Pakistan Ungkap Tantangan Terbesar Jadi Mediator AS-Iran

CNN Indonesia
Jumat, 26 Jun 2026 17:30 WIB
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri
Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri. (CNN Indonesia/ Anisa Dewi)
Jakarta, CNN Indonesia --

Pakistan mengungkap tantangan jadi mediator Amerika Serikat dan Iran yang sempat perang beberapa bulan sejak akhir Februari.

Duta Besar Pakistan untuk Indonesia Zahid Hafeez Chaudhri menyampaikan pernyataan itu ke awak media di Kedutaan Besar Pakistan, Jumat (26/6).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tantangan terbesar, tantangan utama adalah ketidakpercayaan antara Amerika Serikat dan Iran. Karena kita berbicara tentang dua negara yang sudah lama tidak berbicara satu sama lain dan tidak memiliki komunikasi sama sekali," kata Zahid.

Zahid lalu menjelaskan tantangan selanjutnya adalah peran sejumlah pihak yang merusak upaya negosiasi, dan yang ketiga adalah membangun konsensus di antara negara-negara regional.

"Karena ini bukan hanya tentang AS dan Iran, semua negara di kawasan ini juga merupakan pemangku kepentingan utama dalam proses perdamaian ini," ucap dia.

Lebih lanjut, Zahid mengatakan Pakistan sudah berhasil memainkan peran tersebut dan melibatkan semua negara di Timur Tengah dan negara yang punya kepentingan di kawasan tersebut.

"Kami sudah berbicara dengan China, sekali lagi negara yang sangat penting untuk melibatkan mereka juga. Kami juga sudah berbicara dengan Iran, kami telah berbicara dengan AS," ujar dia.

Zahid mengatakan proses perdamaian itu terus bergerak maju dan negosiasi juga berjalan baik. Dia lalu berharap upaya yang ditempuh Pakistan menghasilkan perdamaian abadi di Timur Tengah.

"Ini akan menjadi proses yang sulit, saya tidak mengatakan itu akan mudah, tetapi kami tetap berharap bahwa melalui keterlibatan yang berkelanjutan dan upaya diplomatik yang berkelanjutan, kami akan bisa mengamankan perdamaian di kawasan ini. Dan bagi kami, itu tetap satu-satunya pilihan yang layak," ujar dia.

AS dan Israel menggempur Iran habis-habisan pada 28 Februari. Iran lalu membalas hingga menutup Selat Hormuz. Hari-hari setelah itu, mereka terus bertempur.

Kemudian pada pekan lalu, AS-Iran sepakat meneken nota kesepahaman (MOU) yang berisi penghentian perang hingga pembukaan Selat Hormuz.

Melalui MoU itu pula, mereka diberi waktu 60 hari untuk negosiasi dan betul-betul mengakhiri perang. Perundingan terbaru AS-Iran digelar di Burgenstok Swiss pada Minggu dan Senin. Negosiasi ini menghasilkan sejumlah poin seperti pembentukan komite kerja hingga pencairan dana Iran yang dibekukan AS.

(isa/bac) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]