Pakistan Dinilai Hanya Jadi Fasilitator Logistik dalam Konflik Iran-AS

CNN Indonesia
Senin, 25 Mei 2026 10:45 WIB
Ilustrasi bendera Pakistan. Foto: iStockphoto/bergserg
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakistan disebut-sebut gagal memainkan peran sebagai mediator utama dalam konflik Iran dan Amerika Serikat (AS), meski Islamabad berupaya keras menampilkan diri sebagai pihak penengah dalam perundingan kedua negara.

Pakistan disebut lebih berperan sebagai fasilitator logistik ketimbang mediator yang benar-benar mampu memengaruhi arah negosiasi.

Hal ini diperkuat laporan terbaru yang mengutip pejabat anonim AS, yang menyebut Iran sempat memindahkan sejumlah pesawat militer dan sipil, termasuk pesawat pengintai RC-130, ke Pangkalan Udara Nur Khan di Pakistan selama konflik Iran-AS berlangsung.

Pesawat-pesawat tersebut diduga dipindahkan untuk menghindari potensi serangan AS. Pakistan mengakui keberadaan pesawat Iran di wilayahnya, namun menyebut hal itu terkait kebutuhan logistik diplomatik dalam pembahasan gencatan senjata.

Meski Islamabad berusaha memosisikan diri sebagai mediator, jurnalis senior Balocistan, Rachmatullah Achakzai menilai realitas di lapangan menunjukkan peran Pakistan sangat terbatas.

"Pakistan bukan mediator, melainkan hanya fasilitator pembicaraan," ucap Achakzai.

Menurutnya, perkembangan negosiasi langsung antara delegasi Iran dan AS di Islamabad memperlihatkan bahwa Pakistan tidak memiliki pengaruh nyata untuk menjembatani kesenjangan kepercayaan antara kedua pihak.

Hubungan AS-Pakistan

Pakistan juga disebut tidak memiliki kendali atas eskalasi pasca-perundingan, termasuk ketika AS mengancam melakukan blokade di Selat Hormuz.

"Jika dilihat lebih dalam, Pakistan pada awalnya tampak sebagai pemain penting dalam negosiasi, tetapi perkembangan berikutnya menunjukkan bahwa Islamabad hanya menjadi 'pengantar pesan' dalam permainan mediasi," ujarnya.

Achakzai mengatakan munculnya Pakistan sebagai lokasi pembicaraan sempat dianggap tidak biasa karena citra internasional negara tersebut lebih sering dikaitkan dengan terorisme, ekstremisme, inflasi, kemiskinan, dan krisis ekonomi.

Namun menurutnya, hubungan historis Pakistan dengan AS serta kedekatan Kepala Staf Angkatan Darat Pakistan Asim Munir dengan Washington menjadi faktor penting yang membuat Islamabad dipilih sebagai tempat pembicaraan.

"Iran menyetujui Pakistan sebagai lokasi netral karena tidak ada pangkalan militer AS di sana," tutur Achakzai.

Meski demikian, ia menilai Tehran tetap tidak sepenuhnya percaya kepada Islamabad.

Iran disebut mencurigai Pakistan berbagi informasi penting dengan AS, ditambah hubungan militer Pakistan dengan Arab Saudi yang selama ini menjadi rival regional Iran.

Achakzai juga menyoroti sikap Pakistan yang tidak secara langsung menyebut AS ketika mengutuk serangan terhadap Iran dan pembunuhan Ayatollah Ali Khamenei.

Selain itu, pengiriman pasukan Pakistan ke Arab Saudi di masa lalu juga disebut memperkuat kecurigaan Tehran terhadap netralitas Islamabad.

Citra Pakistan dan peran mediator

Di sisi lain, Israel juga disebut memandang Pakistan bukan pihak yang kredibel dalam proses mediasi. Israel bahkan dilaporkan hanya menerima keterlibatan Pakistan demi menjaga keselarasan dengan kebijakan AS.

Posisi Islamabad semakin rumit setelah Menteri Pertahanan Pakistan melontarkan kritik keras terhadap Israel dengan menyebut negara tersebut sebagai "jahat," "kutukan bagi kemanusiaan," dan "kanker."

Pakistan sendiri hingga kini tidak mengakui Israel dan dikenal mendukung perjuangan Palestina.

Achakzai menilai kombinasi sejarah Pakistan, hubungan ideologis keagamaan, dan catatan diplomatik yang rumit membuat negara itu sulit diterima sebagai mediator netral.

"Citra negatif Pakistan akibat keterlibatannya dalam berbagai isu terorisme global, hubungan ideologis, dan kegagalan mediasi sebelumnya membatasi perannya," ungkapnya.

Menurutnya, peran Pakistan akhirnya hanya berada di pinggiran proses diplomatik, sebatas menyediakan tempat dan dukungan logistik bagi pertemuan antara pihak-pihak yang bertikai.

"Pakistan tidak membentuk arah negosiasi, melainkan hanya menyediakan platform diplomatik," pungkas Achakzai.

(dna)
KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK