Kemlu RI Kirim Nota Diplomatik usai WNI Diduga Dibunuh di Armenia

CNN Indonesia
Senin, 20 Jul 2026 19:10 WIB
Kementerian Luar Negeri RI
Kemlu RI kirim Nota Diplomatik buntut seorang WNI tewas diduga dibunuh di Armenia. Foto: CNNIndonesia/Riva Dessthania Suastha
Jakarta, CNN Indonesia --

Kementerian Luar Negeri RI (Kemlu RI) telah mengirimkan Nota Diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Armenia, terkait kasus tewasnya seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Sulawesi Selatan bernama Valenth A Tambuto.

Direktur Perlindungan WNI Kemlu RI, Heni Hamidah, mengatakan Nota Diplomatik itu dilayangkan sejak 18 Juli 2026, untuk memastikan terpenuhinya hak-hak kekonsuleran WNI.

"KBRI (Kedutaan Besar RI) di Kyiv telah menyampaikan Nota Diplomatik kepada Kementerian Luar Negeri Armenia guna memperoleh akses kekonsuleran bagi penanganan jenazah WNI, serta untuk bertemu dengan salah satu WNI yang sedang menjalani proses hukum," kata Heni dalam keterangannya kepada CNNIndonesia.com, Senin (20/7).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Heni mengatakan Kemlu RI dan KBRI Kyiv telah berkoordinasi dengan otoritas Armenia untuk menangani kasus ini.

Sebelumnya seorang warga negara Indonesia (WNI) asal Sulawesi Selatan ditemukan tewas dalam kondisi mulut dan tangan dilakban di dalam kamar mesnya di Armenia.

Keluarga curiga korban atas nama Valenth A Tambuto itu menjadi korban pembunuhan. Keluarga memperoleh informasi Valenth tewas dari pacar korban dan rekan kerjanya.

"Segera setelah menerima informasi pada 16 Juli, KBRI Kyiv berkoordinasi dengan Konsul Kehormatan RI di Yerevan, aparat penegak hukum Armenia, dan komunitas WNI setempat," ungkap Heni.

Dia memastikan pihak-pihak terkait tengah berupaya memverifikasi informasi, mengidentifikasi pihak-pihak yang terlibat, serta memperoleh keterangan mengenai proses penyelidikan.

"Berdasarkan informasi awal otoritas Armenia, korban dan pihak yang diduga sebagai pelaku merupakan WNI. Sejumlah WNI telah diamankan untuk kepentingan penyidikan," ujarnya.

Adik korban, Arnold Tambuto, menyebut keluarga mendapatkan informasi yang mengarah pada dugaan pembunuhan di balik kematian Valenth.

"Memang informasi itu (pembunuhan) banyak yang menyebutkan. Kami dapat informasi dari beberapa kerabat dekat dan juga dari pacar almarhum sendiri," kata Arnold Tambuto kepada wartawan, seperti dikutip detiksulsel.

Menurut kesaksian Arnold, salah satu dugaan motif yang diterima adalah kebiasaan korban yang sering meminjamkan uang ke teman-temannya. Dari informasi itu mengarah bahwa rekan-rekan korban itu lah yang dicurigai sebagai pelaku pembunuhan.

"Katanya yang pertama, Valenth itu terlalu baik karena suka meminjamkan uang ke temannya. Dan uang itu yang dipinjamkan ke pelaku semua. Itu ada bukti chatnya kalau itu," ungkap Arnold.

Keluarga juga sempat menerima informasi bahwa korban pernah diajak untuk terlibat dalam penggelapan uang perusahaan oleh rekannya, namun ditolak korban.

"Yang kedua, waktu itu Valenth diajak oleh mereka (pelaku) untuk ikut serta dalam rencana penggelapan uang perusahaan, tapi Valenth menolak," imbuh Arnold.

Korban yang mengetahui rencana itu dikhawatirkan bakal melaporkannya ke perusahaan. Selain itu karena beberapa orang di antaranya juga punya utang ke korban, mereka kemudian diduga merencanakan untuk membunuh Valenth.

Meski begitu pihak keluarga belum menerima informasi resmi dari penegak hukum Armenia soal motif maupun pelaku kematian korban.

Kabar Valenth tewas pertama kali diketahui keluarga pada Rabu (15/7) malam lalu. Arnold mengaku masih berkomunikasi dengan kakaknya, beberapa jam sebelum menerima kabar duka itu.

Arnold menyebut komunikasi terakhir terjadi sekitar pukul 01.00 WITA pada Rabu (15/7) atau Selasa (14/7) waktu Armenia. Saat dicek, korban ditemukan dalam kondisi tangan dan mulut dilakban.

"Kondisi jenazah (waktu ditemukan) katanya terikat lakban. Kaki, tangan, dan mulut itu terikat lakban. Waktu itu saya syok saya matikan telepon saya tidak dengar jauh lagi, tapi infonya saya dengar memang waktu dibuka (jenazahnya) ada banyak darah," ujar Arnold.

(dna) Add as a preferred
source on Google