Masa Bodoh AS-Iran Damai, Netanyahu Ngotot Bakal Serang Lebanon
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu ngotot menyerang Lebanon meski Amerika Serikat (AS) dan Iran telah sepakat berdamai.
Ia menegaskan, pasukan Israel tak akan mundur dari wilayah Lebanon sampai semua ancaman sirna. Menurutnya, perjuangan Israel untuk mengamankan negeri belum berakhir.
"Israel harus terus berjaga-jaga, terus menjadi kuat, dan terus bertekad untuk membela diri sebisa mungkin," ujar Netanyahu, Senin (15/6), dikutip dari The Jerusalem Post.
Pernyataan Netanyahu ini merujuk pada konflik berbagai front yang terus pecah sejak Israel melancarkan agresi ke Jalur Gaza, Palestina. Ini termasuk pertempuran antara Israel dan kelompok milisi Hizbullah Lebanon, serta pertempuran di Jalur Gaza dan Suriah.
Menurut Netanyahu, Israel saat ini sudah berhasil memusnahkan nyaris semua teroris yang berpartisipasi dalam serangan Hamas, 7 Oktober 2023. Namun demikian, ia percaya masih ada 'satu lagi yang tersisa', yang harus segera dibasmi agar tak ada lagi ancaman di sekitar Israel.
"Dia juga akan dilenyapkan. Israel tidak akan membiarkan organisasi teroris berkemah di perbatasan kita," kata Netanyahu.
"Kami akan tetap berada di zona penyangga keamanan Lebanon selama diperlukan," ucapnya.
Ini merupakan pernyataan perdana Netanyahu setelah Presiden AS Donald Trump mengumumkan kesepakatan dengan Iran.
Trump berujar, kesepakatan ini mencakup perjanjian untuk mencabut blokade angkatan laut AS terhadap Iran. Perdana Menteri Pakistan Shehbaz Sharif juga mengatakan, kesepakatan ini meliputi perjanjian untuk menghentikan pertempuran di semua front, termasuk Lebanon yang sedang dibombardir Israel.
Kendati demikian, sejumlah menteri Israel pada Senin blak-blakan menolak dan menyatakan Israel tidak terikat perjanjian karena tidak terlibat dalam proses perundingan.
Dalam pidato yang sama, Netanyahu sempat menyinggung soal kesepakatan yang tercapai antara AS dan Iran.
Ia berujar, Israel hanya ingin memastikan Iran tak pernah memiliki senjata nuklir, 'dengan atau tidak adanya kesepakatan'.
Netanyahu pada kesempatan itu juga membela keputusannya meluncurkan serangan ke Iran. Menurutnya, serangan tersebut berhasil menghilangkan ancaman pemusnahan langsung yang dialami Israel.
"Bersama dengan teman-teman Amerika, kita memulai misi serangan terbesar dalam sejarah Israel. Kita telah menggagalkan para ilmuwan nuklir, membunuh para pemimpin rezim teroris, menghancurkan pabrik-pabrik nuklir, menghancurkan rudal dan sebagian besar pabrik produsen rudal," kata Netanyahu.
"Kita telah menyebabkan kerusakan yang sangat besar. Kita memperkirakan kerugiannya mencapai ratusan miliar dolar, dan beberapa memperkirakan bahkan mendekati satu triliun dolar. Ini kerusakan yang sangat besar bagi perekonomian Iran yang butuh waktu puluhan tahun untuk diperbaiki," ucapnya.
Netanyahu kemudian menyinggung tentang Trump yang menurutnya tidak selalu 'sepakat' dengannya. Ia lantas menambahkan bahwa kepentingan keamanan Israel merupakan hal yang perlu dipertahankan dengan bijak.
AS dan Iran akhirnya mencapai kesepakatan pada Minggu (14/6) setelah berbagai putaran pembicaraan berlangsung alot. Nota kesepahaman (MoU) disebut akan diteken secara resmi di Swiss pada Jumat (19/6).
Namun, hingga kini belum ada rincian mengenai isi kesepakatan. Wakil Presiden AS JD Vance berjanji detail MoU akan segera dirilis sebelum penandatanganan.
(blq/asr)