Isi Surat Rahasia Mojtaba Khamenei yang Bocor & Ungkap Iran Terpecah
Surat korespondensi rahasia yang ditulis Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Mojtaba Khamenei dilaporkan bocor ke publik baru-baru ini, dan mengungkap perpecahan di dalam pemerintah mengenai kesepakatan damai dengan Amerika Serikat.
Bocornya surat rahasia yang ditulisMojtabaKhamenei itu bermula ketika Wakil Ketua Dewan Keamanan Nasional Iran, Mahmoud Nabavian, yang merupakan mantan anggota tim negosiasi Iran dalam putaran awal perundingan, melakukan wawancara dengan salah satu stasiun televisi nasional.
Saat itu, Nabavian mengaku membaca korespondensi rahasia Mojtaba.
Ia berujar Mojtaba menilai tim negosiasi Iran telah melampaui mandat yang diberikan kepada mereka.
Surat yang ditujukan kepada Presiden Iran Masoud Pezeshkian itu mengindikasikan penentangan Mojtaba terhadap hasil pembicaraan AS-Iran.
Menurut klaim Nabavian, Mojtaba mengatakan kepada Pezeshkian bahwa ia memiliki pandangan berbeda dengannya tentang hasil perundingan. Namun, Mojtaba mengaku menghormati penilaian Pezeshkian mengenai beberapa hal.
Nabavian mengungkapkan putra mendiang Ayatollah Ali Khamenei tersebut sebetulnya sudah menetapkan 11 syarat untuk melanjutkan negosiasi. Beberapa syaratnya mencakup kompensasi dari AS, hak Iran untuk pengayaan uranium, pencabutan sanksi AS, pencairan aset Iran yang selama ini dibekukan, serta kedaulatan penuh Iran atas Selat Hormuz.
Menurut Nabavian, Mojtaba mau memonopoli Selat Hormuz dengan menarik tarif terhadap kapal-kapal yang lewat. Ia juga ingin membatasi kapal-kapal musuh dan mengalokasikan hasil penarikan tarif kepada rakyat, keluarga para syahid, dan veteran.
Masih menurut Nabavian, Mojtaba juga memerintahkan agar Selat Hormuz dibuka ketika AS setuju memberikan ganti rugi ke Iran atas kerugian yang ditimbulkan selama perang.
Nabavian juga menyebut Mojataba mendesak pembicaraan disetop karena "apa yang disepakati dalam pembicaraan di Pakistan benar-benar berbeda dengan apa yang seharusnya terjadi dan berbeda dari apa yang menjadi syarat pembicaraan."
Wawancara Nabavian yang disiarkan secara langsung itu pun mendadak berhenti di tengah siaran.
Satu jam setelah siaran berakhir, rekaman wawancara Nabavian dihapus dari arsip. Sementara itu, seorang pejabat senior di lembaga penyiaran negara mengundurkan diri.
Juru bicara tim negosiasi kemudian menyampaikan bahwa pernyataan Nabavian merupakan informasi lama dan telah dipelintir. Televisi pemerintah Iran juga menyebut pernyataan Nabavian "bukti adanya pelanggaran hukum dan layak diproses secara hukum".
Para anggota kubu Mohammad Bagher Ghalibaf selaku kepala negosiator Iran ikut menyerukan agar pelaku pembocor informasi diidentifikasi.
Menurut The Guardian, Nabavian kini menghadapi ancaman penuntutan dan pemecatan dari parlemen.
Dalam saluran di Telegram, Nabavian membela pernyataannya dengan menyebut ia tidak membocorkan dokumen rahasia dan cuma mengungkapkan kebenaran.
Dia juga mengatakan bahwa berdasarkan nota kesepahaman (MoU), "empat hal harus diimplementasikan sebelum negosiasi dimulai."
"1. Berakhirnya pendudukan di Lebanon dan penarikan penuh pasukan. 2. Pencairan uang kami yang dibekukan oleh Amerika. Tidak meminjam dari Qatar. 3. Penghentian pengepungan. 4. Pencabutan sementara sanksi," katanya.
Nabavian lantas mempertanyakan apakah keempat syarat tersebut sudah dipenuhi sebelum para pejabat Iran pergi ke Jenewa untuk bernegosiasi.
"Apakah itu berarti orang-orang tidak boleh mengetahui apa perintah imam dan mengapa para agen tidak mematuhinya?" pungkasnya.
Menurut The Guardian, wawancara Nabavian ini selain mengungkap perpecahan di dalam pemerintahan Iran, juga menunjukkan bahwa Mojtaba Khamenei terlibat jauh lebih aktif dalam perundingan daripada yang diketahui selama ini.
Ia memerintahkan para negosiator untuk tidak mengalah pada masalah nuklir dan tetap mempertahankan sikap untuk menarik bea masuk kepada kapal-kapal di Selat Hormuz.
Sejak dipilih menggantikan ayahnya yang tewas dalam serangan AS-Israel pada 28 Februari, Mojtaba belum pernah sekalipun muncul ke publik.
Ia beroperasi hanya melalui pernyataan tertulis yang dikabarkan stasiun televisi pemerintah atau media sosialnya.
Beberapa laporan menyebutkan tim negosiasi Iran pernah harus menunggu selama dua pekan untuk mendapatkan arahan dari Mojtaba.
(blq/rds)