Pemimpin Negara Teluk Kumpul di Jeddah Rapat Bareng MbS, Bahas Apa?

CNN Indonesia
Rabu, 29 Apr 2026 12:40 WIB
Ilustrasi. Pemimpin negara-negara Teluk kumpul di Jeddah, gelar rapat dipimpin Pangeran MbS. Foto: AFP/Fayez Nureldine
Jakarta, CNN Indonesia --

Putra Mahkota Arab Saudi, Mohammed bin Salman, memimpin pertemuan pemimpin negara-negara Teluk di Jeddah pada Selasa (28/4).

Ini merupakan pertemuan tatap muka pertama para pemimpin Teluk, sejak negara-negara di kawasan itu terseret "medan perang" Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pada akhir Februari lalu.

Media pemerintah Saudi mengatakan konsultatif Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) itu membahas topik dan isu-isu terkait perkembangan regional dan internasional, dan upaya koordinasi terkait hal tersebut.

Dilansir New Arab, para pemimpin yang hadir di antaranya Emir Qatar, Putra Mahkota Kuwait, Raja Bahrain, dan Menteri Luar Negeri Uni Emirat Arab. Tidak diketahui siapa yang mewakili Oman, yang juga menjadi tuan rumah GCC bersama Saudi.

Seorang pejabat anonim mengatakan pertemuan ini bertujuan merancang tanggapan terhadap ribuan serangan rudal dan drone Iran, yang dihadapi negara-negara Teluk sejak AS-Israel melancarkan perang ke Iran.

Perang itu menyebabkan kerusakan infrastruktur energi utama di keenam negara GCC. Beberapa sasaran antara lain perusahaan-perusahaan yang terkait dengan AS dan infrastruktur sipil lain, serta instalasi militer.

GCC sendiri menghadapi beberapa kritik dari Uni Emirat Arab, gara-gara dianggap tidak memadai dalam menghadapi perang.

"Memang benar bahwa, secara logistik, negara-negara GCC saling mendukung. Tetapi secara politik dan militer, saya pikir posisi mereka adalah yang terlemah dalam sejarah," kata pejabat senior UEA, Anwar Gargash.

"Saya mengharapkan posisi yang lemah seperti itu dari Liga Arab, dan saya tidak terkejut karenanya, tetapi saya tidak mengharapkannya dari GCC, dan saya terkejut karenanya," imbuhnya.

Serangan di Teluk telah mereda sejak AS dan Iran sepakat gencatan senjata pada 8 April lalu.

Meski begitu negara-negara Teluk disebut dalam mode "waspada" terhadap konflik yang bisa kembali terjadi, lantaran AS dan Iran belum menyepakati akhir konflik secara permanen.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK