Pejabat Israel Kesal Bandara Tel Aviv Jadi Pangkalan Militer AS

CNN Indonesia
Selasa, 12 Mei 2026 18:57 WIB
Pangkalan militer AS di Bandara Ben Gurion Tel Aviv, Israel. (AFP/JACK GUEZ)
Jakarta, CNN Indonesia --

Sejumlah pejabat Israel disebut menyampaikan kekesalannya karena Bandara Internasional Ben Gurion di Tel Aviv dijadikan pangkalan militer Amerika Serikat selama perang melawan Iran.

Kepala Penerbangan Sipil Israel Shmuel Zakay melaporkan kepada Menteri Transportasi Miri Regev dan Direktur Jenderal Menteri Moshe Ben Zaken bahwa aktivitas militer di bandara internasional tersebut kerap menyebabkan keterlambatan jadwal pesawat penumpang dan menyebabkan harga tiket melonjak jelang musim puncak pariwisata.

Media Israel Yedioth Ahronoth melaporkan bahwa dalam beberapa pekan belakangan belasan pesawat militer AS termasuk jet isi ulang bahan bakar parkir di Bandara Ben Gurion selama perang dengan Iran, dikutip dari Middle East Monitor (MEMO).

"Mengubah Bandara Internasional Ben Gurion menjadi pangkalan militer amat membahayakan pesawat-pesawat penumpang internasional yang kembali dan mengancam stabilitas finansial maskapai Israel," ujar Zakay.

Perang antara AS-Israel dengan Iran sejak 28 Februari sangat berimbas kepada penerbangan sipil. Banyak maskapai penerbangan Israel merelokasi pesawat-pesawat ke luar negeri. Beberapa di antaranya bahkan belum kembali.

Zakay menyatakan bahwa militer Israel tidak sepenuhnya memahami kekacauan penerbangan sipil dan harga tiket akibat keberadaan pesawat-pesawat militer di bandara sipil tersebut.

"Bandara Ben Gurion telah menjadi pangkalan militer dengan aktivitas sipil yang terbatas," katanya.

Zakay juga memperingatkan bahwa situasi tersebut menimbulkan "ancaman serius" bagi maskapai penerbangan Israel yang lebih kecil, termasuk Israir, Arkia, dan Air Haifa, karena meningkatnya biaya operasional dan bahan bakar serta meningkatnya permintaan penerbangan.

Ia menyerukan pemindahan pesawat AS dari Bandara Ben Gurion ke pangkalan militer, dengan mengatakan bahwa situasi saat ini tidak hanya merugikan maskapai penerbangan tetapi juga "semua warga negara."

(bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK