Solomon Islands Cari PM Baru di Tengah Bayang-bayang China
Pergantian kepemimpinan di Solomon Islands kembali menjadi perhatian dunia. Negara kepulauan di Pasifik Selatan itu dijadwalkan memilih perdana menteri baru pada Jumat (15/5), setelah pemimpin sebelumnya dijatuhkan lewat mosi tidak percaya.
Sebanyak 50 anggota parlemen akan memberikan suara untuk menentukan pemimpin baru menggantikan Perdana Menteri Jeremiah Manele yang lengser pekan lalu.
Pemilihan ini menjadi sorotan karena Solomon Islands dikenal sebagai salah satu sekutu terdekat China di kawasan Pasifik Selatan sejak menandatangani perjanjian keamanan rahasia dengan Beijing pada 2022. Posisi strategis negara tersebut membuat dinamika politik domestiknya dipantau ketat oleh negara-negara Barat.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melansir AFP, Sejumlah nama kini mencuat sebagai kandidat kuat. Salah satunya adalah mantan menteri luar negeri Peter Shanel Agovaka yang menjadi calon dari pemerintahan sementara.
Agovaka termasuk anggota parlemen yang mendukung mosi tidak percaya terhadap Manele. Selain itu, ada pula pemimpin oposisi dari Solomon Islands Democratic Party, Matthew Wale, serta mantan wakil perdana menteri Manasseh Maelanga.
Associate professor dari University of Hawaii, Joseph Foukona, menyebut Wale sebagai sosok reformis. Selama ini, Wale dikenal mendorong peningkatan layanan pendidikan dan pembenahan rumah sakit yang kerap mengalami kekurangan obat-obatan.
Sementara itu, Agovaka diperkirakan akan melanjutkan kebijakan pemerintahan sebelumnya yang banyak berfokus pada proyek infrastruktur hasil kerja sama dengan China.
Hubungan erat dengan Beijing mulai menguat sejak Solomon Islands memutus hubungan diplomatik dengan Taiwan pada 2019 dan beralih menjalin relasi resmi dengan China. Sejak saat itu, sejumlah proyek besar seperti pembangunan stadion nasional dan bandara provinsi digarap dengan dukungan Beijing.
Namun, menurut associate professor dari Australian National University, Anouk Ride, proyek-proyek besar tersebut belum banyak dirasakan masyarakat biasa.
Ia menilai banyak warga, terutama di wilayah pedesaan dan ibu kota Honiara, masih hidup tanpa akses listrik dan pasokan air memadai. Sebagian besar masyarakat juga masih bergantung pada sektor perikanan dan pertanian untuk bertahan hidup.
Ride mengatakan konflik yang berakhir sekitar 20 tahun lalu turut menghancurkan banyak layanan dasar di negara itu. Hingga kini, peningkatan layanan kesehatan dan pendidikan di desa-desa dinilai masih sangat minim.
Di sisi lain, isu transparansi pemerintah dalam kerja sama dengan perusahaan tambang dan penebangan kayu asing juga menjadi perhatian dalam mosi tidak percaya pekan lalu. Meski demikian, Ride meragukan apakah pemerintahan baru nantinya benar-benar akan membawa perubahan besar.
Mantan diplomat Australia untuk Solomon Islands, James Batley, menilai siapa pun pemimpin yang terpilih kemungkinan tetap akan menjaga hubungan seimbang dengan China dan Australia.
Menurutnya, baik Wale maupun Agovaka cenderung pragmatis dalam urusan hubungan internasional. Australia sendiri selama ini menjadi salah satu donor bantuan terbesar bagi negara kepulauan tersebut.
(tis/tis) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
