Darurat Ebola, Negara Afrika Ini Dilanda Demo hingga Chaos
Ratusan warga Kenya berunjuk rasa memprotes rencana pembangunan fasilitas karantina Ebola di pangkalan militer.
Para demonstran berkerumun di Kota Nanyuki, beberapa hari setelah Pengadilan Tinggi Kenya memerintahkan penangguhan rencana pembangunan tersebut.
Fasilitas ini diprotes karena warga tak terima Kenya ingin dijadikan tempat penampungan orang-orang, khususnya warga Amerika Serikat (AS), yang terpapar virus Ebola.
Padahal, Kenya belum mendeteksi kasus tersebut, meskipun negara-negara tetangganya seperti Republik Demokratik Kongo dan Uganda sudah mengalaminya.
Foto-foto yang diperoleh Reuters dan Associated Press (AP) menunjukkan kerumunan orang memadati jalanan menuju pangkalan udara Laikipia, yang ingin dijadikan tempat karantina.
Para warga meniup peluit dan beberapa lainnya menaiki truk pikap. Asap terlihat mengepul dari ban yang dibakar para pedemo.
Aparat kepolisian dan militer Kenya pun diperbanyak untuk mengamankan situasi.
Pejabat AS sebelumnya mengatakan fasilitas karantina berkapasitas 50 tempat tidur rencananya dibangun di pangkalan Laikipia. Fasilitas ini dibuat untuk merawat warga AS yang terpapar virus namun belum bergejala.
Kendati demikian, warga Kenya melayangkan gugatan ke pengadilan untuk menentang pembangunan fasilitas. Alasannya, pembangunan tersebut dapat membahayakan kesehatan masyarakat, mengingat sistem kesehatan Kenya yang belum mumpuni. Selain itu, perjanjian mengenai pembangunan ini juga dinilai kurang transparan.
Pengadilan Kenya pada Jumat (29/5) menerima gugatan tersebut dan memerintahkan rencana pembangunan dihentikan sementara.
Rencananya, pemerintah AS akan mengalokasikan dana sebesar US$13,5 juta untuk upaya kesiapsagaan Ebola di Kenya. Tetapi, hanya ada sedikit rincian mengenai pusat karantina yang hendak dibangun.
Menteri Kesehatan Kenya Aden Duale pada Sabtu (30/5) menjelaskan bahwa kesepakatan ini merupakan bagian dari upaya yang lebih luas untuk memperkuat sistem tanggap darurat. Ia juga meyakinkan bahwa pusat karantina itu ditujukan untuk "semua orang", bukan cuma warga AS.
https://www.aljazeera.com/news/2026/6/1/kenyans-protest-planned-us-ebola-quarantine-facility
Patrick Wahome, salah satu penyelenggara demonstrasi, mengatakan kepada Reuters bahwa para pengunjuk rasa menginginkan fasilitas tersebut ditutup selamanya pada Selasa, 9 Juni.
"Nanyuki adalah kota yang sangat kecil. Personel militer yang bertugas di pangkalan ... tinggal bersama kami. Anak-anak kami sekolah di sekolah yang sama dan itu berarti jika ada infeksi, kita semua akan terinfeksi," kata Wahome, seperti dikutip Al Jazeera.
"Kami melakukan aksi protes demi hidup kami," tegasnya.
Malin Ndegwa, warga lainnya, mengatakan Kenya tidak boleh sampai terpapar virus karena menerima warga asing yang sakit. Kenya sendiri, kata dia, bukan pusat penyebaran wabah.
"Mengapa mereka tidak melakukannya di DRC (Kongo)? Mengapa mereka tidak melakukannya di Uganda? Mengapa mereka harus membawanya ke sini?" tanyanya.
"Kami katakan, kami tegaskan, tidak ada negosiasi. Tidak ada partisipasi publik. Kami tidak menginginkan apa pun. Kami ingin fasilitas itu dikeluarkan dari kota kami. Kami ingin fasilitas itu dikeluarkan dari Kenya," tukasnya kepada AP.
(blq/bac)