Tolak Gencatan Senjata, Menteri Israel Sebut Lebanon Arena Bermain
Menteri Keamanan Nasional Israel Itamar Ben Gvir menolak perjanjian gencatan senjata antara Israel dan Lebanon.
Ia mengatakan negara Arab tersebut "seharusnya menjadi arena bermain Israel."
"Israel tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," kata Ben Gvir kepada stasiun televisi publik Israel, KAN, pada Senin (22/6).
Ben Gvir lantas meminta Perdana Menteri Benjamin Netanyahu untuk menyampaikan penolakan Israel terhadap gencatan senjata apa pun di Lebanon kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump.
"Trump adalah teman sejati. Kami harus memperlakukannya dengan sopan dan merangkulnya, tetapi kita perlu mengatakan kepadanya bahwa kita tidak bisa menyetujui gencatan senjata di Lebanon," ucap Ben Gvir, seperti dikutip Middle East Monitor.
"Kamilah yang membuat keputusan, dan ada hasil baik bagi para prajurit kami," tambahnya.
Pada Jumat (19/6), Presiden AS Donald Trump mengatakan kepada NBC News dalam panggilan telepon bahwa Israel setuju untuk gencatan senjata kembali dengan Lebanon.
Trump mengaku sudah bicara dengan Tel Aviv dan meminta mereka menyetujui kesepakatan tersebut.
"Ini adalah hal positif. Ini seperti pelengkap yang sempurna," kata Trump, namun enggan menjawab apakah ia telah bicara langsung dengan Netanyahu.
Seorang sumber resmi kelompok milisi Hizbullah sementara itu juga mengatakan kepada NBC News bahwa mereka akan mematuhi gencatan senjata. Akan tetapi, Israel disebut masih meluncurkan serangan dan mencoba bergerak lebih jauh ke wilayah Lebanon.
Penentangan Ben Gvir ini muncul di tengah meningkatnya perselisihan di antara pejabat Israel mengenai nota kesepahaman (MoU) antara AS dan Iran. Kedua negara telah menandatangani kesepakatan damai sementara dan sedang berdiskusi untuk merumuskan perjanjian akhir selama 60 hari ke depan.
Berbagai pihak di Israel menilai MoU AS dan Iran "bencana politik terbesar" karena tak menggarisbawahi kekhawatiran Tel Aviv. Program rudal Iran tidak termasuk di dalamnya, serta hubungan Iran dengan proksinya juga tak dipermasalahkan.
"Kita harus bertindak sesuai kepentingan Israel, bukan sesuai harga bahan bakar di bursa saham dunia," kata pemimpin partai Yisrael Beiteinu, Lieberman.
Serangan Israel di Lebanon telah menewaskan lebih dari 4.100 orang dan melukai lebih dari 12.000 lainnya sejak 2 Maret.
Israel terus menduduki wilayah-wilayah di Lebanon selatan, beberapa di antaranya sudah dikuasai selama beberapa dekade dan lainnya direbut selama perang 2023-2024.
(blq/bac)