Iran Ancam AS: Tinggalkan Wilayah Kami Jika Mau Selamat!

CNN Indonesia
Rabu, 10 Jun 2026 13:15 WIB
(FILES) (FILES) Iranian Foreign Minister Abbas Araghchi adjusts his glasses during a joint press conference with his Russian counterpart following their talks in Moscow on December 17, 2025. EU terrorist designation of Iran Guards a 'major strategic
Menlu Iran Abbas Araghchi. Foto: (AFP/Ramil Sitdikov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengancam Amerika Serikat usai meluncurkan serangan terbaru ke negara Timur Tengah ini pada Selasa (9/6).

"Meskipun kalah di medan perang, AS memilih untuk menguji tekad kami," tulis Araghchi di X, Rabu.

Araghchi menegaskan Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) tidak akan membiarkan satu serangan atau ancaman apapun tanpa balasan.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tinggalkan wilayah kami jika Anda ingin aman," kata dia

Araghci lalu berujar, "Sejarah Teluk Persia memiliki banyak bab tentang nasib buruk orang luar yang mengganggu."

Komentar Araghchi muncul usai AS menggempur sejumlah titik di Jask, Sirik, dan Qeshm. Imbas gempuran tersebut, menara komunikasi dan dua tangki air Iran hancur.

Serangan AS dilakukan usai mereka menuduh Iran menembak pesawat Apache saat sedang patroli di Selat Hormuz pada Senin. Iran lalu membalas dengan meluncurkan serangan balasan ke pangkalan militer AS di Bahrain dan Yordania.

Di Bahrain, Iran menggempur pangkalan militer AS menggunakan drone.

"Sebagai tanggapan atas tindakan keji musuh, pesawat tempur angkatan laut IRGC melancarkan serangan drone terhadap Angkatan Laut ke-5 Bahrain pada pukul 02.30," demikian pernyataan IRGC , dikutip AFP.

IRGC juga menyerang pangkalan militer AS di Yordania menggunakan rudal.

Iran mengeklaim telah menghancurkan empat sasaran utama, termasuk sarang pesawat tempur F35 di pangkalan udara dan pusat komando kendali militer AS di Al-Azraq, Yordania.

AS dan Iran berperang sejak akhir Februari lalu. Mereka sempat gencatan senjata dan diperpanjang tanpa rincian lebih lanjut. Kesepakatan ini mencakup penghentian serangan ke Iran dan Lebanon.

Namun, Iran menuduh AS dan sekutunya Israel melanggar kesepakatan. Pertempuran pun hingga kini tetap berlanjut.

(isa/dna) Add as a preferred
source on Google