Cara Pelatih Timnas Mesir Bela Palestina Bikin Israel Sewot
Meski tersingkir oleh timnas Argentina dalam laga dramatis di Piala Dunia 2026, ternyata timnas Mesir masih jadi perbincangan.
Bukan hanya soal wasit dan pertandingan, tapi cara sang pelatih "The Pharaoh" Hossam Hassan dalam mengeskpresikan dukungan kepada Palestina. Terlihat lelaki plontos ini membawa bendera Palestina di lapangan yang mendapat sorotan dunia.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berbicara pada konferensi pers larut malam di Amerika Serikat pada hari Senin, menjelang pertandingan melawan Argentina, Hassan menegaskan pebelaannya terhadap penderitaan warga Palestina.
"Jika ada siapa pun di dunia ini yang tidak merasakan penderitaan rakyat Palestina, mereka telah kehilangan bagian penting dari kemanusiaan mereka, terlepas dari kewarganegaraan, agama, atau latar belakang mereka - apakah Arab, Eropa, Amerika, atau dari mana pun," katanya.
Hassan mendesak setiap orang "yang memegang wewenang atau pengaruh untuk membayangkan diri mereka sendiri atau anak-anak mereka menghabiskan satu hari saja dalam kondisi yang dialami oleh penduduk Gaza dan Palestina, duduk di tempat terbuka di bawah terik matahari atau di tengah hujan dan dingin, tanpa tempat berlindung atau keamanan."
Menyebut situasi tersebut sebagai "noda pada hati nurani seluruh dunia," Hassan menyerukan dukungan untuk Palestina, dengan mengatakan: "Tolong, sampaikan pesan Anda bahwa rakyat Palestina berhak untuk hidup."
Publik Israel 'kebakaran jenggot'
Surat kabar Israel Yedioth Ahronoth menuduh Hassan menggunakan platform media global untuk memperbarui dukungannya kepada Palestina.
The Times of Israel mencatat bahwa Hassan sekali lagi menegaskan posisinya, sementara media Israel Hayom melaporkan kemarahan Israel atas terus-menerusnya ungkapan solidaritas pelatih asal Mesir itu kepada Palestina.
Media Arab berbahasa Inggris, Asharq Al-Awsat mewawancarai sejumlah orang. Beberapa berpendapat bahwa politik dan olahraga harus tetap terpisah, sambil menekankan bahwa posisi tersebut bukan berarti mengabaikan tindakan Israel di Gaza.
Yang lain mengatakan pemisahan semacam itu tidak realistis dalam olahraga, dengan alasan bahwa pesan-pesan ini membuat Israel marah sekaligus menekan rakyat yang tertindas, terutama rakyat Gaza.
Sebaliknya, analis urusan Israel Nizar Nazzal mencatat bahwa politik tidak dapat dipisahkan dari bidang apa pun, terutama karena olahraga telah menjadi platform untuk narasi yang saling bersaing.
Ia mengatakan Israel berupaya membungkam suara-suara kritis di setiap acara, dan upaya untuk memisahkan politik dari olahraga pada akhirnya menguntungkan Israel, sementara terbukti hampir mustahil untuk ditegakkan di stadion terlepas dari seruan untuk melakukannya.
Menurut Nazzal, Israel akan terus mengkritik narasi apa pun yang mengungkap tindakannya di Gaza, baik yang disampaikan oleh Hassan maupun orang lain.
Karena pelatih Mesir itu memiliki jutaan pengikut, tambahnya, pesan-pesan Hassan pasti akan menjangkau khalayak luas, seperti yang ditunjukkan di media sosial.
Terlepas dari pujian yang meluas atas pernyataan Hassan, sosiolog politik Said Sadek berpendapat bahwa setiap kesempatan memiliki protokolnya sendiri.
Ia mengatakan Hassan pergi ke Piala Dunia untuk mewakili Mesir dan, jika menang, harus mengibarkan bendera Mesir sesuai dengan protokol. Jika ia ingin menyampaikan pandangan pribadinya, kata Sadek, ia berhak mengadakan konferensi pers terpisah untuk melakukannya.
(imf/bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


