Oman Ajukan Proposal Pengelolaan Lalu Lintas Selat Hormuz

CNN Indonesia
Minggu, 12 Jul 2026 14:50 WIB
Oman mengajukan sebuah proposal untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz melalui dua rute yang dikendalikan secara terpisah. (REUTERS/Stringer)
Jakarta, CNN Indonesia --

Oman mengajukan sebuah proposal untuk mengatur lalu lintas di Selat Hormuz melalui dua rute yang dikendalikan secara terpisah, di tengah konflik yang memanas terkait jalur tersebut antara Iran dan Amerika Serikat.

Menurut sumber kepada CNN, Minggu (12/7), berdasarkan kesepakatan yang belum final itu, kedua koridor akan tetap terbuka. Koridor Selatan melalui perairan teritorial Oman, akan memungkinkan navigasi bebas dalam kondisi sebelum perang.

Sementara kapal yang melintasi Koridor Utara melalui perairan teritorial Iran, akan memerlukan persetujuan terlebih dahulu dari Iran. Meski begitu, tidak akan ada biaya tol yang dikenakan berdasarkan kesepakatan tersebut.

CNN menyebut Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan Menteri Luar Negeri Oman, Sayyid Badr Albusaidi, di Muscat pada Sabtu (11/7).

Dalam pertemuan itu, kedua pejabat tersebut membahas mekanisme untuk memastikan jalur pelayaran yang aman bagi kapal di perairan tersebut.

Namun Al Jazeera juga menyebut bahwa Qatar ikut dalam pertemuan dua pejabat tersebut. Qatar bergabung dalam pembicaraan itu disebut sebagai salah satu negara di kawasan yang juga bertindak sebagai mediator dalam negosiasi AS-Iran dalam beberapa bulan terakhir.

Sementara itu, Menteri Luar Negeri Pakistan Ishaq Dar berbicara melalui telepon dengan Araghchi. Keduanya disebut "bertukar pandangan tentang situasi regional yang berkembang".

Dalam pernyataan yang dirilis Kementerian Luar Negeri Pakistan, Dar "menekankan kepada kedua pihak untuk mengikuti jalur de-eskalasi dan menunjukkan pengekangan, sebagaimana disepakati dalam MOU Islamabad pada Juni 2026."

Ia mengatakan kepada Araghchi bahwa dialog dan diplomasi tetap menjadi satu-satunya jalan yang layak untuk menyelesaikan perselisihan dan mencapai perdamaian dan stabilitas yang langgeng di kawasan tersebut.

Menurut laporan Al Jazeera mengutip pernyataan tersebut, Dar dan Araghchi sepakat untuk tetap berhubungan erat.

Perang di kawasan Teluk Persia terbaru ini terjadi setelah IRGC Iran menembak kapal kontainer berbendera Siprus di Selat Hormuz pada Sabtu (11/7) dengan alasan pelanggaran rute yang sudah disepakati.

Kejadian itu memicu Amerika Serikat untuk menyerang Iran pada Minggu (12/7) dini hari waktu Teheran.

(end)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK