Strategi Perang Atrisi Iran Berhasil Bikin AS Loyo, Ini Buktinya
Setelah berperang sejak Februari lalu, Amerika Serikat dan Iran akhirnya meneken nota kesepahaman (MoU) yang menjadi kerangka kerja untuk perdamaian kedua negara.
MoU itu ditandatangani oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di lokasi terpisah. Trump menekennya di Prancis di sela pertemuan puncak G7, sedangkan Pezeshkian di Iran.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini tidak mudah," ujar Trump sebelum membubuhkan tanda tangan, Rabu (17/6).
Komentar Trump ini berbeda dengan Pezeshkian yang justru membanggakan kesepakatan yang menurutnya "cerminan suara suatu bangsa yang tak menukar kehormatan dan kemerdekaannya dengan cara apa pun."
Meski kedua negara mengaku menang, namun strategi Iran melawan negara adidaya itu terbukti membuat AS loyo.
Terbukti, AS gagal mengganti rezim teokrasi yang sudah bertahan sejak 1979. Menurut peneliti senior di Institut Studi Keamanan Nasional Israel Danny Citinowicz,serangan AS-Israel bukannya melengserkan rezim malah memperkuatnya.
"Kita berupaya menggulingkan rezim tersebut dengan dukungan AS, tetapi pada akhirnya Washington justru memberikan legitimasi dan memperkuat rezim yang sama yang ingin kita jatuhkan," kata Citrinowicz, dikutip Al Monitor.
MoU AS-Iran juga menunjukkan kemenangan telak bagi Teheran di bidang pertahanan udaranya. Program rudal balistik Iran sama sekali tidak dipersoalkan dalam kesepakatan tersebut.
Di MoU, yang tertera hanya tentang program nuklir Iran. Iran sepakat tak akan memperoleh atau mengembangkan senjata nuklir, tanpa menyinggung soal rudal mereka yang selama ini juga ditentang AS-Israel.
Strategi perang atrisi berhasil
Sejak pertama perang pecah, Iran selalu menyatakan siap untuk melanjutkan perang jangka panjang. Sementara Amerika Serikat berkali-kali menyatakan akan segera mengakhirinya dengan alasan sudah menang. Mengapa Iran begitu percaya diri mampu melawan perang dalam jangka panjang?
Para pengamat militer menyebut Iran sedang menggunakan strategi perang atrisi (atrition war), yaitu strategi untuk menguras ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Israel.
Fokus perang ini adalah perang berlarut-larut yang dirancang untuk menimbulkan biaya ekonomi dan psikologis yang tinggi tanpa harus terlibat dalam perang konvensional terbuka secara langsung. Strategi ini menggunakan "poros perlawanan" (proxy) dan taktik asimetris.
Pakar keamanan Timur Tengah dari lembaga kajian Royal United Services Institute (RUSI), Inggris, HA Hellyer, mengatakan pendekatan militer Iran saat ini bukan untuk mengalahkan Amerika Serikat atau Israel "dalam perang konvensional," melainkan untuk membuat konflik menjadi "berlarut-larut, tersebar secara regional, dan mahal secara ekonomi," katanya dikutip dari laman BBC.
Lihat Juga : |
Hal senada disampaikan Nicole Grajewski, asisten profesor di Centre for International Studies (CERI), Sciences Po, Prancis. Menurut dia, strategi Iran dengan perang atrisi, yaitu pendekatan militer yang bertujuan melemahkan lawan dengan menguras sumber daya dan menimbulkan kerugian berkelanjutan sampai kemampuan bertempur lawan melemah.
Strategi perang Iran telah membuahkan hasil. Hal itu didukung fakta bahwa harga yang ditanggung AS dan Israel dalam serangan ke Iran memakan dana yang tidak sedikit.
Beberapa hari setelah AS melancarkan operasi militer besar terhadap Iran, biaya perang yang harus ditanggung pembayar pajak AS mulai menjadi sorotan dengan nilai diperkirakan mencapai sekitar Rp15 triliun per hari.
Bahkan, setelah perang berakhir AS bersedia memberi kompensasi senilai US$300 miliar atau sekitar Rp5.400 triliun untuk merekonstruksi kerusakan yang ditimbulkan selama perang. Ganti rugi ini disebut akan diberikan bersama mitra regional. Mekanisme pelaksanaan rencana ini bakal dirampungkan dalam kesepakatan akhir.
Sementara Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan cadangan minyak akan habis dalam waktu satu bulan jika jalur pelayaran global Selat Hormuz tak dibuka, yang selama perang diblokade Iran. Trump tak menjelaskan dengan rinci cadangan minyak siapa yang dimaksud apakah AS atau global.
"Cadangan (minyak) kami akan habis dalam waktu empat pekan," kata Trump soal nota kesepahaman (MoU) dengan Iran, dikutip The Hill, Rabu (17/6).
Dia lalu berujar, "Anda tahu, ada cadangan di seluruh dunia, dan kita akan benar-benar kehabisan, dan akan ada saatnya kita tidak bisa mendapatkannya lagi."
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


