Xi Jinping ke Trump: Dunia Telah Tiba di Persimpangan Baru
Presiden China Xi Jinping mengingatkan ke tamunya, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, bahwa saat ini sedang berlangsung perubahan besar yang belum pernah terjadi di dunia dalam seabad terakhir.
Bahkan, dia menyebut dunia saat ini sudah tiba di persimpangan baru.
"Saat ini, perubahan besar yang belum pernah terjadi dalam satu abad sedang berlangsung semakin cepat. Situasi internasional diwarnai gejolak dan transformasi, dan dunia telah tiba di persimpangan baru," ujar Xi Jinping dalam pidato pembukaannya saat menyambut Trump di The Great Hall of the People, Beijing, pada Kamis (14/5), dikutip dari AFP.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya China dan AS adalah dua bangsa besar yang seharusnya saling bekerja sama daripada bersaing dalam menghadapi tantangan geopolitik dunia saat ini.
Di tengah situasi global yang sudah 'tiba di persimpangan baru', dia melontarkan pertanyaan filosofis soal kemampuan AS dan China menghadapi "Thucydides Trap".
"Apakah China dan Amerika Serikat dapat melampaui apa yang disebut sebagai 'Thucydides Trap' dan menciptakan paradigma baru bagi hubungan antarnegara besar?" paparnya
Dalam ilmu hubungan internasional, Thucydides Trap adalah sebuah teori geopolitik yang dipopulerkan ilmuwan Harvard, Graham Allison merujuk pada pengamatan pemikir Yunani Kuno, Thucydides, mengenai Perang Peloponnesia antara Sparta dan Athena.
Konsep itu secara umum menggambarkan bahwa ketika kekuatan yang bangkit mengancam untuk menggantikan kekuatan yang sudah mapan, hasilnya sering kali berupa konflik besar atau perang. Terkait Peloponnesia, Athena adalah kubu yang sedang bangkit sementara Sparta adalah kekuatan yang sudah mapan.
Kemampuan bekerja sama
Menurut Xi, China dan bisa sama-sama memperoleh keuntungan dan kebaikan jika kedua negara memaksimalkan kerja sama dibandingkan mengungkit persaingan antara kedua negara adidaya dunia itu saat ini.
Xi juga mempertanyakan apakah kedua negara sanggup mengenyampingkan perbedaan serta kepentingan pribadi dan mengutamakan kepentingan kedua bangsa besar ini bahkan dunia secara keseluruhan.
"Apakah kita dapat bergandengan tangan untuk menghadapi tantangan global dan membawa stabilitas yang lebih besar bagi dunia? Ketika kedua pihak bekerja sama, keduanya akan memperoleh keuntungan. Ketika kedua pihak bertarung, keduanya akan menderita," kata Xi.
"Kita seharusnya menjadi mitra, bukan rival, mencapai keberhasilan bersama, berkembang bersama, dan menemukan cara yang tepat bagi negara-negara besar untuk hidup berdampingan di era baru," tambahnya.
Trump tiba di Beijing pada Rabu (13/5) malam menggunakan Air Force One untuk menjalani kunjungan selama dua hari. Ia didampingi sejumlah petinggi perusahaan besar AS, termasuk CEO Nvidia Jensen Huang dan CEO Tesla Elon Musk.
Trump disambut secara meriah saat tiba di Great Hall of The People pada Kamis (14/5) siang waktu Beijing. Kedatangan Trump disambut karpet merah dan barisan ratusan pelajar China yang membawa bendera kecil AS dan China sambil meneriakkan ucapan selamat datang.
Kedua presiden juga dijadwalkan menghadiri jamuan makan malam kenegaraan sebelum Trump melanjutkan agenda kunjungan ke Temple of Heaven, situs bersejarah peninggalan kekaisaran China.
Dalam kesempatan itu, Xi Jinping juga menantikan diskusi lanjutan terkait isu perdagangan, terutama tarif yang dijatuhkan Trump selama ini.
Kedatangan Trump ke China untuk bertemu Xi Jinping itu menjadi sorotan karena berlangsung di tengah hubungan Washington dan Beijing yang masih dipenuhi ketegangan, terutama setelah perang dagang kembali memanas dalam beberapa tahun terakhir.
Trump sebelumnya sempat mengunjungi China pada 2017. Namun setelah itu, ia memberlakukan berbagai tarif dan pembatasan terhadap produk asal China.
Ketegangan dagang kembali meningkat usai Trump kembali ke Gedung Putih tahun lalu, sebelum kedua negara menyepakati gencatan sementara tarif pada Oktober 2025.
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]
