Kapal Tanker Tetap Melintasi Hormuz, meski Konflik AS-Iran Memanas

CNN Indonesia
Sabtu, 11 Jul 2026 15:50 WIB
Kapal tanker LNG dan komersial tetap melintasi Selat Hormuz meski meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS.
Kapal tanker LNG dan komersial tetap melintasi Selat Hormuz meski meningkatnya ketegangan antara Iran dan AS. (Foto: AFP/FADEL SENNA)
Jakarta, CNN Indonesia --

Kapal-kapal tanker gas alam cair (LNG) dan kapal komersial tetap melintasi Selat Hormuz meski baku tembak militer antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali pecah dan sejumlah kapal dagang diserang di jalur perairan strategis tersebut.

Berdasarkan data pelacakan kapal, setidaknya lima kapal tanker LNG dalam kondisi kosong memasuki selat tersebut dalam beberapa hari terakhir.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kapal-kapal itu meliputi GasLog Shanghai yang dioperasikan perusahaan pelayaran Yunani GasLog, serta empat kapal tanker terafiliasi QatarEnergy, yakni Al Samriya, Al Dafna, Al Gattara, dan Al Rayyan.

Pergerakan tersebut mengindikasikan sejumlah operator LNG tetap mengirim kembali kapal kosong ke Teluk Persia untuk memuat kargo baru, meski risiko keamanan meningkat.

Dikutip dari Anadolu, sebanyak 22 kapal terafiliasi Jepang keluar dari selat tersebut pada 7-9 Juli, termasuk enam kapal tanker minyak mentah berukuran besar. Hal tersebut disampaikan Menteri Perhubungan Jepang Yasushi Kaneko dalam konferensi pers.

Sementara itu, perusahaan intelijen maritim Windward mencatat 35 lintasan kapal pada 8 Juli, terdiri dari 17 kapal masuk dan 18 kapal keluar.

Lalu lintas kapal masuk mencakup enam tanker, dua kapal curah, dan sembilan kapal kargo umum, sementara lalu lintas keluar meliputi lima tanker, lima kapal curah, dan delapan kapal kargo.

Mayoritas kapal menggunakan koridor utara yang lebih dekat ke wilayah Iran. Windward mengatakan dari 35 kapal yang tercatat, 11 di antaranya beroperasi tanpa memancarkan sinyal Automatic Identification System (AIS) selama periode pemantauan.

Windward mencatat 861 kapal kargo dan tanker masih berada di Teluk Persia berdasarkan asesmen terbaru mereka, dengan 112 kapal di antaranya beroperasi tanpa sinyal AIS.

Risiko pelayaran komersial meningkat setelah serangan Iran terhadap kapal-kapal yang melintasi selat tersebut memicu serangan balasan AS terhadap sejumlah target di dalam wilayah Iran.

Teheran kemudian melancarkan serangan terhadap target-target terafiliasi AS di Bahrain dan Kuwait, yang secara efektif mengakhiri gencatan senjata yang tercapai bulan lalu.

AS juga mencabut keringanan 60 hari yang sebelumnya mengizinkan penjualan minyak Iran, sehingga penegakan sanksi penuh kembali berlaku.

Lebih lanjut, Windward mencatat sekitar 24 kapal tanker menunggu di dekat terminal ekspor Pulau Kharg milik Iran, dengan mayoritas diyakini dalam kondisi bermuatan penuh.

Selat Hormuz merupakan salah satu jalur energi terpenting dunia, menjadi lintasan ekspor minyak dan LNG dari produsen-produsen utama kawasan Teluk, termasuk Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Kuwait, dan Qatar.

(lom) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]