Netanyahu Akan Bersaing dengan Eks Sekutu di Pemilu Israel, Terpojok?
Perdana Menteri Benjamin Netanyahu akan bersaing dengan mantan sekutunya sekaligus eks kepala militer Gadi Eisenkot dalam pemilihan umum (Pemilu) Israel, Oktober mendatang.
Persaingannya dengan Eisenkot pun disebut sejumlah pihak akan membuat Netanyahu terdesak. Pasalnya, elektabilitas Eisenkot terus naik jelang pemilu.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Eisenkot merupakan eks anggota kabinet perang yang dibentuk Netanyahu saat Israel meluncurkan agresi brutal di Jalur Gaza, Palestina.
Baru-baru ini, media Israel Chanel 12 merilis jajak pendapat yang menunjukkan partai baru bentukan Eisenkot, Yashar, lebih unggul dari partai Netanyahu, Likud, dengan perolehan 23 kursi dibanding 22 kursi.
Survei itu juga mengungkapkan 43 persen responden menganggap Eisenkot sebagai kandidat yang paling cocok untuk menjadi perdana menteri. Sementara itu, sebanyak 34 persen meyakini Netanyahu tetap di kursi PM.
Dalam kampanyenya, Eisenkot menjabarkan visi-misinya jika terpilih menjadi PM. Beberapa di antaranya memulihkan keamanan, persatuan, dan lembaga demokrasi Israel.
Sebagai Kepala Staf Militer Israel, Eisenkot dianggap berjasa mengembangkan "Doktrin Dahiya" yang meyakini Hizbullah menyembunyikan logistik dan senjata di rumah warga dan infrastruktur sipil. Doktrin ini turut menyerukan respons Israel yang dahsyat ke pusat-pusat populasi musuh.
Dia juga berjanji akan membentuk komisi penyelidikan atas serangan dadakan Hamas yang memicu agresi besar-besaran Israel ke perang Gaza.
Salah satu pilar utama kampanye Eisenkot adalah undang-undang wajib militer universal yang akan memperluas wajib militer untuk warga Yahudi ultra-Ortodoks dan warga negara Arab.
Tak cuma itu, Eisenkot berjanji melindungi independensi peradilan, supremasi hukum, hak-hak minoritas, dan kebebasan pers.
"Melalui langkah-langkah ini, kami akan memastikan bahwa Israel adalah negara Yahudi yang demokratis, kuat, maju, dan aman," demikian salah satu poin dalam kampanye dia, dikutip AFP.
Masuknya Eisenkot dalam dunia politik Israel telah menarik simpati publik setelah putranya, Gal, dan dua keponakannya tewas dalam pertempuran di Gaza.
Hal lain yang dinilai memicu perhatian publik Israel adalah Eisenkot bukan berasal dari keluarga elite, melainkan imigran Maroko dan dibesarkan di daerah pinggiran negara itu.
(bac) Add
as a preferred source on Google
[Gambas:Video CNN]


