Rombongan Trump Buang Barang dari China, Perang Spionase AS-Tiongkok
CNN Indonesia
Minggu, 17 Mei 2026 09:05 WIB
Bagikan:
url telah tercopy
Kunjungan Presiden AS Donald Trump ke China bertemu Presiden Xi Jinping. (AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Jakarta, CNN Indonesia --
Pertemuan bersejarah antara Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping berjalan sukses. Kedua pemimpin saling memuji.
Namun saat akan meninggalkan China, seluruh penumpang rombongan Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang menumpang pesawat Kepresidenan Air Force On harus membuang semua barang yang dibawa selama di China, sesaat sebelum memasuki pesawat pada Jumat (15/5).
Salah satu jurnalis AS dari The New York Times Emily Goodin mengungkapkan bahwa staf Gedung Putih memerintahkan semua barang dari China tidak boleh masuk ke dalam Air Force One.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Staf Amerika mengambil semua barang yang dibagikan oleh pejabat China - kartu identitas, telepon genggam sekali pakai dari staf Gedung Putih, lencana delegasi - mengumpulkannya sebelum kami naik AF1 (Air Force One) dan membuangnya ke tempat sampah di bawah tangga," demikian tulis Goodin dalam akun X.
"Tidak ada barang dari China yang diizinkan masuk ke pesawat. Kami akan segera berangkat ke Amerika," ia melanjutkan.
Meskipun hal itu merupakan protokol kepresidenan, namun dugaan kuat mengacu pada kekhawatiran aksi penyadapan untuk kepentingan China.
Bisa dimaklumi, sebab Badan keamanan nasional dan intelijen AS penah menuduh China berupaya melemahkan Amerika melalui kerja rahasia dan serangan siber - seperti Salt Typhoon, kelompok yang telah melakukan serangan terhadap infrastruktur AS. Ia diyakini sebagai aktor yang disponsori negara China.
Namun terlepas dari ketegangan yang telah berlangsung lama, Trump dan Presiden China Xi Jinping tampak menunjukkan sikap ramah, secara terbuka merayakan keberhasilan satu sama lain sambil membahas topik-topik sensitif.
Secara historis, AS dan China memiliki hubungan yang naik turun, ditandai dengan daya saing ekonomi dan teknologi, serta skeptisisme terhadap intervensi asing, khususnya terkait Taiwan.
Inilah yang membuat intelijen kedua negara aktif beroperasi.
Saling tangkap
Bukan sekali dua kali AS kebobolan aksi intelijen. Bahkan sebagian terungkap secara terang-terangan.
Terbaru, Mantan Wali Kota Arcadia di Amerika Serikat, Eileen Wang, membuat laporan jujur mengaku menjadi agen untuk pemerintah China. NBC News melaporkan Wang didakwa atas tuduhan bertindak secara ilegal sebagai agen pemerintah asing dan disebut telah setuju untuk mengaku bersalah. Namun saat hadir di pengadilan, Senin (11/5), ia dibebaskan dengan jaminan sebesar US$25 ribu atau sekitar Rp430 juta.
Wang merupakan wali kota Arcadia, wilayah Los Angeles County, California, menjabat sejak 2022. Jaksa mengatakan Wang dan rekannya, Yaoning "Mike" Sun, mempromosikan propaganda pro-PRC melalui situs web bernama "U.S. News Center". PRC merujuk pada People's Republic of China atau Republik Rakyat China (RRC).
Kasus yang tak kalah menggemparkan terjadi tahun lalu. Departemen Kehakiman Amerika Serikat (AS) menyatakan dua warga negara China telah ditangkap karena melakukan spionase dan diduga berusaha merekrut anggota Angkatan Laut AS untuk bertugas sebagai aset intelijen. Keduanya adalah Yuance Chen (38) dan Liren Lai (39).
"Kasus ini menggarisbawahi upaya berkelanjutan dan agresif pemerintah China untuk menyusup ke militer kita dan merusak keamanan nasional kita dari dalam," kata Jaksa Agung Pamela Bondi dalam sebuah pernyataan, diberitakan AFP.
Menurut pengaduan pidana, Lai merekrut Chen, seorang penduduk tetap sah AS, untuk bekerja di Kementerian Keamanan Negara China pada 2021.
Bahkan, Pusat Kontraintelijen dan Keamanan Nasional Amerika Serikat (AS) memperingatkan bahwa intelijen China menggunakan metode penipuan untuk menargetkan pegawai pemerintah Amerika saat ini dan sebelumnya untuk perekrutan.
Peringatan tersebut muncul di tengah pemecatan massal pegawai federal yang dilancarkan oleh Departemen Efisiensi Pemerintahan (DOGE) pimpinan miliarder Elon Musk.
"Entitas intelijen asing, khususnya yang ada di China, menargetkan karyawan pemerintah AS (USG) saat ini dan sebelumnya untuk direkrut dengan menyamar sebagai perusahaan konsultan, perekrut perusahaan, lembaga think tank, dan entitas lain di situs jejaring sosial dan profesional," kata pusat tersebut dalam sebuah buletin, yang dikutip Reuters, 9 April 2025.
Bahkan demi memuluskan penyusupan intelijennya, China tak tanggung-tanggung telah mencapai kesepakatan rahasia dengan Kuba untuk membangun fasilitas penyadapan elektronik di sana, kira-kira 160 km dari Florida beberapa tahun silam. Hal itu dibocorkan oleh media kenamaan Wall Street Journal, tapi pemerintah Amerika Serikat meragukannya.
Laman theguardian menulis instalasi mata-mata semacam itu akan memungkinkan Beijing mengumpulkan komunikasi elektronik dari Amerika Serikat bagian tenggara, yang menampung banyak pangkalan militer AS. Selain itu juga bisa untuk memantau lalu lintas kapal.
Markas besar US Central Command sampai Fort Liberty, basis militer terbesar AS, berada di sekitar area pengintaian itu. Kuba dan China kabarnya sudah mencapai kesepakatan secara prinsip, di mana China membayar miliaran dolar AS.
Tapi kabar pembangunan fasilitas mata-mata ini dibantah semua pihak.
"Kami telah melihatnya dan laporan ini tidak akurat," cetus John Kirby, juru bicara dewan keamanan nasional Gedung Putih.
Di sisi lain, ia mengakui AS punya kekhawatiran nyata terhadap relasi antara China dan Kuba. Seorang sumber mantan pejabat intelijen AS mengatakan pos penyadapan China di Kuba akan menjadi masalah besar jika sungguh ada.
Pejabat AS dan Inggris juga pernah menuduh China menyadap jutaan warganya. Mereka mengajukan tuntutan, sanksi, dan menuduh China melakukan kampanye spionase dunia maya yang merugikan jutaan orang termasuk anggota parlemen, akademisi dan jurnalis, serta perusahaan, dan kontraktor pertahanan.
Caranya, kelompok peretas Advanced Persistent Threat 31 atau "APT31", sebagai cabang dari Kementerian Keamanan Negara China, bekerja. Salah satu target spionase ini adalah penyedia peralatan telepon seluler 5G dan teknologi nirkabel. Bahkan pasangan pejabat senior dan anggota parlemen AS menjadi sasaran.
"Tujuan dari operasi peretasan global ini adalah untuk menindas kritik terhadap rezim China, mengkompromikan institusi pemerintah, dan mencuri rahasia dagang," kata Wakil Jaksa Agung AS Lisa Monaco dalam sebuah pernyataan, dikutip dari Reuters, 26 Maret 2024.
Para pejabat menyusun daftar sasaran tuduhan kejahatan yang disasar China, termasuk staf Gedung Putih, senator AS, anggota parlemen Inggris, dan pejabat pemerintah di seluruh dunia yang mengkritik Beijing.
Menurut mereka, sedikit jumlah korban yang dapat diidentifikasi namanya. Namun para pejabat AS mengatakan kegiatan mata-mata yang dilakukan para peretas selama lebih dari satu dekade telah membahayakan pertahanan dan berbagai perusahaan, termasuk perusahaan baja, energi, dan pakaian jadi berbasis AS.
Bersambung ke halaman berikutnya...
Namun, AS pun tak mau ketinggalan menyusupkan orang-orangnya ke negeri tirai bambu itu. Sejak 2010, mata-mata CIA terus berkeliaran di China. Mereka Para pejabat Amerika, baik yang masih menjabat maupun yang sudah pensiun,kata laporan New York Times.com, 2019 silam.
Mengetahui negaranya sedang diintai, otoritas China membalas dan memburu para mata-mata AS lebih keras lagi. Mereka secara sistematis membongkar operasi mata-mata CIA di negara itu membunuh atau memenjarakan lebih dari selusin informan selama dua tahun dan melumpuhkan pengumpulan intelijen di sana selama bertahun-tahun setelahnya.
Ini merupakan yang terburuk dalam beberapa dekade, dan "hal itu memicu kepanikan di kalangan badan intelijen dan penegak hukum Washington untuk mengatasi dampaknya, tetapi para penyelidik sangat terpecah pendapat mengenainya," tulis New York Times.
Pada 2025 misalnya, pemerintah China memburu tiga agen intelijen AS atas tuduhan serangan siber saat gelaran Asian Winter Games 2025 pada Februari lalu.Kepolisian kota Harbin menyatakan ketiga pelaku merupakan agen intelijen Badan Keamanan Nasional AS (NSA).
Polisi China menyebut ketiga pelaku bernama Katheryn A. Wilson, Robert J. Snelling, dan Stephen W. Johnson. Namun, polisi tidak mengungkapkan proses penyelidikan ataupun dugaan keberadaan ketiga orang tersebut.
Kantor berita Xinhua melaporkan pada 15 April 2025, serangan siber yang diduga didalangi AS mengincar sistem penyelenggaraan Asian Winter Games yang mencakup "data pribadi yang berjumlah besar". Polisi China menyatakan, para pelaku juga menyerang infrastruktur krusial di Provinsi Heilongjiang.Termasuk energi, transportasi, pengairan, telekomunikasi, dan riset pertahanan. Peretas AS pun disebut menyerang perusahaan teknologi Huawei.
Juru bicara Kementerian Luar Negeri China, Lin Jian mengecam AS yang disebutnya mengincar infrastruktur krusial China dengan serangan siber.
Kasus Wei
Namun di antara sejumlah kasus intelijen yang terungkap, kisah Wei bisa jadi yang paling menggemparkan.
Wei adalah Anggota angkatan Laut AS yang memasok data rahasia ke China. Sebagai imbalan atas informasi ini, Wei menerima lebih dari US$12.000 selama 18 bulan.
Kasus ini diselidiki oleh FBI dan Dinas Investigasi Kriminal Angkatan Laut dan dituntut oleh Asisten Jaksa AS John Parmley dari Kantor Jaksa AS untuk Distrik Selatan California. Adam Barry, mantan Jaksa Penuntut dari Bagian Kontra Intelijen dan Pengendalian Ekspor Divisi Keamanan Nasional, membantu dalam penuntutan Januari 2026 lalu.
Dalam salah satu pencurian data Angkatan Laut AS terbesarnya, Wei menjual kepada petugas intelijen China setidaknya 30 manual teknis dan operasional tentang sistem Angkatan Laut AS.
Manual-manual ini berisi peringatan kontrol ekspor dan merinci pengoperasian berbagai sistem di atas kapal Essex dan kapal serupa, termasuk tenaga, kemudi, kontrol senjata, pesawat terbang dan lift dek, serta kontrol kerusakan dan kecelakaan.
Secara total, Wei menjual kepada petugas intelijen sekitar 60 manual teknis dan operasional tentang kapal Angkatan Laut AS, serta puluhan foto dan dokumen tentang Angkatan Laut AS dan penugasan Wei di Essex. Banyak dari manual tersebut berisi peringatan kontrol ekspor yang mencolok di halaman sampulnya.
Selama persidangan, pemerintah menyajikan bukti termasuk percakapan telepon, pesan elektronik, dan pesan audio yang Wei tukar dengan agen penghubungnya dari Tiongkok.
Pesan-pesan ini menunjukkan bagaimana mereka berkomunikasi, apa yang mereka bicarakan, kebutuhan akan kerahasiaan, upaya yang mereka lakukan untuk menutupi jejak mereka, tugas-tugas yang diberikan oleh agen penghubungnya, dan bagaimana Wei dibayar untuk pekerjaannya melalui metode pembayaran online.
Seiring berkembangnya hubungan mereka, Wei memanggil pengendalinya dengan sebutan "Kakak Andy" dan menuruti permintaan untuk merahasiakan hubungan mereka dengan menggunakan berbagai aplikasi terenkripsi, menghapus pesan dan akun, menggunakan "tempat penyimpanan rahasia" digital yang menghilang dalam 72 jam; dan menggunakan komputer dan telepon baru yang disediakan oleh pengendalinya dikutip dari laman resmi pengadilan pemerintah AS, justice.gov.
Pemerintah mengatakan kepada juri bahwa bukti menunjukkan Wei menyadari bahwa apa yang dilakukannya salah. Dia baru saja menerima pelatihan dari Angkatan Laut tentang cara mendeteksi upaya perekrutan dari pemerintah asing; dia berusaha menyembunyikan aktivitasnya; dan dia mencari informasi di internet tentang kasus lain di mana seorang pelaut Angkatan Laut AS dihukum karena spionase, bahkan membaca siaran pers Departemen Kehakiman tentang kasus tersebut.
Sebagian besar bukti menunjukkan evolusi hubungan Wei dengan agen penghubungnya - meningkatnya keinginan Wei untuk mengumpulkan informasi yang semakin sensitif, dan penggunaan teknik intelijen oleh petugas intelijen untuk terus mengembangkan Wei sebagai mata-mata dan menyembunyikan hubungan serta aktivitas mereka dari otoritas AS.
Misalnya, juri melihat foto-foto kwitansi tulisan tangan yang dibuat Wei dan dikirim ke agen penghubungnya untuk dibayar, serta percakapan antara Wei dan agen penghubungnya mengenai tawaran yang semakin murah hati dari agen penghubung kepada Wei, seperti perjalanan untuk Wei dan ibunya ke Tiongkok.
Selain itu, juri juga diperlihatkan dokumen dan catatan yang diperoleh dari akun elektronik yang menunjukkan identitas petugas intelijen tersebut sebagai petugas intelijen RRT, termasuk foto dan dokumen identitas.
Selama wawancara pasca penangkapan, Wei mengakui bahwa ia memberikan ribuan halaman manual teknis dan operasional serta data yang dikontrol ekspor tentang kapal perang permukaan Angkatan Laut AS kepada petugas intelijen tersebut, dan bahwa petugas intelijen itu membayarnya ribuan dolar untuk materi tersebut.
Ia juga mengakui bahwa ia tahu tindakannya salah dan bahwa ia telah mencoba menyembunyikan aktivitasnya. Ketika agen yang mewawancarai bertanya kepada Wei bagaimana ia akan menggambarkan apa yang telah ia lakukan dengan petugas intelijen tersebut, Wei menjawab, "spionase."
Akibat perbuatannya, Wei dijatuhi hukuman lebih dari 16 tahun penjara.
Perang spionase meningkat
Tidak heran, para aktivis pro-demokrasi China di AS semakin waspada terhadap siapa yang mungkin mengawasi mereka.
Menurut mantan diplomat Jim Lewis, yang memiliki pengalaman langsung dengan badan intelijen China selama lebih dari 30 tahun, sejak Presiden Tiongkok Xi Jinping berkuasa pada tahun 2012, mata-mata China tampaknya tidak lagi takut pada AS. Kementerian Keamanan Negara Tiongkok, atau MSS, adalah badan mata-mata terbesar dan paling aktif di dunia, menurut Lewis.
"Ini - dari segi skala, cakupan, dan keberanian - adalah operasi spionase terbesar terhadap AS dalam sejarahnya," kata Lewis dikutip dari CBSnews.com.
Menurut penilaian terbaru dari badan intelijen Amerika, China adalah ancaman siber yang paling aktif dan gigih bagi AS, tetapi peretasan belum menggantikan upaya Beijing dalam mengejar intelijen manusia secara tradisional .
Partai Komunis Tiongkok memanfaatkan jaringan agen rahasia di seluruh dunia untuk memantau dan memengaruhi peristiwa di luar perbatasannya sendiri. Mereka juga mengawasi dan mengintimidasi para pembangkang Tiongkok di AS.
Sebuah video propaganda Kementerian Keamanan Negara yang diunggah di jejaring sosial terbesar China, WeChat, tahun lalu membanggakan bahwa badan intelijen tersebut "merasakan hal-hal sebelum terjadi" dan "memerangi kejahatan." Video tersebut berfungsi sebagai pesan publik kepada musuh asing dan warga negara China sendiri tentang meningkatnya kekuatan kementerian tersebut.
Target utama Xi adalah rakyat China sendiri, yang sebagian di antaranya tinggal di AS. Jadi, untuk mempertahankan kekuasaan absolut di dalam negeri, Xi mengarahkan pandangannya ke luar negeri, kata Lewis.
"Xi Jinping mungkin ingat bahwa banyak revolusi dimulai di luar negara asal, dan dia tidak ingin hal itu terjadi di Tiongkok," kata Lewis.
"Jadi ada upaya besar untuk memperhatikan populasi ekspatriat," ia menambahkan.
Untuk mencapai tujuan tersebut, China secara diam-diam membuka kantor polisi luar negeri di tengah Kota New York. Warga China yang tinggal di luar negeri dapat memperbarui dokumen pemerintah di kantor polisi tersebut, yang ditemukan pada tahun 2022, tetapi jaksa federal mengatakan tujuan utama pos terdepan itu adalah untuk menargetkan dan melecehkan para pembangkang China.
"Mereka telah melakukannya di Belanda, mereka telah melakukannya di Kanada. Tetapi gagasan untuk membuka kantor polisi di negara lain, itu merupakan bentuk penghinaan terhadap kedaulatan negara tersebut," kata Lewis.
Tapi AS pun tak kalah agresif. Pada 2021, pakar militer China mengungkapkan bahwa Amerika Serikat (AS) melakukan sedikitnya 2.000 operasi mata-mata terhadap China sepanjang tahun itu.
Misi mata-mata AS disebut "membahayakan keamanan kedaulatan China dan meningkatkan ketegangan kawasan".
Sebab "Target misi-misi ini termasuk pulau-pulau dan karang yang dikuasai China di Laut China Selatan, juga area pantai di daratan utama China," sebut peneliti pada Akademi Ilmu Militer pada Tentara Pembebasan Rakyat, Cao Yanzhong, seperti dilaporkan South China Morning Post.
Mengacu pada jalur pelayaran kapal-kapal perang dan rute penerbangan pesawat tempur AS di perairan Laut China Selatan yang menjadi sengketa, Cao menyebut bahwa 'operasi mata-mata jarak dekat itu ditujukan pada China'.
Jadi meski di permukaan kedua pemimpin dunia ini tampak saling memuji, namun perang intelijen keduanya justeru makin panas.