Kiswah Ka'bah Tak Selalu Hitam, Pernah Diselimuti 2 Warna Ini
CNN Indonesia
Kamis, 30 Apr 2026 06:54 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Kiswah Ka'bah tak selalu hitam. (ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO A)
Jakarta, CNN Indonesia --
Satu-satunya yang menjadi titik pusat jemaah haji di seluruh dunia adalah Ka'bah, sebuah kiblat di Mekkah, Arab Saudi bagi umat Islam untuk salat.
Ka'bah, sebuah bangunan bangunan berbentuk kubus yang ditinggikan sejak zaman Nabi Ibrahim itu, memiliki kian penutup berwarna dasar hitam dengan sentuhan ornamen warna kuning keemasan yang disebut Kiswah.
Menurut laman Arab News, Kiswah akan diganti pada hari kesembilan bulan Dzul Hijjah, mengikuti jejak Nabi Muhammad dan para sahabatnya.
Tak selalu berwarna hitam
Namun warna kiswah saat ini yaitu hitam, bukanlah keharusan. Sejarah mencatat, kain penutup Kabah telah mengalami perubahan secara berkala sepanjang zaman.
Dr Fawaz Al-Dahas, direktur Pusat Sejarah Mekkah, mengatakan kepada Arab News, "Ka'bah pernah ditutupi dengan warna putih, merah, dan hitam, dan pilihan warna tersebut didasarkan pada kemampuan finansial di setiap era."
Pernah menggunakan kain Qubati yang dibawa dari Mesir dan merupakan salah satu jenis kain terbaik yang digunakan untuk menutupi Ka'bah. Kain Kiswah Yaman juga merupakan kain berkualitas dan paling terkenal pada masanya.
Mengenai alasan perubahan warna sepanjang zaman, Al-Dahas mengatakan bahwa putih adalah warna paling terang, tetapi tidak tahan lama. Warna putih sering robek, kotor, dan najis karena disentuh oleh para peziarah, dan karena tidak praktis atau tahan lama.
Warna putih kemudian digantikan dengan brokat hitam-putih dan Shimla yang digunakan untuk menutupi tenda-tenda Arab.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Warna hitam akhirnya dipilih pada akhir era Abbasiyah karena tahan lama dan mampu menahan sentuhan dari pengunjung, peziarah, dan orang-orang dari berbagai budaya dari seluruh dunia.
Dengan berlanjutnya musim Umrah, Al-Dahas mengatakan bahwa Kiswah diangkat ke tengah Ka'bah untuk menjaganya dan mencegah orang menyentuhnya.
Buku-buku sejarah menyebutkan orang pertama yang menutupi Ka'bah pada zaman pra-Islam adalah Tubbaa Al-Humairi, raja Yaman. Disebutkan bahwa ia menutupi Ka'bah pada zaman pra-Islam setelah mengunjungi Mekah dan memasukinya dengan patuh.
Sejarawan yang ahli dalam sejarah Ka'bah menyebutkan dalam beberapa catatan bahwa Al-Humairi menutupi Ka'bah dengan kain tebal yang disebut khasf dan kemudian dengan Maafir, yang awalnya dinamai menurut sebuah kota kuno di Yaman tempat kain Maafir dibuat.
Kemudian ia menutupinya dengan milaa, kain tipis dan lembut yang dikenal sebagai rabitah. Setelah itu, ia menutupi Ka'bah dengan wasael, kain Yaman bergaris merah.
Para penerus Al-Humairi menggunakan penutup dari kulit dan kain qubati, bersama dengan banyak orang lain di era pra-Islam, untuk menutupi Ka'bah dan menganggapnya sebagai kewajiban agama dan kehormatan besar.
Beberapa catatan menunjukkan bahwa Kiswah pada saat itu diletakkan berlapis-lapis di atas Ka'bah, dan ketika menjadi berat atau usang, Kiswah tersebut dilepas atau dibagi.
Para sejarawan menegaskan dalam sebuah catatan bahwa Nabi Muhammad adalah orang pertama dalam Islam yang menutupi Ka'bah dengan qubati, yaitu kain putih tipis yang dibuat di Mesir dan dinamai menurut nama orang Koptik.
Didirikan rumah Kiswah
Pendiri Arab Saudi, Raja Abdul Aziz, kemudian memberikan arahan untuk mendirikan sebuah rumah khusus untuk pembuatan Kiswah di lingkungan Ajyad, dekat Masjidil Haram Mekkah pada 1926. Rumah ini merupakan tempat pertama yang didedikasikan khusus menenun Kiswah.
Produksi kemudian dipindahkan ke Umm Al-Joud. Lokasi baru ini dilengkapi dengan mesin-mesin canggih terbaru dalam industri tenun pada saat itu dan terus memproduksi Kiswa yang melampaui semua produksi sebelumnya.
Raja Salman mengeluarkan dekrit kerajaan untuk mengubah nama pabrik Kiswa Kaaba menjadi Kompleks Raja Abdul Aziz untuk Kiswa Kaaba.
Departemen desalinasi adalah bagian pertama dari kompleks tersebut yang bertanggung jawab atas kemurnian air, yang memengaruhi kualitas dan tekstur sutra, serta desalinasi air tanah untuk mencuci dan mewarnai sutra.
Proses pewarnaan dimulai setelah lapisan lilin yang melapisi benang sutra dihilangkan. Sutra kemudian diwarnai hitam dan hijau menggunakan bak air panas dan bahan kimia khusus yang dicampur dan ditimbang dalam rasio tertentu untuk memastikan tingkat stabilitas warna yang dibutuhkan.
Lapisan katun Kiswah juga dicuci dan sutranya kemudian diwarnai hitam untuk bagian luar dan hijau untuk bagian dalam, seperti halnya penutup kamar Nabi. Setiap Kiswah membutuhkan 670 kg sutra alami.
Berbagai pengujian dilakukan pada benang sutra dan katun untuk memastikan kesesuaiannya dengan standar yang dibutuhkan dalam hal kekuatan benang sutra dan ketahanannya terhadap erosi dan kondisi iklim. Pengujian pada benang berlapis perak juga dilakukan untuk memastikan kesesuaian dan kualitasnya yang tinggi.
Terkait dengan manufaktur tekstil menggunakan mesin, kompleks ini dilengkapi dengan mesin Jacquard canggih, yang menciptakan tenunan ayat-ayat Al-Qur'an dan menghasilkan sutra hitam yang diukir dengan ayat-ayat dan doa-doa serta sutra polos yang dibuat untuk mencetak ayat-ayat dan sulaman benang perak dan berlapis emas. Mesin-mesin ini menggunakan 9.986 benang per meter untuk menenun Kiswa dalam waktu singkat.