Menkeu AS Bessent Klaim Sita Kripto Iran Rp17,8 T: Teheran Kolaps

CNN Indonesia
Rabu, 03 Jun 2026 10:35 WIB
Menkeu AS Scott Bessent klaim sita aset kripto Iran Rp17,8 triliun. (AFP/SAUL LOEB)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Keuangan Amerika Serikat (AS) Scott Bessent mengaku Washington telah menyita aset mata uang kripto Iran senilai sekitar US$1 miliar (sekitar Rp17,8 triliun).

Dalam Forum Ekonomi Nasional Reagan, Bessent mengatakan kepada Fox Business bahwa perekonomian Iran nyaris kolaps buntut Operasi Economic Fury yang dilancarkan AS. Ini merupakan istilah yang merujuk pada kampanye tekanan ekonomi AS terhadap Iran.

"Kami telah menyita sekitar satu miliar dolar kripto milik mereka," ujarnya.

"Saya rasa antara lima setengah hingga enam minggu kampanye militer yang sangat sukses dan kemudian Operasi Economic Fury di mana kita benar-benar memutus pasokan mereka. Mereka sekarang berada di ujung batas kemampuan finansial mereka," lanjutnya.

Bessent berujar karena operasi ini, ia memprediksi sekitar 40-50 persen pasukan militer Iran tidak digaji oleh pemerintah. Inflasi bahkan bisa jadi melampaui 200 persen.

"Inflasi mungkin lebih dari 200 persen. Mereka terpaksa memberikan kupon makanan. Mereka mematikan internet," ucapnya.

AS meluncurkan serangan ke Iran pada 28 Februari lalu. Bersamaan dengan itu, AS juga menekan perekonomian Iran dengan menyita aset-aset Teheran, membekukan rekening bank, serta mendesak pemerintah asing untuk memutus hubungan dengan Teheran.

Bessent menyebut barang-barang yang disasar antara lain vila, rumah, dan properti. Ia mengeklaim barang-barang tersebut dicuri dari rakyat Iran.

"Kami bekerja sama dengan sekutu kami di seluruh Eropa untuk merebut vila, rumah, dan properti. Ini adalah uang yang dicuri dari rakyat Iran," kata Bessent.

Bessent menyebut rezim Iran menyalahgunakan dana sebesar 400-500 juta dolar (sekitar Rp7,1 triliun-Rp8,9 triliun) setiap bulan dan membagi keuntungannya dengan puluhan pemimpin, sebelum akhirnya AS turun tangan.

Pada kesempatan itu, Bessent turut menyinggung negosiasi yang sedang berlangsung antara AS-Iran. Ia menyoroti perbedaan antara faksi-faksi yang terlibat dalam pembicaraan.

"Kita tidak mengalami perubahan rezim, tapi kita mengubah rezim. Para pemimpin tingkat pertama dipenggal, tingkat kedua juga dipenggal. Jadi kita sedang berurusan dengan tingkat ketiga," ucapnya.

"Dan ini sangat sulit karena di satu sisi, kita punya teokrasi dengan para ulama. Di sisi lain, kita memiliki otokrasi preman dengan Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC). Dan Anda harus meyakinkan kedua belah pihak," tutur Bessent.

Sang Bendahara Negara itu juga bicara mengenai keputusan Iran menyerang negara-negara tetangganya. Ia menilai hal itu cuma akan membuat rezim Iran jauh lebih rentan.

"Mereka membuat pekerjaan saya jauh lebih mudah karena sebelummnya banyak sekutu besar GCC Teluk yang agak kurang transparan tentang sistem perbankan mereka, seperti, 'Oh tidak, kami tidak punya minyak Iran," kata Bessent.

(blq/bac)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK