Stok Rudal AS Menipis, Trump Tunda Serangan Besar-besaran ke Iran
Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menunda rencana untuk mengeskalasi operasi militer secara besar-besaran terhadap Iran.
Seperti dilansir laporan The New York Times, penundaan ini diambil di tengah kekhawatiran menipisnya cadangan rudal pertahanan udara milik militer AS. Keputusan tersebut diambil usai Trump menggelar rapat terbatas bersama para penasihat senior dan pejabat kabinetnya.
Para pejabat militer memperingatkan bahwa operasi tempur berskala besar dapat menguras pasokan amunisi dan rudal pencegat Patriot secara mengkhawatirkan.
Padahal, amunisi tersebut sangat dibutuhkan untuk melindungi pasukan serta pangkalan militer AS yang tersebar di Yordania, Kuwait, Bahrain, dan Uni Emirat Arab (UEA).
Selain masalah amunisi, pemerintah AS khawatir eskalasi lanjutan dapat memicu aksi balas dendam yang lebih dahsyat dari Iran, merenggangkan hubungan dengan negara-negara sekutu di Teluk, serta memperburuk krisis energi dan pengungsi global.
Ketua Kepala Staf Gabungan AS, Jenderal Dan Caine, dilaporkan memberi tahu para pejabat bahwa operasi militer besar memang memungkinkan untuk dilakukan. Namun, hal itu akan menguras habis amunisi pertahanan udara yang dimiliki Komando Pusat militer AS.
Kekhawatiran Pentagon kian memuncak setelah tiga prajurit AS di Yordania tewas akibat rudal balistik Iran yang berhasil menembus sistem pertahanan udara AS dalam sebuah gelombang serangan rudal dan drone.
Mengutip perkiraan internal dan pejabat kongres, The New York Times melaporkan bahwa Pentagon telah menggunakan lebih dari 1.200 rudal pencegat Patriot selama konflik berlangsung, menyebabkan tingkat persediaan amunisi berada pada level yang mengkhawatirkan.
Sebelumnya, Trump sempat mempertimbangkan kampanye pengeboman bertahap yang mengincar radar pesisir Iran, peluncur rudal antikapal, kapal cepat, serta fasilitas lain yang terhubung dengan serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz.
Opsi serangan ke fasilitas energi, jembatan kereta api logistik militer, hingga situs nuklir Iran juga sempat masuk dalam pembahasan. Bahkan, Pentagon telah memindahkan lebih banyak pasukan, persenjataan, dan pasokan logistik ke Timur Tengah untuk bersiap menghadapi potensi eskalasi.
Kendati demikian, sejumlah pejabat mempertanyakan efektivitas kampanye pengeboman tersebut. Mereka meragukan apakah serangan udara mampu memaksa Teheran kembali ke meja perundingan, dan justru mengkhawatirkan hal itu akan semakin memperkuat soliditas internal Iran.
Para penasihat Trump kini mendesak sang presiden untuk tetap melanjutkan jalur negosiasi, mempertahankan blokade laut, serta meningkatkan tekanan ekonomi terhadap Teheran dalam jangka panjang.
(wiw)