Israel Berat Hati Ngaku Tak Bisa Basmi Total Senjata Hizbullah

CNN Indonesia
Senin, 18 Mei 2026 17:19 WIB
Seorang sumber Israel mengakui persenjataan milisi Hizbullah tak akan bisa dimusnahkan dengan mudah.
Ilustrasi. Seorang sumber Israel mengakui persenjataan milisi Hizbullah tak akan bisa dimusnahkan dengan mudah. Foto: AFP/SAMUEL ARANDA
Jakarta, CNN Indonesia --

Seorang sumber keamanan Israel mengakui persenjataan kelompok milisi Hizbullah Lebanon tak akan bisa dimusnahkan dengan mudah.

Kepada lembaga siaran publik Israel KAN, sumber tersebut mengatakan senjata-senjata Hizbullah tidak bisa dibasmi sepenuhnya, bahkan jika Negeri Zionis menduduki seluruh Lebanon selatan. Ia meyakini hal itu hanya bisa tercapai dengan adanya "terobosan politik".

"Bahkan jika kami menjajah seluruh wilayah Lebanon selatan, seperti yang disarankan beberapa pihak, langkah ini tidak akan mampu menghancurkan persenjataan Hizbullah," ucapnya, seperti dikutip Anadolu Agency.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Hizbullah dapat dilemahkan lebih lanjut melalui pembunuhan yang ditargetkan, serangan terhadap infrastruktur, dan langkah-langkah operasional tambahan, tetapi kami mengakui bahwa tak ada solusi radikal yang akan menghilangkan ancaman dalam waktu dekat," lanjutnya.

Israel dan Hizbullah berperang sejak Negeri Zionis meluncurkan agresi brutal ke Jalur Gaza, Palestina. Israel dan Hizbullah sempat gencatan senjata pada November 2024, namun masing-masing pihak terus melakukan pelanggaran dengan meluncurkan serangan ke satu sama lain.

Pertempuran kedua pihak semakin panas pada awal Maret setelah Amerika Serikat (AS) dan Israel menyerang Iran, sekutu terdekat kelompok tersebut, pada 28 Februari.

Per 16 April, AS mengumumkan gencatan senjata kembali keduanya, yang hingga kini berlaku setelah mengalami beberapa kali perpanjangan. Meski begitu, baku tembak di antara Hizbullah dan Israel masih terus terjadi.

Menurut sumber keamanan Israel, pertempuran antara Israel dan Hizbullah tidak cukup dihentikan dengan aksi militer saja. Ia menuturkan militer Negeri Zionis telah menerapkan berbagai langkah guna mengurangi dampak serangan drone Hizbullah dengan total biaya sekitar US$171.500 atau sekitar Rp3 miliar. Namun, hal ini "bukan solusi".

"Diperlukan terobosan politik, selain mempertahankan pencegahan militer jangka panjang, dalam upaya mengubah realitas di lapangan," ujarnya.

Israel dan Lebanon saat ini terlibat negosiasi yang akan menjadi pendahuluan untuk pembicaraan damai. Negosiasi ini akan memasuki putaran keempat pada awal Juni.

Pemerintah Lebanon sedang berupaya menerapkan rencana untuk memastikan semua senjata, termasuk milik Hizbullah, berada di bawah kendali negara sepenuhnya. Akan tetapi, Hizbullah menolak dan bersikeras mempertahankan persenjataannya.

Sejak 2 Maret, serangan Israel terhadap Lebanon telah menewaskan lebih dari 2.969 orang dan melukai 9.112 lainnya. Lebih dari 1,6 juta orang terpaksa mengungsi imbas perang kedua pihak.

(blq/dna) Add as a preferred
source on Google