Perang Trump Lawan Iran Bikin Sekutu AS Boncos Nyaris Rp896 Triliun

CNN Indonesia
Kamis, 23 Jul 2026 11:40 WIB
U.S. President Donald Trump gestures during a press conference on the day of a NATO leaders' summit in Ankara, Turkey, July 8, 2026. REUTERS/Stoyan Nenov
Perang yang dikobarkan Amerika Serikat terhadap Iran sejak Februari lalu ternyata merugikan sejumlah sekutu Negeri Paman Sam sendiri. (Foto: REUTERS/Stoyan Nenov)
Jakarta, CNN Indonesia --

Perang yang dikobarkan Amerika Serikat terhadap Iran sejak Februari lalu ternyata merugikan sejumlah sekutu Negeri Paman Sam sendiri.

Selain menjadi target serangan balasan Iran karena sejumlah negara di Timur Tengah menampung pangkalan AS, negara-negara sekutu ini pun ikut mengalami kerugian materiil.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Irak, salah satu mitra strategis AS di kawasan, bahkan dikabarkan rugi nyaris US$50 miliar atau sekitar Rp896 triliun buntut perang AS vs Iran.

Dikutip AFP, seorang pejabat pemerintah mengatakan konflik dan blokade Iran terhadap Selat Hormuz mengacaukan pengiriman dan mendorong pengurangan produksi di negara-negara penghasil minyak, termasuk Irak.

Sebelum perang, Irak memproduksi sekitar empat juta barel minyak per hari dan mengekspor rata-rata 3,5 juta barel per hari. Ekspor sebagian besar dilakukan melalui Selat Hormuz.

Namun, karena perang, negara anggota pendiri OPEC tersebut terpaksa menghentikan produksi di sebagian besar ladang minyak karena cadangan minyak membludak buntut ekspor terganggu. Pengiriman minyak Irak pun kini dibatasi hanya lewat Turki dan Suriah.

"Bagi Irak, karena penurunan ekspor minyak mencapai 90 persen... ditambah penurunan tingkat pertumbuhan... kerugian diperkirakan mencapai antara US$40 miliar (sekitar Rp716 triliun) hingga US$45 miliar (sekitar Rp806 triliun) per Juni 2026," kata penasihat keuangan Perdana Menteri Irak Ali Al Zaidi, Muzhar Saleh.

Saleh menambahkan kerugian pendapatan bahkan bisa tembus US$50 miliar karena perang dan sengeka Selat Hormuz terus berlanjut.

Menurut seorang pejabat pemerintah lainnya yang bicara dengan syarat anonim, kerugian Irak lebih "mendekati US$50 miliar". Ia membenarkan bahwa hal tersebut buntut penurunan ekspor.

Dalam sebuah wawancara televisi pada Selasa (21/7), Menteri Perminyakan Irak Bassem Mohammed Khudair mengatakan pihaknya biasanya memasukkan antara US$7 miliar (sekitar Rp125 triliun) hingga US$8 miliar (sekitar Rp143 triliun) per bulan ke kas negara.

"Saat ini, tidak lebih dari US$1,5 miliar (sekitar 27 triliun).

Irak sangat bergantung pada ekspor minyak mentah, yang biasanya menyumbang sekitar 90 persen di pendapatannya.

Akibat gangguan pada Selat Hormuz, Irak mulai mengekspor minyak mentah menggunakan truk tangki melalui Suriah, setelah sebelumnya melanjutkan ekspor minyak dalam jumlah terbatas lewat pipa ke pelabuhan Ceyhan di Turki.

(blq/rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]