Prancis Matikan Reaktor Nuklir Imbas Panas Ekstrem 41 Derajat
Penyedia energi utama Prancis (EDF) mengumumkan tiga reaktor nuklir terpaksa dihentikan sementara dan delapan reaktor lainnya dioperasikan dengan kapasitas daya yang dikurangi, pada Minggu (12/7). Langkah tersebut diambil menyusul kondisi gelombang panas ekstrem (heatwave) yang tengah melanda wilayah Prancis.
Melansir AFP, pihak EDF menjelaskan bahwa keputusan tersebut diambil demi mematuhi regulasi lingkungan dan melindungi ekosistem sungai.
Reaktor-reaktor yang terdampak berada di pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Golfech, Bugey, dan Chooz, yang masing-masing terletak di tepi Sungai Garonne, Rhone, dan Meuse.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Karena kondisi cuaca dan untuk mematuhi peraturan mengenai pembuangan (air pendingin), serta untuk melindungi lingkungan, operasi reaktor-reaktor tersebut harus dihentikan," demikian pernyataan resmi dari kelompok energi EDF.
Langkah ini merupakan persyaratan perlindungan lingkungan yang ketat guna menghindari pembuangan air yang terlalu panas ke sungai. Saat gelombang panas melanda, suhu air sungai secara alami sudah meningkat.
Sementara itu, PLTN Prancis memproduksi listrik menggunakan air sungai untuk mendinginkan reaktor mereka, di mana proses tersebut akan memanaskan air sebelum akhirnya dialirkan kembali ke sungai.
Untuk mengantisipasi krisis, Kementerian Ekonomi Prancis pada hari Sabtu sebenarnya telah mengeluarkan dispensasi khusus terkait batas suhu pemanasan di sekitar Sungai Rhone dekat PLTN Bugey. Kebijakan darurat yang berlaku hingga 20 Juli ini diterbitkan demi memastikan keamanan jaringan listrik nasional.
Penghentian operasional ini merupakan kali kedua dalam beberapa minggu terakhir di mana EDF terpaksa mematikan reaktor nuklir akibat cuaca ekstrem. Sebelumnya, Prancis juga sempat dihantam gelombang panas yang memecahkan rekor pada bulan Juni.
Hingga Minggu (12/7), gelombang panas yang melanda negara tersebut berlangsung sejak Mei dan menempatkan lebih dari sepertiga wilayah Prancis berada dalam status peringatan panas tertinggi dari badan cuaca nasional.
Berdasarkan penghitungan AFP terhadap data populasi, lebih dari 25 juta orang harus bertahan di tengah suhu udara yang diperkirakan oleh para peramal cuaca dapat melonjak hingga mencapai 41 derajat Celcius.
Suhu ekstrem tersebut bahkan telah melumpuhkan sejumlah aktivitas publik. Banyak titik wisata populer terpaksa ditutup lebih awal, berbagai acara massal dibatalkan, dan rute tahapan balap sepeda bergengsi Tour de France terpaksa dibatalkan demi keselamatan para atlet.
Selain itu, bencana kebakaran hutan dilaporkan kian meluas di berbagai wilayah Prancis. Angka kematian akibat tenggelam juga melonjak tajam seiring banyaknya warga yang mencari tempat rekreasi air untuk mendinginkan diri.
Sejak akhir Mei, Prancis terus dihantam secara beruntun oleh fenomena panas ekstrem. Kondisi ini tidak hanya menyebabkan lonjakan angka kematian (excess mortality), tetapi juga menyingkap kerentanan infrastruktur negara yang belum siap menghadapi cuaca ekstrem.
Para ilmuwan menyatakan bahwa meningkatnya frekuensi gelombang panas yang kian parah ini berkaitan erat dengan perubahan iklim akibat aktivitas manusia.
(ins) Add
as a preferred source on Google