Benarkah Hujan di Iran Gegara Serang Negara Arab? Ini Kata Pakar Irak

CNN Indonesia
Kamis, 07 Mei 2026 06:20 WIB
Pencurian awan sempat menggema di kalangan publik Timur Tengah saat perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran berkecamuk.
Irak dan Iran mendapat curah hujan tinggi dalam dua bulan terakhir setelah sempat dilanda kekeringan parah. (AFP/AHMAD AL-RUBAYE)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pencurian awan sempat menggema di kalangan publik Timur Tengah saat perang Amerika Serikat dan Israel vs Iran berkecamuk.

Pencurian awan itu disebut-sebut jadi penyebab hujan turun di sejumlah negara seperti, Iran, Irak, hingga Turki.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Persoalan tersebut jadi perbincangan usai anggota parlemen Iran Abdullah Al Khayqani mengeklaim Turki dan Iran mengeluh AS memecah dan mencuri awan untuk menciptakan hujan.

"Hujan kembali turun di Irak sejak beberapa waktu lalu [karena AS sibuk perang]," kata dia pada akhir April, dikutip BBC.

Irak terseret dalam perang AS-Israel vs Iran, usai Teheran menembak pesawat Washington di wilayah Irak.

Di kesempatan yang lain, Al Khayqani juga mengatakan Irak menggunakan senjata modifikasi atmosfer untuk menciptakan kekeringan yang direncanakan.

Persoalan hujan karena perang juga menyebar di kalangan pengguna media sosial Turki dan Iran. Mereka meyakini hujan tersebut dampak konflik di Timur Tengah.

Salah satu pengguna media sosial menyebut AS tak bisa "mencuri" awan karena langit tertutup imbas perang, dan itulah sebabnya hujan turun "tanpa henti" di Turki.

Netizen lain mengatakan kekeringan di Iran "berakhir dalam lima hari" setelah Teheran menyerang sejumlah pangkalan milik AS di Timur Tengah. Selama beberapa dekade, negara ini mengalami kekeringan.

Apa kata pakar?

Para pakar meragukan klaim anggota DPR Iran dan yang beredar di media sosial. Mereka menilai belum menemukan manusia sudah mengembangkan teknologi untuk mencuri awan.

Juru bicara Otoritas Metereologi Irak Amir Al Jabiri menyatakan klaim itu "tak ilmiah dan tak logis."

Hujan di Irak, lanjut dia, sudah diprediksi bahkan sejak September tahun lalu, jauh sebelum perang di Timur Tengah dimulai.

Sementara itu, Direktur Institut PBB untuk Air, Lingkungan, dan Kesehatan Kawe Madani membaca keyakinan netizen sebagai dampak dari minimnya akses pengetahuan soal iklim.

"Alasan utamanya adalah ketidakpercayaan dan ketidaktahuan tentang siklus air dan sistem iklim," kata dia.

Para ilmuwan mengatakan tak ada teknologi yang bisa secara langsung mengendalikan jalur dan intensitas sistem cuaca. Sebaliknya, mereka menyebut kemungkinan cuaca ekstrem di Timur Tengah karena perubahan iklim.

Suhu global meningkat akibat aktivitas yang melibatkan penggunaan bahan bakar seperti batu bara, minyak bumi, dan gas.

Modifikasi cuaca

Lalu soal penyemaian awan merupakan metode modifikasi cuaca untuk membantu menghasilkan lebih banyak hujan atau salju.

Metode ini melibatkan penyemprotan partikel garam ke awan dari pesawat terbang. Ini menyebabkan uap air di dalam awan mengembun menjadi tetesan air, yang bisa menyebabkan terjadinya presipitasi (hujan).

Namun, metode itu tetap tak bisa dijadikan alat untuk mengendalikan cuaca.

"Ini seperti mendorong awan yang sudah terbentuk, bukan mengendalikan cuaca," kata Kepala Laboratorium Ilmu Lingkungan dan Geofisika di Universitas Khalifa di Abu Dhabi, Profesor Diana Francis.

(isa/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]