AS vs Iran Perang Lagi, Sirene Negara-negara Teluk Meraung
Sirene dan peringatan kondisi darurat berkumandang di sejumlah negara-negara kawasan Teluk, seiring dengan Iran dan Amerika Serikat kembali saling serang.
Iran dan Amerika Serikat kembali saling serang setelah Korps Garda Revolusi Islam menembak kapal kontainer yang dianggap melanggar rute yang disepakati serta menutup kembali Selat Hormuz.
Menurut Al Jazeera, Minggu (12/7), Kementerian Dalam Negeri Bahrain mengonfirmasi bahwa sirene serangan udara sudah diaktivasi dan berbunyi di negara tersebut.
"Warga dan penduduk diimbau untuk tetap tenang dan menuju ke tempat aman terdekat," demikian bunyi pernyataan tersebut.
Sementara itu, AFP melaporkan bahwa suara ledakan terdengar di atas ibu kota Qatar, Doha, setelah AS mengonfirmasi serangan balasan terhadap Iran.
Koresponden AFP melihat intersepsi di langit di kota mediasi Washington dan Teheran, ketika penduduk menerima pesan di ponsel mereka yang mendesak mereka untuk "tetap berada di rumah dan tempat yang aman".
Kementerian Dalam Negeri Qatar menyatakan tingkat ancaman keamanan di negara itu tinggi dan meminta masyarakat untuk mengikuti instruksi keselamatan dan menghindari pergerakan yang tidak perlu.
Di tempat lain, Kementerian Pertahanan Uni Emirat Arab (UAE) mengatakan bahwa pertahanan udara sedang menghadapi ancaman rudal dan drone.
Kementerian Pertahanan UEA mengatakan suara yang terdengar di seluruh negeri "adalah hasil dari operasi penanggulangan rudal dan UAV yang sedang berlangsung".
Komando Pusat AS (CENTCOM) sebelumnya dalam sebuah pernyataan menyebut serangan terbaru mereka diluncurkan Minggu (12/7) pukul 23.15 GMT atau sekitar pukul 02.45 dini hari waktu Teheran.
Serangan yang disebut atas arahan Presiden Donald Trump itu diluncurkan "setelah pasukan Korps Garda Revolusi Islam secara terang-terangan menyerang" sebuah kapal kontainer berbendera Siprus yang melintasi Selat Hormuz.
"Amerika Serikat memberikan kerugian besar dengan terus melemahkan kemampuan Iran untuk menyerang pelaut sipil dan kapal komersial yang bebas melintasi selat," kata CENTCOM.
Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth hanya mengatakan bahwa "Iran membuat pilihan yang buruk. Sekarang mereka membayar akibatnya."
AFP menyebut serangan ini mengancam makin mempersulit upaya menyelamatkan negosiasi AS-Iran setelah kedua pihak saling melancarkan serangan dalam beberapa hari terakhir.
Hambatan utama untuk mencapai kesepakatan akhir adalah masa depan Selat Hormuz, dengan Teheran bersikeras akan mengendalikan pelayaran melalui jalur air tersebut sementara Washington menuntut navigasi tanpa batasan.
(end)