Negara Arab Ini Mulai Ikut-ikutan Bantu AS 'Perangi' Iran

CNN Indonesia
Kamis, 30 Jul 2026 05:30 WIB
US President Donald Trump and Crown Prince and Prime Minister of the Kingdom of Saudi Arabia Mohammed bin Salman walk down the Colonnade on the way to the Oval Office of the White House in Washington, DC on November 18, 2025. Saudi Crown Prince Moham
Setelah lima bulan mati-matian menghindari terseret perang Amerika Serikat vs Iran, negara Arab ini akhirnya ikut-ikutan juga. (Foto: AFP/BRENDAN SMIALOWSKI)
Daftar Isi
Jakarta, CNN Indonesia --

Setelah lima bulan mati-matian menghindari terseret perang Amerika Serikat vs IranArab Saudi akhirnya ikut-ikutan juga.

Pada Selasa (28/7) pagi waktu setempat, jet tempur Saudi, bersama pesawat Amerika Serikat (AS), melakukan serangan ke wilayah Irak timur. Ini adalah wilayah yang didiami kelompok milisi pro Iran.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Serangan Saudi terhadap milisi Irak ini diluncurkan setelah selama seminggu terakhir, Riyadh dihujani rudal dan pesawat nirawak oleh milisi Houthi di Yaman dan sekutu Iran di Irak.

Keputusan Saudi ini tentu saja mimpi buruk bagi kerajaan, yang selama bertahun-tahun memfokuskan diri pada investasi asing dan membangun Negeri Minyak sebagai kekuatan ekonomi regional.

Menurut analis CNN Tim Lister dan Nic Robertson, partisipasi Saudi dalam konflik Iran amat berisiko dan berpotensi menguras uang Saudi lebih banyak lagi.

Saudi menghadapi musuh yang tak terduga dan mahir dalam peperangan asimetris. Bukan hanya Irak dan Yaman, lawan Saudi sejatinya juga Iran.

Komando Pusat AS (CENTCOM) menyatakan operasi gabungan AS dan Saudi pada Selasa adalah "respons kuat" mereka terhadap lebih dari 30 serangan pesawat tak berawak yang dituduh diarahkan oleh Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC).

Meski serangan Iran nyaris tidak pernah menghantam langsung wilayah Saudi, beberapa serangan Teheran beberapa kali menargetkan pangkalan dan situs militer AS di Negeri Minyak. Salah satunya, pada 18 Juli lalu di kompleks petrokimia Jubail.

"Kerajaan menekankan bahwa pihaknya tidak mencari eskalasi tetapi akan menanggapi setiap agresi yang dihadapinya," demikian pernyataan Kementerian Pertahanan Saudi.

Kenapa Saudi akhirnya ikut campur konflik AS-Iran?

Menurut Lister dan Robertson, yang paling membuat Saudi habis kesabaran dan akhirnya ikut-ikutan dalam konflik AS vs Iran adalah aksi milisi pro-Iran di Irak.

Kelompok bersenjata tersebut melancarkan dua serangan drone yang menyasar infrastruktur penting Saudi dan Riyadh pada Senin dan Selasa.

Menurut Pasukan Mobilisasi Populer selaku kelompok payung milisi di Irak, "sejumlah orang" tewas dan terluka dalam serangan tersebut.

Dalam beberapa pekan pertama perang Iran, ratusan drone ditembakkan dari Irak ke arah fasilitas AS di Arab Saudi. Meski ada gencatan senjata, beberapa serangan berlanjut pada Mei.

Lister dan Robertson menyebut para pejabat Saudi tentu tidak akan melupakan serangan yang menghancurkan kilang Abqaiq pada 2019 lalu. Serangan itu melumpuhkan nyaris setengah dari produksi minyak Saudi.

Kelompok Houthi mengeklaim bertanggung jawab atas serangan itu. Namun, sumber intelijen mengatakan kepada CNN saat itu bahwa serangan kemungkinan besar berasal dari Irak.

Ketika itu, Saudi memilih tidak membalas. Saudi alih-alih menyalahkan Iran atas serangan tersebut.

Serangan Houthi

Analis Mohammed Al Basha juga menyimpulkan bahwa keputusan Saudi terlibat dalam konflik Iran yakni karena "semua batasnya telah dilanggar oleh Houthi".

Pada akhir pekan lalu, Houthi menembakkan rudal ke dua kompleks minyak Saudi di Jazan, pesisir Laut Merah. Citra satelit dan video geolokasi menunjukkan kerusakan parah pada salah satu fasilitas tersebut.

Serangan Houthi sebelum ini juga menghantam beberapa kapal tanker Saudi di Laut Merah. Kelompok itu menyatakan serangan tersebut diluncurkan karena kapal melanggar blokade yang ditetapkan mereka terhadap Saudi.

Menurut Lister dan Robertson, bagi Saudi, blokade Houthi di Laut Merah adalah eskalasi besar. Riyadh telah mengalihkan sebagian besar ekspor minyaknya ke Laut Merah karena Selat Hormuz masih lumpuh.

Alasan Houthi menyerang Saudi sendiri karena insiden di bandara ibu kota Sanaa pada 13 Juli lalu. Militer Irak yang didukung Saudi menyerang bandara di Sanaa untuk mencegah pesawat Iran mendarat di wilayah tersebut.

Houthi marah karena pesawat Iran itu membawa para pejabat Houthi yang sebelumnya pergi untuk menghadiri pemakaman mantan Pemimpin Tertinggi Iran Ayatollah Ali Khamenei. Houthi lantas menuduh Saudi dalang di balik serangan.

Kemampuan militer Saudi

Arab Saudi telah menghabiskan puluhan miliar dolar untuk memodernisasi militernya dan membeli sistem pertahanan rudal canggih.

Menurut Nawaf Obeid dari Departemen Studi Perang King's College London, posisi angkatan udara Saudi kini jauh lebih mampu daripada 10 tahun lalu dalam hal mendeteksi, melacak, dan menghadapi ancaman militer yang tersebar.

Angkatan udara Saudi disebut telah mengintegrasikan sistem sedemikian rupa sehingga "secara dramatis mempersingkat waktu antara deteksi dan penindakan."

Pada Maret dan April, Saudi berupaya keras untuk berinvestasi dalam teknologi anti-drone karena drone-drone Iran menargetkan instalasi minyak di pantai timurnya, serta terkenal dimanfaatkan Iran untuk perang asimetris.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky datang jauh-jauh mengunjungi Riyadh untuk menawarkan sistem pertahanan terpadu mereka yang telah sukses dipakai menangkal senjata Rusia.

Meski begitu, perangkat semacam ini tidak bisa dipasang dalam semalam.

(blq/rds) Add as a preferred
source on Google


[Gambas:Video CNN]