Hamas Punya Bos Baru, Apa Dampaknya bagi Jalur Gaza?

tim | CNN Indonesia
Selasa, 21 Jul 2026 12:50 WIB
Khalil Al Hayya terpilih sebagai pemimpin baru kelompok milisi Hamas yang selama ini menguasai Jalur Gaza Palestina dan berperang melawan agresi brutal Israel. (Foto: REUTERS/Esa Alexander)
Jakarta, CNN Indonesia --

Khalil Al Hayya terpilih sebagai pemimpin baru kelompok milisi Hamas yang selama ini menguasai Jalur Gaza Palestina dan berperang melawan agresi brutal Israel.

Pemilihan Al Hayya dilakukan nyaris dua tahun setelah pemimpin Hamas sebelumnya, Yahya Sinwar, tewas dibunuh Israel pada Oktober 2024.

Setelah Sinwar tewas, Hamas dikelola oleh dewan kepemimpinan beranggotakan lima orang, di mana Al Hayya menjadi salah satu anggota.

Pesaing utama Al Hayya dalam pemilihan yakni Khaled Meshaal, mantan kepala biro politik Hamas. Al Hayya mengalahkan Meshaal hanya dengan selisih satu suara.

Para ahli mengatakan terpilihnya Al Hayya berpotensi memberi Amerika Serikat dan Israel musuh signifikan baru.

Al Hayya dikenal sebagai seorang pragmatis. Ia dilaporkan terlibat dalam negosiasi langsung mengenai Jalur Gaza dengan menantu Presiden AS Donald Trump, Jared Kushner, serta Utusan Khusus Trump, Steve Witkoff.

Terlepas dari hubungannya dengan Iran, Al Hayya memiliki rekam jejak hubungan baik dengan Witkoff. Ini memungkinkannya menggelar lebih banyak perundingan yang dimediasi AS tanteng masa depan Gaza.

"Ia dipandang sebagai bagian yang sangat organik dari Poros Perlawanan Iran, tetapi ia juga nyaman menempuh jalur negosiasi dan diplomatik. Misalnya, sepengetahuan saya, Witkoff sangat ingin bernegosiasi langsung dengan Al Hayya," kata peneliti di Dewan Eropa untuk Hubungan Luar Negeri (ECFR), Muhammad Shehada, seperti dikutip Al Jazeera.

Shehada mengatakan Al Hayya memiliki dua putra yang tewas dalam serangan Israel. Salah satunya tewas saat Hamas membahas proposal Witkoff di Doha.

Kematiannya putranya ini membuat Witkoff bersimpati karena putranya juga tewas pada usia 22 tahun pada 2011 lalu.

Witkoff pernah menyampaikan soal itu dalam wawancara dengan CBS News.

"Kami menyampaikan belasungkawa atas kematian putranya. Dia mengatakannya, dan saya mengatakan kepadanya bahwa saya juga telah kehilangan seorang putra dan bahwa kami berdua anggota klub yang sangat buruk: orang tua yang menguburkan anak-anaknya," kata Witkoff dalam wawancara tersebut.

Al Hayya lahir dan besar di Gaza. Ia kini menjabat sebagai pemimpin Hamas dalam pengasingan. Al Hayya juga menjabat sebagai negosiator utama dalam negosiasi gencatan senjata dan pertukaran tahanan.

Profilnya di Hamas meningkat secara signifikan setelah pembunuhan Sinwar dan mantan kepala biro politik Ismail Haniyeh di Teheran pada 2024.

Al Hayya termasuk di antara para pemimpin yang menjadi target serangan Israel di Doha tahun lalu.

Hugh Lovatt, seorang peneliti kebijakan senior di ECFR, mengatakan bahwa terpilihnya Al Hayya kemungkinan besar tidak akan mengubah struktur internal gerakan tersebut secara mendasar.

"Dia adalah kandidat yang sangat mewakili kesinambungan. Dia adalah wakil kepala di Gaza di bawah Sinwar dan telah dekat dengan kepemimpinan senior untuk beberapa waktu," kata Lovatt

"Meskipun dia digambarkan sebagai garis keras dan dekat dengan Iran, kedua hal itu disertai dengan banyak catatan penting," lanjutnya.

Al Hayya dianggap sebagai figur politik yang pragmatis, yang dapat membimbing Hamas di jalur yang sama seperti yang telah ditempuh sejak gencatan senjata Gaza Oktober 2025, meskipun Israel berulang kali melanggar perjanjian tersebut.

"Tentu ada tokoh-tokoh yang lebih garis keras di dalam kelompok tersebut dan Al Hayya telah membuktikan dirinya sebagai seorang pragmatis selama negosiasi gencatan senjata dengan Israel," kata Lovatt.

"Demikian pula dengan Iran, terdapat lebih banyak pendukung vokal dalam kelompok tersebut dan Hamas selalu menyeimbangkan dukungannya antara negara-negara Arab dan Teheran, jadi tidak ada indikasi bahwa Hamas akan berada di bawah kendali Iran," terangnya.

Hamas saat ini terus mempertahankan kehadiran administratifnya di Gaza. Meskipun fungsi militernya melemah imbas serangan Israel, gerakan tersebut terus mengawasi fungsi-fungsi sipil dasar, termasuk layanan kesehatan dan operasi penyelamatan darurat di seluruh Gaza.

"Pengangkatan ini menyampaikan dua pesan penting: pertama, struktur dan proses internal Hamas masih utuh dan berfungsi dengan baik meskipun menghadapi berbagai rintangan, termasuk pembunuhan sebagian besar pemimpin politik dan militernya," kata Khaled Al Hroub, profesor tetap di Universitas Northwestern Qatar.

"Kedua, Gaza masih menikmati bagian terbesar dalam pengambilan keputusan. Ini tidak serta merta berarti politik yang lebih garis keras, tetapi menunjukkan bahwa fokus tetap pada basis Gaza sebagai prioritas," ucapnya.

(blq/rds)


KOMENTAR

ARTIKEL TERKAIT
TOPIK TERKAIT
TERPOPULER
LAINNYA DARI DETIKNETWORK