Ratusan Migran Maroko Berenang Menyeberang Laut ke Spanyol, 9 Tewas
Ratusan migran dari Maroko ramai-ramai menyeberang laut untuk memasuki wilayah Ceuta milik Spanyol secara ilegal pada Kamis (30/7). Insiden ini menewaskan sembilan orang.
Ceuta merupakan wilayah seluas 18,5 kilometer persegi milik Spanyol. Wilayah ini terletak di Pantai Utara Afrika dan dikelilingi daratan Maroko. Salah satu saksi mata mengatakan anak-anak hingga orang dewasa tampak basah kuyup saat memasuki Ceuta.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Polisi dan Garda Sipil di Ceuta juga tampak tak banyak melakukan intervensi saat menghadapi migran massal. Namun, beberapa petugas mencoba mengarahkan para pendatang ke pusat penerimaan migran setempat.
"Sungguh menyayat hati melihat begitu banyak orang menderita, dan siapa yang tahu berapa banyak yang sebenarnya tenggelam di sepanjang jalan," kata salah satu warga di Ceuta kepada AFP.
"Saat tiba, mereka dihadapkan kenyataan pahit bahwa mereka tak punya apapun, dan orang-orang memperlakukan mereka seolah bukan siapa-siapa," imbuh dia.
Penyeberangan kali ini menyebabkan sembilan orang tewas. Pihak berwenang di Ceuta mengatakan telah menemukan seluruh jenazah.
Sejumlah foto yang beredar di media dan media sosial menunjukkan orang ramai-ramai berada di perbatasan. Banyak orang juga terlihat berenang di laut.
Menanggapi kejadian ini, pihak berwenang Spanyol menyatakan akan mengirim pasukan tambahan untuk memastikan keamanan di Ceuta.
"Angkatan Bersenjata akan memperkuat Garda Sipil dalam menjalankan wewenangnya dan wewenang lain yang mungkin diperlukan untuk menjaga keamanan di kota Ceuta," demikian pernyataan Kementerian Dalam Negeri Spanyol, dikutip AFP.
Namun, pernyataan itu tak menyebut berapa tentara yang akan dikirim ke Ceuta. Di luar itu, Spanyol juga akan mengerahkan tim penyelam dan coast guard.
Ratusan migran Maroko yang berusaha masuk Ceuta itu juga membuat Perdana Menteri Spanyol Pedro Sanchez buka suara.
Sanchez menegaskan pemerintah akan fokus untuk memberikan respons segera terhadap krisis di Ceuta.
"Kami memobilisasi semua sumber daya yang diperlukan, bekerja sama dengan otoritas Maroko dan internasional, dan mempersiapkan langkah-langkah yang diperlukan untuk memulihkan keadaan normal sesegera mungkin," kata dia.
Migrasi dari Maroko ke dua wilayah Spanyol di Afrika Utara, Ceuta dan Melilla, sudah lama menjadi isu politik yang sensitif bagi kedua negara. Nyaris setiap hari, ribuan orang menyeberangi perbatasan.
Sejak memimpin Spanyol, Sanchez meluncurkan program Regularisasi Luar Biasa Warga Asing yang bisa mengubah status migran ilegal menjadi legal. Kebijakan ini cenderung melawan arus negara Uni Eropa yang justru memperketat aturan migran.
Program itu bertujuan menarik pekerja asing masuk ke pasar kerja resmi agar mereka bisa membayar pajak demi menopang sistem ekonomi dan dana pensiun Spanyol.
Kebijakan Spanyol itu menggiurkan warga Maroko untuk mendapat kehidupan lebih baik di tengah kesulitan ekonomi. Namun, pihak oposisi menilai kebijakan Sanchez berbahaya dan mengancam masa depan negara.

