Serangan Israel di Lebanon Selatan Tewaskan 1 Orang & Lukai 4 Lainnya

CNN Indonesia
Minggu, 03 Mei 2026 21:00 WIB
Foto serangan Israel ke Lebanon selatan pada Senin (27/4). Pada Minggu (3/5), serangan Israel kembali menewaskan 1 orang dan melukai 4 lainnya di Arabsalim dan Srifa. (Jalaa MAREY / AFP)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pada Minggu (3/5), Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan serangan Israel di Lebanon Selatan menewaskan satu orang dan melukai empat lainnya, termasuk tiga rescuer yang berasal dari Komite Kesehatan Islam yang terkait dengan Hizbullah.

Serangan tersebut terjadi di dua lokasi berbeda, yaitu Arabalim dan Srifa, yang terletak di wilayah selatan Lebanon.

Pihak kementerian menegaskan, serangan ini merupakan pelanggaran terhadap konvensi internasional, khususnya Pasal 19 dari Konvensi Jenewa yang menekankan perlindungan fasilitas medis dari serangan dalam konflik.

"Kementerian menegaskan kembali kecaman terhadap serangan berulang ini dan mengingatkan kembali apa yang tercantum dalam Pasal 19 Konvensi Jenewa mengenai perlunya memastikan bahwa fasilitas medis aman dari bahaya apa pun yang disebabkan oleh serangan di zona konflik, sedangkan yang terjadi justru sebaliknya," bunyi pernyataan resmi Kementerian Kesehatan Lebanon, dilansir AFP.

Sementara itu, militer Israel mengeluarkan peringatan evakuasi baru bagi desa-desa di Lebanon selatan di luar wilayah yang mereka kuasai.

Peringatan ini mencakup lebih dari 10 desa dan kota, termasuk beberapa di distrik Nabatieh, yang terletak di utara Sungai Litani. Arabalim dan Srifa termasuk dalam daftar evakuasi tersebut.

Sejak 17 April, terjadi gencatan senjata yang rapuh antara Israel dan Lebanon. Tujuan gencatan senjata ini, yakni menahan kekerasan antara militan Hizbullah dan militer Israel.

Namun, ketegangan kembali meningkat setelah komandan militer Israel, Eyal Zamir, mengancam akan menyerang Hizbullah "di luar garis kuning," yang menandai wilayah kontrol Israel.

"Ancaman apa pun, di mana pun, terhadap komunitas atau pasukan kami, termasuk di luar Garis Kuning dan di utara Litani, akan dihilangkan," kata Zamir saat mengunjungi pasukan Israel.

"Garis kuning" di Lebanon selatan ini mirip dengan yang pernah diterapkan Israel di Gaza, yakni garis yang memisahkan pasukan Israel dari wilayah yang masih dikuasai Hamas di Gaza.

Hizbullah pun mulai menggunakan drone murah yang dikendalikan melalui kabel serat optik, membuat mereka tahan terhadap gangguan elektronik.

Drone ini mampu menjangkau puluhan kilometer dan digunakan untuk serangan harian terhadap pasukan Israel maupun komunitas di utara Israel.

Pada Senin (27/4), Hizbullah mengeklaim menargetkan pasukan Israel di Bayada, Lebanon Selatan, sebagai balasan atas pelanggaran gencatan senjata.

AS menyerukan negosiasi damai langsung antara Lebanon dan Israel. Namun, Presiden Lebanon, Joseph Aoun, meminta Israel untuk terlebih dahulu menjalankan gencatan senjata secara penuh sebelum pembicaraan dimulai.

Hizbullah sendiri menolak negosiasi langsung, dengan anggota parlemen Hassan Fadlallah menyatakan, kelompok tersebut mampu menggagalkan semua tujuan negosiasi dan memperparah perpecahan di dalam negeri.

(rti)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK