Selalu Langgar Gencatan Senjata, Israel Tetap Bombardir Lebanon
Israel kembali berulah melanggar kesepakatan gencatan senjata dengan aksi militer mereka membombardir wilayah selatan Lebanon pada Sabtu (20/6).
Padahal, para pejabat dan diplomat dari Amerika Serikat dan negara-negara Teluk secara terpisah mengumumkan gencatan senjata baru antara Israel dan Lebanon pada Jumat (19/6). Gencatan itu berlaku efektif mulai pukul 16.00 waktu setempat.
Meski sudah ada gencatan senjata, dilaporkan setidaknya 12 serangan udara Israel dan penembakan artileri terus-menerus menghantam Lebanon selatan.
Kantor Berita Nasional Lebanon (NNA) juga melaporkan serangan pesawat tak berawak Israel yang menewaskan dua orang saat mengendarai sepeda motor di Lebanon selatan, setelah gencatan senjata diberlakukan.
Seorang diplomat negara Teluk mengatakan Israel dan Hizbullah telah sepakat untuk menghentikan serangan. Dia mengatakan gencatan senjata bertujuan untuk menghentikan eskalasi di Lebanon, agar tidak menggagalkan upaya yang lebih luas untuk mengubah kesepakatan sementara AS dan Iran, menjadi kesepakatan perdamaian regional yang langgeng.
Seorang pejabat Hizbullah mengatakan gencatan senjata hanya akan berlaku jika Israel mematuhinya. Hal serupa juga dilontarkan Israel.
"Israel tetap berkomitmen teguh pada gencatan senjata segera. Jika Hizbullah menghormati perjanjian dan menghentikan permusuhan, mereka akan disambut dengan tenang," kata Duta Besar Israel untuk AS Yechiel Leiter.
Namun serangan Israel tetap berlanjut, hingga membuat warga di Lebanon selatan mempertanyakan apakah gencatan senjata itu benar-benar berlaku.
"Rasanya tidak seperti gencatan senjata. Sebaliknya ada perasaan deja vu. Setiap kali gencatan senjata diumumkan, kita melihat peningkatan aktivitas militer di lapangan," demikian laporan jurnalis Al Jazeera Heidi Pett.
"Hal itu membuat banyak orang di sini mempertanyakan apa sebenarnya arti gencatan senjata," imbuh Pett.
Sebelumnya Kementerian Luar Negeri AS mengatakan negosiasi Lebanon dan Israel selanjutnya dijadwalkan berlangsung di Washington pada 23 hingga 25 Juni.
Pengumuman itu disampaikan usai Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio dan Presiden Lebanon Joseph Aoun berbicara melalui telepon.
Aoun mengatakan gencatan senjata komprehensif harus menjadi dasar untuk setiap negosiasi langsung dengan Israel.
(dan)