energi dan pembangkit listrik Iran, maka Iran akan membalas dengan menyerang negara-negara Teluk Arab, dan kita akan menghadapi krisis energi yang jauh lebih buruk dari sekarang," kata Parsi.

Selain itu, di dalam negeri Trump juga bukan tanpa tekanan. Sang presiden menghadapi tuduhan penyalahgunaan wewenang lantaran melancarkan serangan ke Iran tanpa sepengetahuan Kongres secara luas.

Menurut Parsi, Trump sebenarnya sudah tahu jika posisinya tertekan. Karena itu, sang presiden belakangan tetap vokal melayangkan berbagai retorika dan ancaman seolah-olah AS yang menekan Iran.

"Ia perlu keluar dari situasi ini. Ancaman-ancaman yang ia sampaikan sebelumnya bertujuan memberi kesan bahwa kesepakatan yang dicapai pada akhirnya merupakan hasil dari tekanannya," ucap Parsi.

"Namun jika dilihat lebih dekat, tampaknya tidak demikian. Bahkan dalam pernyataannya sendiri disebutkan bahwa negosiasi akan didasarkan pada rencana 10 poin dari pihak Iran, yang justru merupakan proposal yang lebih rasional," ujarnya menambahkan.

Karena itu, deklarasi kemenangan Trump patut disambut dengan skeptisisme.

Amerika mungkin memenangkan serangan dan headlines berita. Tetapi jika Iran tetap bisa melawan, pasar tetap gelisah, diplomasi kembali buntu, dan keterlibatan Amerika justru semakin dalam, maka Washington sedang mengulangi kebiasaan mahal: memulai perang yang belum tentu dimenangkan seutuhnya oleh AS.

(bac)
PROFILE

Riva Dessthania

Jurnalis CNN Indonesia yang gemar mengulas dan sesekali nyerocos soal isu internasional. Pendengar setia People (사람) by Agust D sepanjang masa.

Selengkapnya