Krisis Pekerja: Jepang Rekrut WNA Jadi Sopir Bus, Termasuk dari RI

CNN Indonesia
Kamis, 25 Jun 2026 16:16 WIB
Perusahaan bus di Jepang ramai-ramai membuka rekrutmen pekerja asing termasuk Indonesia untuk menjadi sopir di tengah merosotnya jumlah pemudi.
Ilustrasi bus di Jepang. (Tokushima Prefectural Government)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perusahaan bus di Jepang ramai-ramai membuka rekrutmen pekerja asing termasuk Indonesia untuk menjadi sopir di tengah merosotnya jumlah pemudi.

Para pendatang akan menjalani pelatihan komprehensif hingga memenuhi syarat menjadi sopir bus yang komunikatif dan lancar berinteraksi dengan penumpang.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Salah satu pekerja asing yang menjadi pengemudi di Jepang adalah Mahatmi Rismartanti (27). Dia menceritakan upaya dia menjadi sopir bus di Jepang.

"Saya ingin memastikan saya membawa penumpang dengan aman ke tujuan mereka," kata dia, dikutip NHK pekan lalu.

Mahatmi pindah ke Jepang pada September tahun lalu. Dia butuh enam bulan untuk bisa menyusuri jalan-jalan Jepang menjadi pengemudi yang handal dan komunikatif.

[Gambas:Instagram]

Perempuan berusia 27 tahun itu dan dua warga lain dari Indonesia direkrut perusahaan Tokyu Bus. Mereka mendapat visa pekerja terampil khusus Jepang. Kategori visa yang memang dibuat untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja.

Di Tokyu Bus, jumlah pengemudi mayoritas berusia 50 hingga 60 tahun, usia yang mendekati pensiun. Karena alasan itu pula lah, perusahaan merekrut warga asing untuk mengisi kekosongan.

"Kita menghadapi kekurangan tenaga kerja yang akan semakin parah di masa depan. Kita tidak punya pilihan selain terus maju," kata direktur eksekutif Tokyu Bu, Okano Kyoko.

Operator bus di seluruh Jepang menyatakan kehabisan waktu untuk mengatasi kekurangan tenaga kerja yang semakin memburuk. Kelompok industri memperkirakan kekurangan sekitar 30.000 pengemudi bus dalam beberapa tahun mendatang.

Bus merupakan bagian penting jaringan transportasi Jepang, terutama di daerah-daerah regional. Warga hingga wisatawan, bergantung ke layanan ini.

Di luar itu, Jepang juga tengah menghadapi penyusutan populasi usia poroduktif dan peningkatan jumlah penduduk di kelompok usia lanjut. Dalam beberapa tahun terakhir, Negeri Sakura membuka lowongan pekerjaan besar-besaran bagi warga asing.

(isa/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]