Bertemu Trump, Netanyahu Mulai 'Kehilangan Muka' di Israel?
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu bertolak ke Amerika Serikat dan bertemu dengan Presiden Donald Trump di Oval Office pada Selasa (28/7).
Pertemuan langsung Netanyahu dan Trump itu terjadi saat Iran dan AS menghentikan sementara perang yang meletus kembali awal bulan ini. Ini juga pertemuan langsung pertama kedua pemimpin setelah AS dan Israel mengobarkan perang ke Iran pada Februari lalu.
Lihat Juga : |
Sejumlah pengamat menilai lawatan Netanyahu ini cerminan kegelisahan sang PM yang sebentar lagi akan mengikuti pemilihan umum (pemilu) pada Oktober mendatang.
Di samping itu, Netanyahu juga sedang menjalani persidangan atas tuduhan korupsi, yang sudah berjalan sejak beberapa waktu lalu.
Menurut para pengamat, Netanyahu ke Washington untuk menyegarkan kembali citranya sebagai pemimpin Israel yang paling dekat dengan AS dan para presidennya.
Selama ini, Netanyahu memoles citra sebagai pemimpin Israel yang memiliki hubungan karib dengan AS, baik secara politik maupun pribadi.
Netanyahu dikatakan telah menggunakan pemahamannya yang unik tentang politik AS untuk memikat dan membujuk sejumlah presiden agar tetap memberikan dukungan tanpa henti kepada Israel dan proyek-proyek politik pribadinya. Dukungan AS sendiri sangat penting bagi Israel.
"Alasan sebenarnya Netanyahu melakukan kunjungan ini murni karena kepentingan pribadi," kata Alon Pinkas, mantan duta besar dan konsul jenderal Israel di New York, kepada Al Jazeera.
"Dia mengeklaim terbang jauh-jauh ke AS untuk menghadiri upacara pemakaman teman baiknya [mendiang Senator Republik] Lindsey Graham ... Namun sebenarnya ini tentang dua hal: berharap untuk meyakinkan sekutu dan kritikus di Israel bahwa hubungannya dengan Trump tetap terjadi dan, secara terpisah, berharap bahwa Trump akan kembali menyerukan pengampunan baginya dalam persidangan korupsi," lanjut Pinkas.
Meski begitu, Netanyahu datang pada saat yang tidak tepat. Popularitasnya di AS sedang rendah-rendahnya, termasuk di mata Trump sendiri.
Beberapa waktu lalu, sejumlah media melaporkan bahwa Trump enggan melibatkan Netanyahu dalam pengambilan keputusan soal Iran karena tak lagi percaya padanya. Trump memilih membuat kesepakatan dengan Iran karena bujukan Netanyahu tidak terbukti benar.
Netanyahu dikabarkan membujuk Trump untuk menyerang Iran bersama-sama karena yakin rezim garis keras negara tersebut bakal runtuh. Pada faktanya, meski pemimpin tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei tewas, pemerintahan negara teokratis tersebut tetap berjalan, bahkan diwariskan ke putra Khamenei.
Di Kongres AS, sejumlah anggota parlemen juga mulai mengkritik sikap Netanyahu yang tampaknya menolerir tindakan brutal pemukim Israel, termasuk menahan secara ilegal seorang senator AS.
Wakil Presiden AS JD Vance juga mengkritik pemerintahan Israel dengan menyebut sejumlah tokoh di dalam pemerintahan Netanyahu berusaha menggagalkan kesepakatan yang sedang ia mediasi dengan Iran untuk mengakhiri perang.
"Netanyahu tiba di Washington pada saat banyak orang di sekitar [Trump] mencurigainya. Dia telah menjadi sosok yang dibenci di AS," kata Ahron Bregman, analis keamanan Israel dan dosen senior di Departemen Studi Perang King's College London.
"Di AS, dia dianggap sebagai orang yang menyeret Trump ke dalam perang pilihan yang telah berubah menjadi bencana strategis. Tidak seorang pun, bahkan Trump sekalipun, akan membiarkannya berpura-pura menjadi orang paling pintar di ruangan itu. Masa-masa itu telah berlalu," lanjut Bregman.
Mitchell Barak, ahli jajak pendapat Israel sekaligus mantan ajudan Netanyahu pada tahun 1990-an juga mengatakan bahwa kritik terhadap sang PM tidak terbatas pada tokoh-tokoh nasionalis AS saja, tetapi juga sekutu tradisional Israel di sayap kanan tengah.
"Kita telah melihat ketegangan melalui komentar Trump tentang berbagai penjualan F-35, termasuk yang terbaru ke Turki, serta kritik AS terhadap Netanyahu di awal perang Iran. Jadi saya tidak yakin apakah Trump akan terus mendukung Netanyahu untuk waktu yang lama," kata Barak.
Trump sempat menyiratkan hubungan panas dinginnya dengan Netanyahu saat ditanya wartawan soal penentangan Israel terhadap penjualan F-35 AS ke Turki.
Saat itu, ia menegaskan, "Tidak ada yang mendikte saya tentang apa yang seharusnya kami jual."
(blq/rds)