Trump 'Ngotot' PBB Bakal Inspeksi Nuklir Iran, Tapi Dibantah Teheran

CNN Indonesia
Rabu, 24 Jun 2026 13:29 WIB
U.S. President Donald Trump stands on the stage on the day of delivering remarks at Rockland Community College in Suffern, New York, U.S., May 22, 2026. REUTERS/Kylie Cooper
Presiden AS Donald Trump. Foto: REUTERS/Kylie Cooper
Jakarta, CNN Indonesia --

Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengeklaim Iran telah sepenuhnya dan secara menyeluruh setuju untuk mengizinkan inspeksi nuklir oleh Badan Energi Atom Internasional PBB (IAEA).

AS dan Iran telah menyelesaikan negosiasi teknis soal isu-isu penting, seperti nasib program nuklir Iran, setelah kesepakatan yang ditandatangani kedua negara di Swiss.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Iran telah sepenuhnya dan secara menyeluruh setuju untuk inspeksi nuklir tingkat tertinggi hingga masa depan. Ini akan memastikan 'Kejujuran Nuklir'," tulis Trump di Truth Social.

"Berdasarkan hal ini dan konsesi besar lainnya yang dibuat oleh Iran, saya telah setuju untuk mengizinkan Selat Hormuz tetap terbuka, tanpa blokade angkatan laut lebih lanjut," imbuhnya.

Pernyataan terbaru Trump ini berbeda dengan pernyataan Kementerian Luar Negeri Iran beberapa hari lalu.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baghaei, membantah laporan yang diterbitkan oleh beberapa media bahwa Iran telah mengundang IAEA untuk memeriksa fasilitas nuklirnya.

Baghaei merujuk pada Nota Kesepahaman tentang Penghentian Perang tertanggal 18 Juni 2026.

Menurut paragraf 8 dokumen tersebut, negosiasi tentang masalah nuklir itu akan dilakukan dalam jangka waktu 60 hari.

Dia juga mengingatkan bahwa berdasarkan Paragraf 9 MoU tersebut, status program nuklir Iran saat ini akan dipertahankan selama periode 60 hari tersebut.

Baghaei mengatakan dengan demikian inspeksi fasilitas nuklir seperti Bushehr, yang telah dilakukan hingga saat ini, akan terus berlanjut.

"Namun inspeksi terhadap fasilitas-fasilitas yang aksesnya terhadap Badan tersebut ditangguhkan karena serangan militer kriminal AS dan Zionis, akan bergantung pada proses negosiasi dan hasilnya," tegasnya.

(dna/bac) Add as a preferred
source on Google