Korut Ubah Konstitusi, Bom Nuklir Meluncur jika Kim Jong Un Dibunuh
Korea Utara (Korut) baru-baru ini mengubah Konstitusi yang akan mengizinkan negara itu meluncurkan serangan nuklir apabila pemimpin mereka, Kim Jong Un, dibunuh.
The Telegraph melaporkan aturan baru itu ditetapkan saat sesi pertama Majelis Rakyat Tertinggi ke-15 Korut dihelat pada 22 Maret lalu. Detail perubahan aturan ini diperoleh Badan Intelijen Nasional (NIS) dan disampaikan kepada para pejabat senior Korea Selatan (Korsel) pada Kamis (7/5) lalu.
"Jika sistem komando dan kontrol terhadap kekuatan nuklir negara terancam oleh serangan pasukan musuh ... serangan nuklir harus diluncurkan secara otomatis dan segera," demikian bunyi pasal 3 undang-undang kebijakan nuklir Korut yang baru direvisi.
Revisi ini dibuat beberapa minggu setelah Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas dalam serangan Amerika Serikat (AS) dan Israel pada 28 Februari.
Menurut profesor sejarah dan hubungan internasional di Universitas Kookmin, Andrei Lankov, aturan ini kemungkinan sudah ada sejak lama, namun lebih ditekankan sekarang lantaran peristiwa global belakangan.
"Iran adalah wake-up call. Korea Utara melihat efisiensi yang luar biasa dari aksi pembunuhan oleh AS-Israel yang mengeliminasi sebagian besar kepemimpinan Iran. Mereka kini pasti ketakutan," ucapnya.
Serangan yang ditujukan membunuh Kim Jong Un dan orang-orang terdekatnya sendiri akan jauh lebih sulit dilakukan dibandingkan serangan ke Iran.
Pasalnya, Korut pada dasarnya merupakan negara terisolir. Para diplomat asing, pekerja bantuan, serta pengusaha dari negara-negara sahabat yang memasuki Pyongyang dipantau secara ketat sehingga informasi intelijen menjadi mustahil diperoleh.
Dalam serangan di Iran, Israel dilaporkan meretas kamera CCTV lalu lintas sehingga mampu mengetahui pergerakan Ali Khamenei. Taktik ini tak bisa diterapkan di Korut karena keterbatasan CCTV dan internet yang dikendalikan ketat.
Kim Jong Un juga merupakan tipe pemimpin yang selalu dikawal ketat. Dia bepergian dengan pengamanan penuh dan biasanya menghindari perjalanan udara.
"Ketakutan terbesar mereka yakni informasi dari teknologi satelit. Dan secara keseluruhan, kekhawatiran mereka bukan tanpa sebab karena melumpuhkan kepemimpinan di awal konflik apa pun kemungkinan akan menjadi penentu," ujar Lankov.
Selalin nuklir, Korut juga disebut berencana mengerahkan sistem artileri jarak jauh baru di sepanjang perbatasan dengan Korea Selatan. Jika dilakukan, ini menempatkan Korsel ke dalam jangkauan serangan Korut, seiring dengan buruknya hubungan kedua negara.
Korut selama ini memandang Korsel sebagai musuh utamanya. Baru-baru ini, Pyongyang bahkan menghapus referensi lama tentang penyatuan Korea dari konstitusinya.
(blq/bac)